Yamaha Vixion 150cc Lawas, Motor yang Menembus Dingin Magelang demi Sayuran yang Harus Habis Sebelum Siang

yamaha vixion

Yamaha Vixion 150cc lawas, kendaraan dengan performa yang luar biasa. Siap menerjang dinginnya Magelang-Jogja demi sayuran yang harus habis sebelum siang tiba.

***

Kalau sudah mendengar suara klakson dari ujung gang pada pagi hari, ibu saya biasanya sudah tahu siapa yang datang.

“Yur sayur, sayur e buuuu.”

Suara Mas Agus (35) melengking dari atas Yamaha Vixion 150 cc lawas miliknya. Mas Agus ini adalah salah satu bakul eyek langganan ibu saya di kampung. Ibu saya akrab memanggilnya Agus Eyek.

Di daerah Magelang dan sebagian Jawa Tengah, pedagang sayur keliling seperti Mas Agus biasa disebut bakul eyek. Istilah ini memang digunakan untuk menyebut pedagang sayur yang berkeliling dari kampung ke kampung. 

Berangkat jadi bakul eyek dari Muntilan

Mas Agus berasal dari Muntilan. Sudah lebih dari tujuh tahun ia menjadi bakul eyek, sejak sebelum pandemi, melewati masa ketika banyak orang mengurangi aktivitas di luar rumah, sampai sekarang.

Biasanya, belum sampai di depan rumah, beberapa ibu-ibu sudah keluar membawa tas belanja. Motor itu lantas berhenti, sementara krombong atau keranjang sayuran di bagian belakang mulai dikerubungi pembeli.

Rutinitasnya dimulai ketika kebanyakan orang masih pulas. Sekitar pukul 01.30 atau 02.00, ia berangkat menuju Pasar Muntilan untuk kulakan atau belanja. Setelah urusan belanja selesai, sekitar pukul 04.30 ia mulai melaju menuju wilayah Gamping, Sleman.

Dari sana, perjalanan belum selesai. Mas Agus masih harus berkeliling empat sampai lima kampung untuk menjajakan dagangannya.

Bukan ikut agen, semua diurus sendiri

Mas Agus tidak bergabung dengan agen sayur yang biasanya sudah menyediakan barang dagangan sekaligus kendaraan untuk pedagang. Ia memilih jalur mandiri. Sayuran dibeli sendiri, motor milik sendiri, bahkan krombong yang dipakai untuk membawa dagangan juga ia modifikasi sendiri.

“Kalau ambil sendiri kan bisa pilih sayuran yang mau dibawa, juga lebih ngirit,” kata Mas Agus ketika saya bertanya kenapa memilih kulakan sendiri di Pasar Muntilan.

Pasar tersebut menurutnya masih menawarkan harga yang masuk untuk pedagang sepertinya. Dari sana ia membawa berbagai kebutuhan dapur. Sayuran, bumbu, dan bahan masakan lain ditata di krombong motor agar bisa dibawa sekaligus.

Motor Vixion lawas itu akhirnya bukan sekadar kendaraan. Ia menjadi lapak, tempat membawa stok, sekaligus kendaraan untuk mengejar pelanggan.

Beban pekerjaannya juga bukan cuma soal mengangkut sayuran. Ada waktu yang harus dikejar. Mas Agus mengatakan terlambat sekitar setengah jam saja bisa membuatnya keduluan bakul eyek lain. Makanya, perjalanan dari pasar menuju wilayah jualan harus diperhitungkan.

Yamaha vixion 1500cc lawas dan persaingan setengah jam

Ada alasan kenapa saya kemudian memperhatikan motor yang dipakai Mas Agus. Di beberapa kampung sekitar tempat saya tinggal, bakul eyek memang cukup sering menggunakan motor laki-laki dengan krombong di belakang. Motor seperti itu bukan pemandangan asing ketika pagi mulai ramai.

Namun bagi Mas Agus, Vixion 150 cc lawas miliknya punya fungsi yang sangat konkret yakni membawa dagangan sebanyak mungkin dan mengantarnya sampai ke pelanggan.

Sekitar pukul 09.00, biasanya ia sudah tiba di kampung saya. Pada jam itulah suara khasnya mulai terdengar dari ujung gang.

“Yur sayur, sayur e buuuu.”

Ibu-ibu langsung merapat. Ada yang membeli cabai, bawang, kangkung, tahu, atau kebutuhan dapur lainnya. Mas Agus tinggal melayani satu per satu.

Kalau dipikir-pikir, Vixion tersebut sebenarnya sedang menjalankan fungsi yang cukup aneh, bukan mengantar seseorang menuju pasar, tetapi justru membawa pasar masuk ke gang-gang permukiman.

Dari jam dua pagi, bakul eyek bisa meraup untung Rp200–250 Ribu per hari

Pekerjaan itu memang terlihat sederhana ketika yang dilihat hanya beberapa menit saat Mas Agus berhenti di depan rumah. Padahal satu putaran dagangan dimulai sejak dini hari.

Dari pukul 02.00 hingga sekitar pukul 10.00 ketika ia mulai bersiap pulang ke Muntilan, ada sekitar delapan jam yang dihabiskan untuk kulakan, perjalanan, dan berjualan.

Saya kemudian penasaran dengan hasil dari perjalanan sepanjang itu.

“Kalau sehari biasanya dapat berapa, Mas?”

Mas Agus menyebut penghasilan bersihnya bisa sekitar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per hari. Yang menarik, dagangannya disebut hampir selalu habis.

Artinya, setiap pagi ia bukan cuma bertaruh dengan dinginnya jalan Muntilan menuju Gamping, tetapi juga dengan kemungkinan sayuran yang dibawanya tidak laku. Sayuran tidak bisa disimpan terlalu lama. Kalau terlalu banyak tersisa, keuntungan yang dikejar sejak dini hari bisa ikut berkurang.

Tetapi sampai sekarang ia masih menjalani pekerjaan tersebut. Bahkan ia sedang menabung untuk membeli pickup.

“Biar bisa bawa lebih banyak,” ujarnya.

Logikanya sederhana. Muatan lebih banyak berarti kesempatan menjual lebih banyak juga terbuka.

Kepikiran beralih dari yamaha vixion menuju pickup

Ada sesuatu yang menarik dari cerita Mas Agus. Ia sudah lebih dari tujuh tahun menjadi bakul eyek, tetapi rupanya Yamaha Vixion lawas itu belum menjadi tujuan akhir. Motor tersebut adalah kendaraan yang membantunya bertahan sekaligus mengembangkan dagangan.

Kini ia justru mengincar mobil pickup. Bukan untuk gaya-gayaan, bukan pula karena bosan dengan motor tua. Ia ingin membawa lebih banyak sayuran dan berharap keuntungan yang didapat juga ikut bertambah.

Perjalanan Mas Agus mungkin terlihat biasa bagi warga kampung. Setiap pagi ia datang, membunyikan klakson, lalu meneriakkan “sayur” dari atas motor. Ibu-ibu keluar, transaksi terjadi, dan beberapa menit kemudian ia kembali melanjutkan perjalanan.

Namun di balik rutinitas itu ada seorang bakul eyek yang memulai hari ketika sebagian besar orang bahkan belum berniat bangun. Dan ada sebuah Yamaha Vixion 150 cc lawas yang setiap pagi ikut bekerja dan mengantar rezeki pulang ke Muntilan.

Penulis:  Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version