Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Agustus 2026
A A
Nggak Perlu Lari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental. MOJOK.CO

ilustrasi - slow jogging, lari santai sambil tersenyum ala Jepang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah tren olahraga kalcer seperti padel, HYROX, pilates, yoga eksklusif, golf, dan gym, slow jogging atau niko-niko dapat menjadi opsi menarik karena biayanya murah. Metode lari santai asal Jepang ini tidak perlu sewa tempat atau outfit yang mahal. 

Dalam bahasa Jepang, niko-niko sendiri artinya tersenyum. Istilah ini diperkenalkan oleh Profesor di Universitas Fukuoka, Hiroaki Tanaka untuk menggambarkan olahraga slow jogging dengan kecepatan sangat lambat, yakni 3 sampai 5 kilometer per jam dengan langkah pendek. 

Iklan

Dengan begitu, orang yang melakukannya masih bisa tersenyum, berbicara tanpa terengah-engah, bernapas dengan mudah, fokus pada ritme napas sambil menikmati suasana sekitar. Oleh karena itu, slow jogging dapat menjadi momen relaksasi.

Seperti yang dirasakan Muhammad Rifa Febrian (22) yang menjadikan lari sebagai obat patah hati di tahun 2024. Salah satu alasannya dia ditolak oleh pasangannya adalah karena penampilannya dinilai terlalu gemuk.

Oleh karena itu, dia jadi terpacu untuk menurunkan berat badan dengan lari.

“Dulu, berat badanku pernah mencapai 94 kilogram dengan tinggi 171 sentimeter. Sekarang alhamdulillah sudah 68 kilogram,” kata Rifa.

Slow jogging sebagai upaya menjaga kesehatan mental

Pakar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Muttaqin tak menampik jika slow jogging dilakukan dengan durasi lama dan rutin, maka pembakaran lemak di tubuh bisa terjadi.

“Jadi pembakaran lemak itu memang olahraga yang intensitasnya ringan tapi lama,” ujar Zainal dikutip dari laman resmi UGM, Senin (3/8/2026).

Slow jogging, kata dia, juga bermanfaat untuk kesehatan mental. Olahraga ini mampu mengaktifkan saraf otak ke vagus nerve atau wandering nerve, yang berfungsi sebagai “kabel kasih sayang” atau compassion. 

Zainal menjelaskan saraf tersebut menyeimbangkan sistem fight or flight dan rest and digest yang membuat seseorang menjadi lebih tenang dan ceria. Slow jogging yang dilakukan bersama teman-teman, kata Zainal, juga bisa membangun co-regulation yang mengatur sistem dalam tubuh. 

“Orang dengan badan yang segar karena melakukan olahraga biasanya tidak gampang marah, tidak gampang depresi, tidak gampang sedih ya, jadi akan semangat,” tegasnya.

Slow jogging sebagai investasi kesehatan jangka panjang

Lebih dari obat patah hati, lari sejatinya adalah investasi bagi kesehatan jangka panjang. Zainal menjelaskan slow jogging akan mendorong jantung bekerja lebih kuat, sehingga mampu melancarkan aliran darah sampai ke jaringan kulit luar yang dapat mendukung kesehatan kulit. 

Dosen pengajar Program Studi Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Unair, Martha Kurnia juga menjelaskan slow jogging menunda penyakit pembunuh nomor 1 di dunia seperti jantung dan stroke. 

Penyakit-penyakit tersebut umumnya terjadi karena adanya penyempitan pada pembuluh darah. Oleh karena itu, olahraga ini sangat dianjurkan. Namun pelari sarankan untuk tetap mengukur denyut jantung. Denyut jantung yang baik, kata dia, maksimal adalah 220 dikurangi usia.

Iklan

“Misalnya, maksimum denyut jantungnya 200. Nanti setelah maksimum ada target heart rate dan berguna untuk mengukur intensitas sedang atau tinggi sekitar 60 persen. 60 persen dari 200 ketemu 120. Jadi setidaknya harus berlari sampai 120,” jelas Martha dikutip dari laman resmi Unair, Senin (3/8/2026).

Persiapan tanpa mengeluarkan energi dan biaya berlebih

 Zainal Muttaqin menegaskan bahwa ritme napas penting diperhatikan saat slow jogging. Jika terengah-engah, kata dia, artinya olahraga tersebut sudah berlebihan dan justru membuat tubuh kelelahan. 

“Oleh karena itu, seharusnya dilakukan 30-45 menit untuk sekali latihan dengan frekuensi 3-5 sekali dalam seminggu,” kata Zainal.

Untuk mencegah tubuh mengalami panas yang berlebih, pelari dapat minum air 2 sampai 3 jam sebelum olahraga. Lalu, minum lagi 30 menit sebelum mulai, dan dianjurkan minum setiap 15 menit saat beraktivitas.

Perhatikan juga pola tidur sebelum melakukan aktivitas fisik. Pastikan waktu tidur cukup agar tubuh siap menerima beban latihan. Lakukan pemanasan supaya distribusi darah lancar dan melenturkan otot guna menghindari kram hingga cedera. 

Zainal mengingatkan untuk tidak memaksakan diri melakukan gerakan berlebih dengan memulai dari durasi pendek khususnya bagi pemula. Misal, 5-10 menit sebelum kemudian terus ditingkatkan. 

“Siapa pun yang baru olahraga itu mohon kendalikan emosi, jangan ngoyo dan harus bertahap step by step,” tegasnya.

Selain kondisi tubuh, pelari juga harus memperhatikan perlengkapan slow jogging seperti pakaian atau sepatu yang digunakan. Misalnya, sepatu tidak perlu mahal yang penting layak untuk melindungi lutut serta sendi panggul dari dampak benturan telapak kaki. 

Pada akhirnya, slow jogging bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa biaya mahal. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Tags: beda slow joggingcara slow joggingjogging santailari santaimanfaat lariniko-nikoslow joggingtren lari
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Pelari kalcer, fenomena olahraga lari
Urban

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

jadi bridesmaid usai cut off di pernikahan mantan sahabat. MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
cut off pertemanan. MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

3 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.