Rasa-rasanya ada salah kaprah di kalangan pemuda desa dalam menangkap hobi modifikasi motor. Modifikasi yang seharusnya menambah “keunikan” motor justru membuat motor tidak ubahnya seperti rongsokan dan tentu saja menguras uang.
***
Ada perasaan jengkel luar biasa ketika Nurin (26) mendapati motor adik iparnya masuk bengkel untuk yang kesekian kali. Ada kerusakan yang harus diperbaiki. Senyampang itu, pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, itu juga mengaku sumpek luar biasa karena mendengar bapak mertuanya terus ngedumel dongkol karena ulah anak bungsunya.
Kerusakan motor adik ipar Nurin—yang terjadi berulang kali—itu tidak lepas dari hobi sang adik ipar membongkar-bongkar motor: modifikasi. Masalahnya, karena si adik ipar masih SMK (belum bekerja sendiri), biaya sepenuhnya ditanggung oleh bapaknya. Saat modif juga pakai uang saku dari bapak. Saat harus perbaikan ke bengkel pun minta lagi tambahan uang dari bapak.
Modifikasi motor agar tidak dicap cupu
Saat hendak membeli motor baru, Nurin sudah mewanti-wanti betul agar si adik ipar membeli motor yang memang untuk mobilitas. Bapaknya pun menyanggupi: tak masalah beli motor baru (bukan bekas), yang penting nanti dibiarkan utuh apa adanya.
“Kalau aku, sebagai orang dengan pikiran waras, jelas milih motor baru. Apalagi sekarang banyak keluaran terbaru dari beragam merek. Toh bapak menyanggupi. Tapi adik iparku ini sejak awal sudah punya orientasi: memang niat beli motor bekas biar bisa buat modif,” ujar Nurin sambat, Selasa (15/9/2026) malam. “Dan beli motor yang tidak dipikir fungsinya mobilitasnya, tapi potensi bongkar-pasangnya.”
Lebih-lebih, sang adik punya rekam jejak pernah melakukan modifikasi motor milik sang bapak sebelumnya, motor Honda Absolute Revo yang memang digunakan bergantian dengan si adik ipar. Hasilnya, wujud motor tersebut menjadi tidak karu-karuan.
Bapak mertua Nurin sudah sangat kesal dengan hal tersebut. Namun, di pembelian yang kedua, si bapak mertua mengaku sudah memegang komitmen bahwa mau bekas atau tidak, yang jelas motor tersebut akan dijaga. Hingga terbelilah motor Honda CB100 bekas.
“Dia cuma bilang dijaga. Bukan bilang nggak modif,” kata Nurin. “Artinya bapak mertuaku terkecoh hahaha.”
Si adik ipar beberapa kali bilang ke Nurin bahwa modifikasi motor adalah simbol “kegagahan”. “Biar nggak dianggap cupu, harus berani modif motor,” begitu kata si adik ipar.
Salah kaprah pemuda desa soal modifikasi motor
Kata Nurin, adik iparnya tentu bukan satu-satunya pemuda desa yang hobi modif motor. Di kecamatan Nurin, tidak sedikit pemuda desa yang memang gagah-gagahan soal otak-atik kendaraan.
“Adik iparku milih Honda CB100 karena memang ada kopdarnya. Dan yang kopdar-kopdar itu ya hasil modif-modif,” jelas Nurin.
Bagi Nurin, sepertinya ada salah kaprah pemuda desa dalam memahami dunia permodifan. Sebab, jika mengikuti kreator konten Ibu Kota atau skena permodifan motor di kawasan urban, hobi modif motor dilakukan oleh orang-orang yang memang sudah mapan secara finansial.
Dengan begitu, mereka punya spend uang yang memang dikhususkan untuk modifikasi dan merawat motornya.
“Sementara kalau di desaku, pemuda-pemuda desa yang hobi modif kan dua kalangan. Satu siswa. Artinya uang masih minta orang tua. Dua, pekerja pabrik dan serabutan berupah pas-pasan. Buat ngurus motor terus, upahnya ya ludes lah,” beber Nurin.
Modif motor bikin kuda besi jadi unik dan tetap punya nilai, bukan asal bongkar-pasang
Salah kaprah berikutnya di mata Nurin adalah: rasa-rasanya banyak pemuda desa yang tidak memahami bahwa modifikasi adalah seni, bukan semata bongkar-pasang mesin dan sparepart kendaraan.
Itulah kenapa, kalau diperhatikan di kalangan kreator konten maupun skena modif urban, uang puluhan juta yang digelontorkan tidak lain untuk membuat motor menjadi tampak keren tapi tetap punya nilai. Baik nilai filosofis maupun nilai jual (kalau dijual lagi masih laku dengan harga lumayan). Artinya ada konsep yang terukur dalam melakukan modifikasi.
Misalnya, Mojok pernah meliput orang-orang yang menggelontorkan puluhan juta untuk memodifikasi motor Yamaha Fazzio mereka dalam tulisan “Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat” dan “Ahli Mekanik Vespa Coba Modifikasi Fazzio Kuning Bermotif Bebek dengan Modal Rp4 Juta, Berbuah Senyuman Anak dan Penghargaan“.
Kedua narasumber Mojok tersebut punya maksud khusus untuk memodifikasi motor masing-masing. Dari sebagai upaya menghargai orang terdekat hingga memberi kesan “nyaman” ke anak. Jadi tidak sembarangan.
