ADVERTISEMENT

Relawan Doulos Hope Arungi Lautan selama Berbulan-bulan: Belajar Toleransi serta Keterbatasan di Atas Kapal

Relawan kapal Doulos Hope menghias tangan pengunjung. MOJOK.CO

Kesibukan tampak mewarnai keseharian para relawan kapal buku Doulos Hope dalam melayani ribuan pengunjung di hari-hari terakhir persinggahan mereka di Jakarta. Lewat interaksi yang hangat, kru dari berbagai belahan dunia ini membagikan pengetahuan sekaligus merayakan indahnya keberagaman budaya di atas kapal.

***

ADVERTISEMENT

Philip Austin, salah satu relawan, tampak sibuk merapikan persediaan keranjang yang bisa dipakai untuk pengunjung berbelanja buku di kapal Doulos Hope. Tak seperti hari-hari biasanya, suasana kapal buku terapung itu sedang dipadati pengunjung pada Jumat (9/10/2026).

Meskipun tiket masuk di Gelanggang Remaja Jakarta Utara baru dibuka pukul 13.30 WIB, mulai dari pengunjung anak-anak hingga lansia sudah memadati antrean sejak pukul 12.00 WIB. Shuttle bus pun tampak berlalu-lalang menuju Pelabuhan Kalibaru, tempat kapal bersandar.

Dengan harga tiket Rp15 ribu per orang dan gratis bagi anak-anak berusia 12 tahun ke bawah serta lansia di atas 65 tahun, tak pelak kehadiran Doulos Hope menjadi opsi wisata yang murah meriah, unik, dan menyenangkan.

Terlebih, kapal yang sehari-hari bertugas berlayar di kawasan Asia Tenggara dan wilayah Pasifik ini terakhir kali bersandar di Jakarta pada tahun 1988. Sejak GBA Ships membelinya pada tahun 2022, kapal ini punya beberapa misi khusus.

Misi itu, kata Project Coordinator Jakarta Doulos Hope, Madalena Reinaldo, seperti berbagi pengetahuan melalui pameran buku internasional dengan harga yang terjangkau, sehingga masyarakat bisa dengan mudah mengaksesnya. 

Selain itu, Doulos Hope juga berperan mempertemukan masyarakat melalui interaksi dan pertukaran gagasan dari berbagai latar belakang, mengingat ada sekitar 100 kru dari 35 negara berbeda yang turut terlibat dalam perjalanan Doulos Hope selama 3 bulan sampai 1 tahun. Seperti misi yang dibawa Philip dan Jane selaku relawan kapal buku asal Inggris.

Kesan relawan kapal yang sudah sebulan berlayar

Philip Austin. MOJOK.CO
Philip Austin, salah satu relawan kapal buku Doulos Hope asal Oxford. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Di sela-sela kesibukannya menata keranjang tadi, Philip dengan ramah meladeni saya yang bertanya tentang pengalamannya menjadi kru kapal. Bahkan, ia tak keberatan saat diajak foto bersama pengunjung.

Laki-laki asal Oxford itu bercerita baru aktif menjadi relawan kapal buku selama dua minggu, seiring dengan bersandarnya kapal di Jakarta. Tak heran, menjelang hari libur sekaligus hari terakhir kapal itu bersandar di Jakarta, Philip lebih sibuk dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

ADVERTISEMENT

“Saya datang bersama istri dan putri saya, kami sudah ada di kapal selama satu bulan. Mereka juga relawan kapal buku seperti saya, tapi seperti yang Anda lihat, seluruh kru di sini tampak sibuk, maka dari itu saya membantu,” jelas Philip.

Meski kewalahan, Philip mengaku senang karena bisa bertukar pikiran dan budaya. Oleh karena itu, ia tak sabar untuk melakukan pelayaran berikutnya ke Batam pada Kamis (15/10/2026).

“Ini pertama kali saya berada di Asia Tenggara, jadi semuanya tampak sangat baru. Semua orang sangat baik, serta memiliki senyum yang sangat indah,” ujar Philip yang sudah mengunjungi Filipina, Papua Nugini, hingga Jakarta.

Berbagi kebaikan di tengah perbedaan budaya

Jane. MOJOK.CO
Jane, salah satu relawan kapal buku Doulos Hope asal UK. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tak hanya Philip, Jane yang bertugas menjaga keamanan pengunjung di jalur tangga turut senang saat seorang ibu mengajaknya mengobrol sambil menikmati langit sore. Niat Jane sendiri saat mengikuti Our Short-Term Exposure Programme (STEP) dari Doulos Hope, ingin terhubung langsung dengan orang-orang di belahan dunia.

“Saya pikir karena kami adalah komunitas multikultural, terkadang ada banyak perbedaan budaya tapi kita selalu bisa mengatasinya,” ujar Jane saat ditemui Mojok di sela-sela dia bertugas.

Selama satu minggu tinggal di atas kapal bersama 100 relawan kapal buku lainnya, Jane mengaku ada banyak tantangan sekaligus pembelajaran yang dia dapat. Salah satunya, hidup secara sederhana mengingat kebutuhan yang terbatas di atas kapal.

“Kami berusaha tidak menggunakan terlalu banyak air dan tidak menghabiskan terlalu banyak makanan,” kata Jane.

Pengalaman berharga para relawan kapal buku ini membuktikan bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk bersatu dan saling berbagi kebaikan. Melalui Doulos Hope, semangat pertukaran pengetahuan dan indahnya toleransi antarmanusia akan terus dibawa mengarungi luasnya lautan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Menikmati “Senja” Bersama Besti di Kapal Buku Terapung Doulos Hope usai 30 Tahun Kerja Nonstop di Pabrik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.