Generasi muda diikuti berbagai dilema. Ingin memiliki tabungan untuk masa depan, tapi juga dihadapkan pada kesulitan untuk mengikuti tuntutan gaya hidup (lifestyle). Generasi Z (gen Z) mengambil jalan tengah dengan melakukan soft saving di persimpangan ini.
***
Sebelumnya Mojok pernah menuliskan artikel mengenai mahasiswa Jogja yang kesulitan untuk mempunyai tabungan. Dengan status mahasiswa, mereka yang berada di rentang usia 20-an merasa belum mampu untuk menyisihkan uang untuk disimpan dalam jumlah besar.
Jangankan itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan makan saja, masih harus irit. Mereka juga harus berusaha bertahan hidup dari hari ke hari dengan uang saku bulanan yang tidak seberapa.
Karena itu, generasi Z mengaku tidak muluk-muluk soal mempunyai tabungan. Asalkan sudah berusaha untuk menyisihkan, itu sudah masuk perhitungan “usaha” menabung.
Soft saving, menabung seadanya ala gen Z
Soft saving merupakan pendekatan yang digunakan terhadap proses ini. Alih-alih memastikan sebagian uang ditabung, gen Z memastikan mereka sudah menabung.
Mereka tidak secara agresif menyisihkan sebagian besar uang, melainkan berusaha sambil tetap menikmati kehidupan masa muda.
Dalam istilah lain, soft saving dapat dikatakan sebagai pendekatan yang lebih “lembut” terhadap tabungan. Porsi tabungan boleh lebih kecil dibanding versi konvensional, sebab bagian besarnya digunakan untuk memenuhi gaya hidup.
Sifat santai dan fleksibel dari konsep ini membuat soft saving lebih realistis dan mudah untuk dilakukan, termasuk oleh gen Z. Konsep ini juga membantu untuk setidaknya membuat gen Z belajar konsisten dalam menyisihkan sebagian uangnya tanpa merasa tertekan, meski hanya dalam besaran yang tak seberapa.
Selain itu, mengingat generasi muda yang memiliki berbagai tuntutan gaya hidup, soft saving memungkinkan mereka untuk tetap hidup “seimbang” dengan mencicipi gaya hidup yang masih bisa dibiayai. Bukannya berhenti, sebab harus menyimpan uang mereka.
Inilah yang dilakukan Lisa (24) yang tidak memaksakan diri dalam menabung. Perempuan yang masih berstatus sebagai mahasiswa ini memilih untuk menyisihkan sebagian kecil uang saku yang diterima setiap bulannya.
Ia tidak menentukan nominal, tetapi tetap memastikan ada uang yang ditambahkan ke dalam tabungan setiap bulannya. Maka bisa dikatakan, Lisa tidak mengikuti pakem idealnya tabungan sebesar 10-20 persen dari uang yang diterimanya.
“Nggak nentuin harus berapa, tapi harus aja ada saving,” kata Lisa kepada Mojok, Rabu (25/3/2026).
“Rp50 sampai Rp100 ribu lah, lebih dari itu belum,” kata dia menambahkan.
Menabung dalam jumlah besar terasa beban
Alasan Lisa tidak memaksakan diri dalam menabung dengan jumlah besar, salah satunya dikarenakan dirinya mempercayai kalau hal ini tidak harus dilakukan secara masif.
Bisa dikatakan, Lisa mempercayai peribahasa yang berbunyi, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”.
“Dikit-dikit aja, lama-lama jadi bukit,” kata Lisa.
Menurutnya, menabung secara sedikit demi sedikit terasa lebih masuk akal. Sementara itu, mengharuskan diri untuk menabung besar-besaran justru menimbulkan perasaan terbebani.
“Aku cukup sulit saving, jadi dikit-dikit aja. Kalau langsung banyak beban rasanya,” akunya.
Gen Z masih ingin membahagiakan diri lebih dulu
Hal serupa juga dialami Meidiana (24) yang mengaku tidak konsisten dalam menabung. Bahkan, dirinya terkadang melewatkan untuk menyimpan sebagian uangnya dalam momen tertentu.
Alasannya, Meidiana menilai gen Z sepertinya masih berada dalam masa ingin membahagiakan diri sendiri atas nama “pengalaman”. Gen Z seakan-akan masih haus untuk mencoba segala sesuatu untuk menikmati masa mudanya.
Hal ini sejalan dengan konsep soft saving yang menyadari perlunya gen Z untuk mencapai target jangka pendek mereka, seperti melakoni kegiatan sosial sampai hobi yang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
“Karena kita lagi di masa-masa mau membahagiakan diri atas nama ‘nyari pengalaman’, nyobain ini itu sama teman-teman. Semua ajakan nongkrong diiyain,” katanya kepada Mojok, Rabu (25/3/2026).
Meidiana bahkan mengaku, belum terpikir untuk mempunyai tabungan jangka panjang. Ia merasa, dalam fase awal kariernya ini, ingin merasakan pengalaman membeli berbagai hal dengan uang sendiri.
“Di fase early career tuh wajar kok mau spend sana sini karena pengin ngerasain pride beli barang pakai duit sendiri,” katanya.
Namun demikian, ia tetap menyisihkan sebagian dari penghasilannya sebisa mungkin untuk ditabung. Tabungan tersebut selalu disisihkan dalam nominal yang sama, terkecuali ketika ada urgensi lain yang membuatnya harus mengeluarkan uang lebih.
Dalam kasus khusus itu, Meidiana mau tak mau merelakan arus keuangannya terhambat. “Aku biasanya sisih sekian juta, angkanya sama tiap bulan. Nah, tapi sekarang lumayan kehambat karena aku lagi ada urgent,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
