Skill yang dimiliki bapak-bapak—terutama di desa—sejatinya sangat berguna sebagai bekal hidup anak-anaknya. Sayangnya, karena kekhawatiran menjadi pekerja kasar seperti bapak, akhirnya ragam skill tersebut sengaja tidak ditularkan atau sengaja tidak dipelajari, padahal ternyata sangat dibutuhkan.
***
Anak si montir bengkel langganan baru saja pulang sekolah saat motor motor adik saya tengah dibongkar. Sejak Senin (14/9/2026) pagi saya membawa motor adik saya ke bengkel langganan di Rembang, Jawa Tengah. Di situlah kami menyaksikan bagaimana seorang bapak tidak segan mementori sang anak dalam urusan perbengkelan.
Belum lama anak si montir ganti seragam dan memiringkan hp, si montir langsung menyuruh anaknya (yang masih SMP) untuk melanjutkan pekerjaan sang bapak mengotak-atik motor. Si montir tidak sedang hendak melakukan aktivitas lain, ia justru hanya memantau pekerjaan sang anak. Sesekali membetulkan kalau ada yang tidak tepat.
“Sebenarnya masih dasar-dasar saja. Tapi dia harus dibiasakan (ikut menangani motor di bengkel). Minimal dia merasakan beginilah pekerjaan bapaknya, maksimal dia tumbuh nggak lembek, siap sama hidup yang keras,” ujarnya, raut wajahnya bercanda tapi nadanya serius.
Si montir sadar belaka kalau jenis pekerjaannya adalah pekerjaan kasar. Ia juga sepenuhnya sadar bahwa ada skill hidup yang lebih relevan dan harus dikuasai anak zaman sekarang—seperti penguasaan teknologi.
“Tapi sebagai laki-laki, dia (anakku) harus punya skill kasar, minimal bengkel. Sehingga nanti kalau dia dewasa, dia ngerti caranya benerin motor sendiri. Kalau motor istrinya rusak, dia tahu harus berbuat apa,” tekannya, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Pemandangan itu tidak pelak membuat saya “iri” karena selama ini Bapak saya cenderung enggan menularkan skill yang ia miliki ke anak, karena tidak mau anaknya menjadi pekerja kasar.
Pertukangan: skill kasar yang bikin saya menyesal karena bapak tidak menularkan
Sejak kecil saya begitu akrab dengan pertukangan. Keluarga bapak saya adalah keluarga tukang. Paman saya bahkan punya bengkel kayu di halaman rumahnya. Karena itu, perabotan di rumah kami pun akhirnya lebih banyak diisi hasil olahan kayu yang tidak lain adalah hasil karya paman atau bapak sendiri.
Dulu, di masa SMA, ada masanya saya sangat ingin belajar menukang. Saat itu saya sudah separuh jalan di pesantren. Saya membayangkan, seandainya saya menguasai skill pertukangan, ah betapa saya akan sangat berguna di lingkungan pesantren. Kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan pertukangan, saya lah orang yang bisa diandalkan.
Namun, bapak saya justru tidak ingin saya menceburkan diri ke pertukangan. “Kamu bapak sekolahkan biar nggak jadi tukang kok malah mau belajar nukang,” begitu kata bapak. “Kalau bisa kelak jangan kerja yang kasar-kasar.”
Cara mikir bapak sesederhana: kalau bapak sudah jadi tukang, ya masa anaknya jadi tukang juga. Padahal yang saya butuhkan adalah skill kasarnya.
Saya akhirnya memang tidak mempelajari ilmu pertukangan. Dan itu menjadi part hidup yang saat ini begitu saya sesali ketika kini akhirnya menjadi laki-laki (menuju) dewasa.
Saat ini mungkin saya bisa mengejar karier dengan skill lain yang lebih relevan. Bukannya tidak bersyukur. Namun, saya merasa, alangkah lebih paripurna saya sebagai laki-laki kalau punya skill yang bapak kuasai itu.