“Sedangkan kalau adik iparku, kan pokoknya ganti knalpot, cangkok sparepart, ganti spion, ban dibikin kecil. Jatuhnya akhirnya merusak, bukan membuat motor lebih estetik,” kata Nurin.
CB100 memang enak dimodif, tapi bukan berarti semua harus diganti
Kalau ditarik ke sejarahnya, Honda CB100 memang bukan motor yang asing dengan dunia modifikasi. Motor tua ini justru sering dipilih karena bentuk dasarnya relatif sederhana dan mudah dikembangkan sesuai selera pemilik. Di tangan penghobi, CB100 bisa diarahkan menjadi classic look, cafe racer, scrambler, brat style, atau sekadar direstorasi agar kembali mendekati bentuk aslinya.
Karena itu, Nurin sebenarnya tidak mempersoalkan modifikasi sebagai hobi. Yang membuatnya heran adalah ketika modifikasi dipahami sebatas sebanyak mungkin mengganti komponen bawaan motor.
Pada CB100, misalnya, bagian yang kerap menjadi sasaran modifikasi mulai dari tangki, jok, setang, lampu depan, lampu belakang, spakbor, knalpot, velg dan ban, hingga suspensi. Sebagian pemilik bahkan mengubah bagian rangka atau melakukan penyesuaian mesin. Perubahan-perubahan tersebut bisa membuat karakter motor berubah cukup jauh.
Persoalannya komponen yang diganti seharusnya punya hubungan dengan konsep yang hendak dibangun. Kalau ingin mengejar tampilan klasik, misalnya, tidak semua komponen harus dibuat kecil, dipangkas, atau diganti dengan barang yang sedang ramai dipakai. Begitu pula kalau tujuan modifikasi adalah kenyamanan atau performa, ukuran ban, suspensi, posisi berkendara, dan pengereman semestinya dipertimbangkan, bukan sekadar mengikuti motor milik teman.
Di titik inilah Nurin melihat salah kaprah itu muncul. Anak-anak muda di desa kadang mengira motor yang semakin banyak berubah berarti semakin keren. Knalpot diganti, spion diganti, ban diperkecil, setang diubah, bodi dipotong, lalu merasa motornya sudah punya identitas. Padahal, perubahan komponen tanpa konsep justru bisa membuat motor kehilangan proporsi.
“Kadang bagi skena permodifan kabupaten yang penting beda dulu. Mau enak dipakai atau tidak, urusan belakangan,” kata Nurin. “Jangan harap ada nilai jual. Ujungnya-ujungnya jadi rongsokan kok.”
Bahaya yang mengintai dan kerap diabaikan
Padahal, perubahan-perubahan tersebut nyata-nyata bisa menjadi penyebab bahaya, seperti yang diuraikan oleh Honda di laman resminya. Di antara yang dicontohkan:
- Penggunaan ban cacing: Ban cacing merupakan ban dengan ukuran tapak yang kecil, umumnya berukuran 50/90-17 atau 60/80-17. Banyak pengendara melakukan modifikasi menggunakan ban cacing karena alasan tampilan yang terlihat lebih racing. Ban cacing sendiri sejatinya digunakan di sirkuit untuk drag race, dan akan sangat berbahaya jika digunakan sehari-hari di jalan raya.
- Ganti spion kecil: Spion punya peran yang sangat penting saat berkendara. Meski terlihat sederhana, tapi spion berguna untuk membantu pengendara saat hendak berpindah jalur dan melihat kondisi lalu lintas di belakang. Sayangnya banyak pengendara yang melakukan modifikasi dengan mengganti spion menjadi ukuran yang lebih kecil. Ini tentu akan sangat berbahaya karena spion berukuran kecil tidak akan efektif dipakai berkendara.
- Memotong rangka bodi: Biasanya modifikasi ini dilakukan untuk membuat dimensi motor menjadi lebih padat jika ingin dipasang jok “single seater”. Modifikasi ini bisa sangat berbahaya karena bisa membuat kestabilan motor berkurang.
- Ganti knalpot brong: Penggunaan knalpot brong (knalpot bising yang tidak sesuai standar pabrik) membawa dampak buruk yang luas, mulai dari kerusakan mesin kendaraan hingga denda tilang.
- Bore up mesin ekstrem: Memaksa kapasitas mesin melampaui batas tanpa mengubah sistem pengereman dan pendinginan berisiko memicu kerusakan mesin, overheat, atau rem blong.
Modifikasi yang membuat motor sulit dikendalikan atau gampang rusak tentu menjadi perkara yang tidak boleh begitu saja diabaikan. Apalagi jika motor tersebut masih menjadi kendaraan utama untuk sekolah, bekerja, atau bepergian.
Maka, kekesalan tak habis pikir tidak pelak menggelayuti Nurin dan bapak mertuanya saat mendapati si adik lagi-lagi memasukkan motor modifikasinya ke bengkel. Karena kemudian memicu persoalan lain: minta uang bengkel ke bapak dan pinjam motor milik Nurin buat berangkat sekolah. Kan repot.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Vespa Bapak Menguras Tabungan dan Bikin Tak Lulus Kuliah, Tapi Saya Ikhlas Merawat karena Kenangannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan