Meski secara hukum Islam tahlilan tidak diwajibkan, tapi di tengah masyarakat sudah terlanjur mengakar menjadi keharusan. Masalahnya, tahlilan justru menjelma menjadi acara yang tidak empati terhadap perempuan (anak atau istri) yang sedang berduka.
***
Navia (26) berterima kasih kepada seorang warganet—sesama perempuan—yang belakangan speak up keresahannya terhadap tahlilan.
Sebagai orang yang tumbuh dalam kultur pesantren, Navia belajar bahwa orang yang datang takziah seharusnya memberi penghiburan bagi keluarga yang tengah berduka.
Beberapa ulama, lanjut Navia, bahkan menyebut, hiburan yang diberikan tidak hanya seputar dukungan moral-psikologis. Tapi juga berupa sumbangan: entah beras, uang, atau sejenisnya yang sekiranya bisa meringankan beban anggota keluarga yang baru saja ditinggalkan. Terutama jika yang meninggal adalah bapak atau suami sebagai figur utama pencari nafkah.
“Tapi yang terjadi di masyarakat kita kan nggak gitu. Alih-alih menghibur, mereka yang datang takziah, dan kemudian nanti berlanjut ke tahlilan, justru memberi beban baru ke kami, perempuan yang ditinggalkan,” ungkap Navia, Senin (20/6/2026).
Tidak ada ruang untuk berduka bagi perempuan
Ingatan Navia lekat saat bapaknya meninggal pada awal 2022 lalu. Navia dan ibunya tengah berusaha mencerna kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Sang ibu bahkan sampai pingsan berkali-kali.
Saat itu, Navia dan ibunya bahkan tidak kuasa melihat jasad lelaki kepala keluarga mereka yang sudah terbujur kaku berbuntal kafan.
“Ibu itu sampai gini, pingsan, sadar, pas lihat jasad ayah, pingsan lagi. Jadi aku bawa ke kamar. Kutemani. Kami masih coba sama-sama mencerna duka,” beber Navia.
Saat itu, Navia memang memasrahkan urusan pulasara jenazah ayahnya pada pamannya. Namun, meski begitu, beberapa kali kamar Navia diketuk oleh saudara (sama-sama perempuan).
“Ada tamu banyak, jangan di kamar aja,” begitu bisik si saudara. “Mewakili ibumu kalau ibumu nggak bisa.”
Sontak saja emosi Navia meletup. Di depan pintu kamar, ia bicara dengan nada tinggi bahwa ia dan ibunya butuh ruang barang sebentar saja. Alhasil, dengan pikiran dan perasaan yang berantakan, Navia harus meladeni satu persatu tamu yang datang.
“Maksudku kan bisa gitu dia (saudara) yang nerima tamu terlebih dulu,” ujar Navia.
Amplop kiai dan beban suguhan untuk tahlilan
Hanya saja, bagi Navia, ada situasi yang lebih mengganggu dari persoalan tersebut: yakni betapa tidak ada jeda bagi Navia dan ibunya untuk meleram duka karena tahlilan yang harus disegerakan.
Ayah Navia dimakamkan sekitar jam 10 pagi. Setelahnya, alih-alih bisa benar-benar punya ruang bagi dukanya, Navia dan ibunya harus berhadapan dengan pertanyaan dan hitung-hitungan: malam nanti mau memberi suguhan apa untuk acara tahlilan?
“Harus menghitung pula, biaya kami berapa buat menjamu tamu-tamu yang datang tahlilan nanti,” kata Navia.
Masalahnya, lingkungan Navia sudah kadung memposisikan tahlilan sebagai ritus wajib, meski hukum asalnya adalah sunnah. Maka seharusnya jika tidak mengadakan acara tahlilan berjemaah—karena keterbatasan ekonomi misalnya—maka tidak ada masalah secara syariat. Cukup tahlilan—mengirim doa-doa baik—bersama keluarga sendiri. Karena esensi tahlilan memang ada pada mendoakan almarhum.
“Tapi di masyarakat kita kan, kalau ada orang nggak bikin tahlilan, malah dikesankan aneh, bahkan kalau di lingkunganku dianggap agak sesat,” tuturnya. Maka, susah betul jika sebuah keluarga yang tengah berduka tidak hendak menggelar tahlilan.
Sekali bikin tahlilan, maka harus berurutan sebagaimana hitungan yang sudah dipakai di tengah masyarakat. Misalnya, 7 harian, 40 harian, 100 harian, hingga 1000 harian. Semuanya butuh biaya: untuk suguhan maupun amplop untuk kiai atau modin yang memimpin tahlilan.
Bagi Navian, di titik ini, takziah telah bergeser maknanya. Karena pada akhirnya, seluruh beban biaya tahlilan harus ditanggung sendiri oleh pihak keluarga yang berduka. Sementara jika mengadakan, maka akan ke sanksi sosial.
“Akhirnya apa? Ya antara dua: jual aset peninggalan bapak sama utang. Mau gimana lagi. Ya gimana-gimana selama ini tulang punggung keluarga kami ya bapak. Pas bapak nggak ada, kami punya apa?” ucap Navia getir.
“Mangkanya aku itu concern, sepertinya para pemuka agama, dari organisasi manapun, harus menekankan bahwa tahlilan itu bukan wajib. Pelan-pelan dari situ bisa mengubah cara pandang masyarakat,” tutupnya.
Lelah fisik dan mental yang diabaikan
Keresahan serupa juga dituturkan oleh Wafiq (24), perempuan asal Jawa Tengah.
Lelah fisik dan mental. Dua kata itulah yang bisa menggambarkan situasi perempuan saat ditinggal meninggal dan harus berhadapan dengan hukum sosial tahlilan.
Ketika sang ayah meninggal setahun yang lalu, sejak hari pertama hingga ketujuh, ia dan ibunya harus sibuk berjibaku di dapur. Belanja, memasak, menata suguhan, hingga nantinya beres-beres rumah.
“Karena dapur dan printilannya kan sudah diasosiasikan sebagai tugas perempuan. Sebenarnya memang ada rewang dari saudara atau tetangga. Tapi gimana-gimana, aku dan ibu sebagai tuan rumah kan harus terlibat penuh pada akhirnya,” keluh Wafiq.
Tujuh hari berturut-turut Wafiq dan ibunya harus berkutat di dapur. Kalau malam, masih harus bergadang untuk menjamu tamu dari kalangan ibu-ibu dan membereskan piring bekas makanan dan sampah-sampah berserakan bekas tahlilan.
“Aku relate ketika di medsos ada yang bilang, setelah tahlilan, karena bapak-bapak masih ngumpul, nggak pandang bulu menuntut agar kebutuhan mereka seperti kopi agar dihidangkan. Ya nggak pandang bulu, aku atau ibuku sebagai orang yang baru saja berduka, nggak luput diperintah-perintah buat bikin kopi atau menyediakan makan malam tambahan,” jelas Wafiq.
Wafiq malah merasa, perasaan duka menjadi kondisi yang diabaikan begitu saja. Narasi yang digembar-gemborkan selalu soal mengikhlaskan. Padahal meleram duka itu butuh waktu.
Alhasil, yang terjadi tidak hanya lelah fisik karena kesibukan (misalnya) selama 7 hari beruntun menggelar acara tahlilan. Tapi juga menyerang mental karena sudah berduka eh malah ditimpa banyak beban sosial.
Beban ekspektasi yang toksik dan memuakkan
Belum lagi beban ekspektasi. Di lingkungan Wafiq, pihak keluarga yang berduka juga harus berhadapan dengan beban ekspektasi yang toksik dan memuakkan.
Orang-orang yang datang untuk tahlilan, kata Wafiq, menaruh ekspektasi perihal suguhan dan isian dalam berkatan.
Wafiq memang tidak mengalami. Tapi ia mengaku beberapa kali mendapati: ketika ada orang yang hanya bisa memberi suguhan atau berkatan tahlilan sekadarnya, ujung-ujungnya malah akan dipaido (dicerca). Bahkan juga bisa dianggap terlalu pelit dan tidak menghargai tamu.
“Di tempatku masih umum loh, punya ekspektasi kalau berkatan di hari ketujuh itu nanti isinya ada amplopnya. Ada amplopnya pun masih dipaido, misalnya cuma nominal kecil,” ungkap Wafiq.
Wafiq hanya bisa geleng-geleng kepala mendapati kenyataan tersebut, sampai akhirnya belakangan banyak perempuan yang mulai berani speak up. Karena memang, menurutnya, tahlilan harus dikembalikan pada esensinya sebagai ketentuan syariat, bukan malah menjadi beban sosial.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