Karena dengan skill itu, saya bisa sewaktu-waktu membuat perabotan rumah sendiri, tidak harus beli. Kalau ada bagian rumah kontrakan yang rusak, saya bisa mengatasinya sendiri tanpa harus memanggil tukang lagi.
Skill otodidak dan serba bisa: kasar bagi bapak, padahal penting untuk bertahan hidup
Tidak jauh berbeda, Imran (27) juga mencurahkan keresahan yang sama. Ia mengaku menyesal karena dulu cenderung memandang sebelah mata pekerjaan sang bapak sebagai kuli serabutan.
Setelah lulus kuliah, Imran memang menjadi pekerja kantor di Sidoarjo, Jawa Timur. Urusannya dengan laptop, bukan perkakas perkulian sebagaimana bapaknya di Tuban, Jawa Timur.
Namun, setelah berumah tangga (menjadi suami dan kemudian bapak), Imran menyesali ketidakmampuannya karena merasa tidak punya banyak skill hidup sebagai laki-laki dewasa.
“Sekarang kan banyak konten di media sosial: Day 1 menjadi laki-laki berguna. Begitu-begitu lah. Nah, yang diperlihatkan itu skill-skill yang bapakku kuasai tapi dulu nggak kupelajari,” ujar Imran.
Bapak Imran adalah sosok bapak serba bisa. Hanya berbekal otodidak, selain nguli, Bapak Imran bisa membetulkan listrik yang korslet, membereskan pipa air, dan punya banyak akal untuk mengatasi kerusakan-kerusakan di rumah.
“Kran air bocor, tahu harus melakukan apa. Kompor nggak nyala, tahu harus diapakan. Sanyo nggak nyala, nemu aja caranya buat benerin. Nah, aku menyesal nggak punya skill kayak bapak karena terkesan jadi laki-laki nggak berguna,” ucap Imran, karena kepalang dulu menganggapnya sebagai pekerjaan kasar semata.
Dikenal serba bisa membuat Bapak Imran punya relasi sosial yang baik dengan tetangga maupun saudara. Sebab, Bapak Imran kerap dimintai tolong untuk membantu membereskan kerusakan, akhirnya orang lain pun membalas bersikap baik pula ke Bapak Imran.
Sementara dalam kasus Imran, ia saja gagap kalau menghadapi masalah di rumah sendiri, apalagi jika berurusan dengan permintaan bantuan orang lain. Begitu yang Imran akui.
Bertani bukan skill orang desa belaka
Sementara Apri (20), mahasiswa asal Tangerang yang kuliah di Jogja, mengaku menyesal karena tidak menekuni ilmu bertani dari Bapaknya. Dulu, ia menganggap aktivitas bapaknya mengurus kebun sebagai pekerjaan biasa yang tidak banyak hubungannya dengan kehidupan anak muda sepertinya. Apalagi zaman terus melaju kedepan, yang seolah meninggalkan pertanian jauh di belakang.
Namun, semakin jauh ia berkuliah dan semakin sering melihat bagaimana kehidupan berjalan di luar rumah, Apri justru mulai menyadari bahwa pengetahuan yang dimiliki Bapaknya bukan sesuatu yang sederhana.
“Aku kan membaca dan melihat di YouTube, ada banyak petani yang bisa berdaya, swasembada pangan, bahkan bisa memberdayakan masyarakat setempat. Aku jadi menyesal dulu nggak belajar dari Bapak lebih dalam soal bertani dan berkebun,” ujar Apri.
Apri selalu membayangkan bisa hidup seperti itu: Tanpa ada tuntutan ke kantor dan tekanan kapital. Tapi cukup dengan mengurus kebun, merawat tanaman. Dari situlah sumber pangannya berasal.
“Dulu anak muda angkat cangkul di ladang itu kayak nggak punya masa depan, kayak skill orang desa yang hidupnya ya udah gitu-gitu aja. Baru sekarang sadar, justru skill di ladang itu penting buat hidup mandiri,” tutup Apri. “Maksudnya kalau sumber pangan bisa dihasilkan sendiri, kan akhirnya nggak perlu terlalu konsumtif.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
