Menjadi tukang antar galon isi ulang. Pekerjaan yang terdengar tidak bergengsi, tetapi justru memberi work-life balance sekaligus upah yang tidak kalah dari mereka yang kerja kantoran di kota-kota.
***
Pukul 07.00, setelah sarapan sekadarnya, Muklis (26) langsung memacu motornya ke desa sebelah, ke sebuah depot galon isi ulang milik saudaranya.
Pada jam yang sama, teman-teman sebayanya di kampung berpakaian rapi, bersepatu, untuk berangkat ke pabrik (pabrik tas maupun sepatu), atau berseragam biru-kuning-merah untuk shift di sebuah minimarket. Sementara di belahan kota lain: Kudus, Semarang, maupun Surabaya, teman-teman sebayanya dulu semasa SMA tengah menyibak kemacetan jalanan untuk menuju kantor masing-masing.
“Sebenarnya masa-masa setelah Covid-19 saya baru bekerja jadi tukang antar galon isi ulang. Waktu itu kebetulan saya udah nggak kerja lagi di Kudus, kena PHK lah. Kebetulan juga tukang antar galon sebelumnya juga nggak kerja. Jadi saya terima saja tawaran kerja dari saudara itu,” ucap Muklis, Minggu (4/10/2026).
Awalnya Muklis menggunakannya untuk mengisi waktu menganggur. Karena ia berpikir bakal bekerja keluar Rembang lagi. Namun, lama-lama ia justru merasa nyaman dan cukup dengan pekerjaan barunya tersebut.
Work-life balance ala tukang antar galon isi ulang
Muklis akan mulai benar-benar bekerja sejak pukul 07.30 WIB, dari mengisi galon-galon kosong hingga mengantarkannya ke para pelanggan yang memesan.
Depot milik saudaranya memang bisa dibilang besar. Punya banyak pelanggan pula, dari rumah tangga, pertokoan, pesantren, hingga kelompok nelayan.
Ia akan melakukan pekerjaan tersebut hingga pukul 17.00 sore, dengan satu jam waktu istirahat saat azan Zuhur berkumandang. Sementara harinya, sebenarnya tidak ada hari libur resmi karena Minggu tetap masuk. Artinya memang harus kerja seminggu penuh.
Hanya saja, jika sedang sakit atau keperluan mendesak, Muklis bisa mengajukan izin libur ke saudaranya, dan tentu saja dibolehkan tanpa pertanyaan ini-itu. “Tapi ya bukan berarti saya bisa seenak sendiri, walau saudara sendiri juga. Toh saya menikmati kok kerja jadi tukang antar galon isi ulang, meskipun terdengar nggak bergengsi,” beber Muklis.
Jika meminjam istilah yang tengah populer belakangan, Muklis menyebut pekerjaannya sangat mendukung untuk work-life balance. Bagaimana tidak, dari kasat mata saja, di jam-jam Zuhur ia bisa pulang sejenak untuk makan siang.
Pulang sore masih memungkinkannya untuk menjalani aktivitas di malam hari dengan leluasa: entah untuk ngopi, bersantai, maupun menjalani aktivitas bertetangga seperti tahlilan, melekan, maupun kegiatan sosial yang lain.
“Itu penting karena kalau pekerja pabrik, pulang udah kewer (capek), jarak rumah ke pabrik jauh. Pulang sore dari pabrik nyampe rumah malam. Kadang ada jam lembur atau shift malam,” kata Muklis. “Kalau yang kantoran, curhatan mereka kan seringnya masih bawa pekerjaan ke kosan.”
Dapat upah di atas standar umum tukang antar galon isi ulang, saingan sama pekerja pabrik dan kantoran
Saat mengecek ke beberapa sumber, standar upah untuk tukang antar galon isi ulang di kabupaten kecil seperti Rembang ada di angka Rp30 ribu bahkan Rp25 ribu perhari. Namun, beruntungnya, Muklis mendapat upah dengan standar berbeda.
