ADVERTISEMENT

Gabung Ormek Saat Kuliah Bukan Jaminan Dapat Banyak Relasi, Setelah Lulus Baru Terasa Penyesalannya

Nyesel ikut organisasi mahasiswa (ormek) karena iming-iming relasi, para seniornya aja nggak lulus-lulus kok ngomongin relasi MOJOK.CO

Janji manis “mendapat relasi” dengan gabung Ormek, nyatanya cuma menjadi omong kosong. Beberapa orang justru merasa bahwa organisasi ekstra cuma toksik, bahkan tak memberi andil apapun bagi mereka yang harus “perang” di dunia kerja setelah lulus kuliah.

***

Yeri (27) masih ingat betul doktrin yang selalu didengungkan saat masa orientasi mahasiswa baru beberapa tahun lalu. Kala itu, para senior dengan berapi-api menjanjikan bahwa bergabung dengan organisasi ekstra kampus (Ormek) adalah cara terbaik untuk membangun jejaring, yang kelak akan sangat berguna saat mencari kerja. 

Tergiur oleh iming-iming relasi luas itu, ditambah ajakan dari kakak tingkatnya, Yeri akhirnya memutuskan bergabung dengan salah satu Ormek “hijau” yang punya nama besar dan massa terbanyak di kampusnya kala itu.

“Selayaknya mahasiswa umumnya lah, jelas bangga masuk Ormek,” ujar lelaki yang bekerja di Sleman ini, Minggu (13/9/2026). 

Pada bulan-bulan pertama, janji itu terasa seolah akan menjadi kenyataan. Yeri merasa mendapatkan banyak hal yang tidak diajarkan di dalam kelas. 

Ia diajari cara menajamkan nalar kritis, berdebat, hingga menganalisis berbagai isu sosial. Lingkungan diskusinya sangat hidup. 

Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya semester, Yeri perlahan menyadari bahwa arah organisasi itu mulai melenceng dari idealisme yang sering mereka teriakkan.

Cuma jadi pion politik, tapi dilepeh setelahnya

Puncak kekecewaan Yeri terjadi pada momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 silam. Tanpa ada kompromi yang jelas, ia dan banyak kawan seangkatannya di Ormek tiba-tiba ditugasi menjadi tim media sosial bayangan, atau lebih tepatnya buzzer, untuk salah satu pasangan calon bupati. 

“Pasangan calon tersebut kebetulan adalah mantan kader senior yang dihormati di organisasi, nyalon lah gitu di salah satu kabupaten,” kata Yeri.

Yeri dipaksa memproduksi narasi, membuat tagar, dan meramaikan dukungan di media sosial tanpa sepeser pun bayaran. Semua tenaga dan pikirannya diperah habis-habisan di bawah embel-embel “loyalitas” dan “korsa”. 

Tragisnya, begitu Pilkada usai dan masa kuliahnya resmi tamat, janji tentang relasi luas yang diagungkan itu ternyata hanya isapan jempol belaka.

Saat Yeri harus bertarung sungguhan di bursa kerja, tak ada satu pun jejaring, alumni, atau senior Ormek yang turun tangan membantunya. Yeri harus pontang-panting mencari lowongan sendiri, mengirim puluhan lamaran, hingga akhirnya mendapat pekerjaan di Sleman murni atas usahanya dan keringatnya sendiri. 

Kata dia, Ormek yang dulu memeras tenaganya, “kini hanya menjadi memori masa lalu yang sangat berjarak”. Dan, yang paling ia rasakan, tak ada andil sedikit pun dalam karier kerjanya.

Bertahan di kultur Ormek yang amat toksik

Pengalaman yang tak kalah frustrasi dialami oleh Aini (27), yang juga kini bekerja di Sleman dan dulunya menempuh pendidikan di salah satu PTN di Jogja. 

Masuk dengan motivasi mencari jejaring yang sama persis dengan Yeri, Aini memutuskan untuk membagi waktunya dengan bergabung di sebuah Ormek sekaligus beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampusnya. 

Bedanya, jika Yeri masih sempat merasakan “manisnya” ilmu dan nalar kritis di awal masa bergabung, Aini justru merasa tidak mendapatkan apa-apa sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekretariat Ormek.

Aini bercerita, bukannya diajari keterampilan baru atau cara berpikir taktis untuk bertahan di dunia kerja, Aini malah langsung disuguhi kultur organisasi yang sangat beracun. Lingkungan Ormek tempatnya bernaung terasa sangat maskulin dan kental dengan nuansa senioritas yang memuakkan. 

“Yang paling parah itu, lingkungan Ormek luar biasa antikritik. Keputusan dan omongan para senior adalah hukum mutlak yang tak boleh sedikit pun didebat oleh para junior,” jelasnya, Minggu (13/9/2026).

Ironisnya, Aini tak berani langsung angkat kaki dari lingkaran tersebut. Ia merasa terjebak dan terpaksa bertahan bukan karena merasakan manfaat pengembangan diri, tetapi karena takut. 

Ia ngeri menghadapi tekanan sosial, pelabelan buruk, dan sanksi pengucilan dari teman-teman seangkatannya jika ia berani mundur di tengah jalan. Alhasil, hari-harinya di Ormek tak lebih dari rutinitas membuang waktu untuk rapat-rapat yang sama sekali tidak relevan dengan masa depannya.

UKM yang menyelamatkan life after graduate, bukan Ormek

Beruntung, Aini tidak menggantungkan nasibnya di Ormek saja. Selain “membuang waktu” di Ormek, ia juga aktif berdinamika di UKM Koperasi dan UKM Penelitian. 

Siapa sangka, di unit kegiatan yang sering dianggap kalah mentereng dan kurang heroik dibanding “Ormek pergerakan” inilah, Aini justru menemukan makna relasi yang sesungguhnya.

Kata Aini, beda dengan Ormek yang hanya sibuk menjual narasi politik dan menuntut ketaatan buta tanpa bekal keahlian, UKM benar-benar membekalinya dengan keterampilan teknis yang bisa langsung dipraktikkan. 

Bukti nyata dari manfaat UKM ini baru terasa ketika Aini resmi lulus. 

“Jadi ada momen setelah lulus itu cari kerja susahnya minta ampun, berbulan-bulan nganggur. Tapi untungnya diselamatkan sama jejaring yang dulu aku bangun di UKM,” kata dia.

Teman-teman lamanya di UKM silih berganti melempar tawaran pekerjaan freelance. Entah itu menjadi peneliti lepas untuk beberapa proyek, ada juga tawaran MC di berbagai acara luar kampus. Itu semua karena rekan-rekannya mengingat kemampuan komunikasinya saat mereka menangani acara bersama di UKM dulu.

“Pokoknya tiap butuh pemasukan, ada saja yang nawarin kerja,” jelasnya.

Pekerjaan-pekerjaan kecil inilah yang secara konsisten menghidupi Aini di tengah kerasnya masa menganggur, sesuatu yang sama sekali tak bisa diberikan oleh Ormek toksiknya. Puncaknya, pekerjaan kantoran di Sleman yang kini ia tekuni dengan nyaman juga merupakan hasil rekomendasi langsung dari salah satu kawan lamanya di jejaring UKM Penelitian.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Dominasi Ormek di Unair dan UINSA Surabaya Bikin Mahasiswa Muak, Bagi-Bagi Kursi Sampai Nilep Duit Organisasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version