“Karena saudara sendiri, dan karena depotnya gede, aku dapat Rp75 ribu sampai Rp100 ribu perhari. Umumnya Rp75 ribu, Rp100 ribu itu kalau dapat bonus,” ujar Muklis.
Namun, seturut pengakuan saudaranya, upah tersebut memang sudah menjadi standar. Tukang antar galon sebelum Muklis pun mendapat upah tidak jauh berbeda: Rp50 ribu sebagai standar harian dan Rp75 ribu jika ada bonusnya.
Upah yang Muklis terima nyata-nyata tidak jauh berbeda dengan para pekerja pabrik yang bekerja tidak kalah ngoyo, dengan jam yang sama, bahkan dengan jarak yang lebih jauh (karena ke pusat kota.
Upah rata-rata buruh pabrik di Rembang di bawah Rp3 juta. Sementara jika mengambil standar upah Muklis yang Rp75 ribu, ia sudah bisa mengantongi Rp2.250.000 perbulan.
“Yang aku heran, temanku yang kerja kantoran (swasta) di Kudus maupun Semarang, sama juga, rata-rata gaji perbulan mereka Rp2,5 jutaan. Itu jika dipotong kos, kan hasilnya sama-sama juga denganku. Itulah yang bikin aku nggak minder dan menikmati pekerjaan ini,” kata Muklis.
Tetapi ia menekankan, sekali lagi, bahwa ia cenderung beruntung karena bekerja dengan saudara sendiri dan kebetulan si saudara memasang standar upah yang tidak serendah depot-depot kebanyakan.
Kerja dekat rumah adalah senikmat-nikmatnya hidup
Dengan jam dan upah yang tidak jauh berbeda dengan mereka yang bekerja di kota lain, tidak pelak jika Muklis bisa menyebut pekerjaan dan hidupnya sudah sangat work-life balance. Sebab, dengan upah yang sama, ia tidak perlu jauh-jauh ke kota lain karena bisa kerja dekat rumah.
“Dekat rumah itu yang utama kan bukan rumahnya. Tetapi orang tua. Maksudku, aku udah nggak merasakan seperti sebelumnya, kangen tapi nggak bisa pulang. Takut kalau sewaktu-waktu satu dari dua orang tua dipanggil Tuhan sementara aku jauh di tempat lain,” ujar Muklis.
Oleh karena itu, setidaknya untuk saat ini ketika ia bisa setiap saat melihat orang tuanya, ia pun memuas-muaskannya. Bagi Muklis, ketenangan dari bisa melihat orang tua setiap saat itulah yang mahal, yang membuatnya merasa menemukan kehidupan. Tidak heran pula jika beberapa temannya yang kerja di luar kota kerap menyebut pekerjaan Muklis adalah pekerjaan idaman. Meski Muklis berkali-kali mengingatkan pentingnya sawang-sinawang.
Lebih-lebih, sejak awal orang tua Muklis memang sangat mendukung Muklis menerima tawaran saudaranya tersebut. Orang tuanya toh tidak mempermasalahkan pekerjaan sebagai tukang antar galon isi ulang yang bagi beberapa orang tua di desa terlihat sebagai pekerjaan rendahan.
“Keinginan orang tuaku, kalau bisa kerja dekat rumah, jenisnya apa saja dapatnya (upah) berapa saja, lebih baik kerja dekat rumah. Insyaallah kalau soal hidup dan kecukupan rezeki pasti dicukupi Allah. Begitu keyakinan orang tuaku. Tapi ya nggak menutup kemungkinan suatu saat aku nggak kerja jadi tukang galon lagi, tergantung situasi,” tutup Muklis.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Honda Supra X 100, Motor Tempurnya Tukang Galon yang Selalu Butut tapi Lebih Aman dan Kuat Angkat 8 Galon Sekali Jalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan