ADVERTISEMENT

Interaksi Seru Bareng Kru Kapal Buku Doulos Hope meski Terhalang Bahasa

Petugas Doulos Hope menghias tangan pengunjung. MOJOK.CO

Membidik Cerita: Sekitar 120 orang dari 35 negara menjadi kru kapal buku terapung Doulos Hope yang bersandar di kawasan Pelabuhan Kalibaru, Jakarta Utara pada Rabu (16/9/2026) hingga Minggu (11/10/2026).

***

ADVERTISEMENT

Sesuai dengan namanya, Doulos Hope dapat membangun persahabatan melalui buku, percakapan, pertukaran budaya, serta kerja sama setelah 38 tahun tidak bersandar di Jakarta.

Bule mengarahkan pengunjung ke pembelian tiket masuk Doulos Hope. MOJOK.CO
Seorang volunteer mengarahkan pengunjung ke pembelian tiket masuk. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Interaksi tak hanya dilakukan oleh pengunjung tapi juga kru kapal atau sukarelawan yang berasal dari mancanegara. Ada kru yang bertugas langsung di atas kapal, ada pula yang menunggu di Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU) untuk mengatur pembelian tiket.

Dengan kemampuan bahasa Indonesia yang minim, sejumlah kru kapal Doulos Hope tampak sibuk memberikan instruksi sederhana.

Petugas tiket masuk. MOJOK.CO
Seorang petugas kasir menerima pembayaran tunai. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“No ticket please here,” kata seorang petugas yang sedang mengarahkan pengunjung untuk antre jika belum memiliki tiket, sementara pengunjung yang sudah membeli tiket secara online dapat menuju ke tempat parkiran shuttle bus guna menuju Pelabuhan Kalibaru.

Shuttle bus. MOJOK.CO
Seorang petugas mengatur shuttle bus yang baru tiba di Pelabuhan Kalibaru, tempat Doulos Hope bersandar. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Saya sendiri harus mengantre tiket lebih dari 30 menit karena kehabisan tiket online. Setelah membayar Rp15 ribu secara tunai, saya langsung diarahkan petugas naik shuttle bus khusus perempuan bersama dengan pengunjung lainnya.

Tangga menuju dek kapal buku Doulos Hope. MOJOK.CO
Pengunjung menaiki tangga beriringan menuju dek kapal Doulos Hope. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sekitar 10 menit, saya pun tiba di sekitar Pelabuhan Kalibaru. Sebelum menaiki beberapa anak tangga menuju dek kapal Doulos Hope, beberapa petugas melakukan pengecekan terhadap barang yang kami bawa. Petugas asal Indonesia mengingatkan pengunjung agar tidak menggunakan gawai atau berfoto saat naik tangga.

Petugas memperhatikan langkah pengunjung. MOJOK.CO
Seorang kru kapal memperhatikan langkah pengunjung. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sesampainya di ujung mulut tangga, seorang kru akan memperhatikan langkah kami untuk naik tangga berikutnya ke salah satu dek kapal yang berisi sekitar 2 ribu buku internasional. 

Interaksi bule dengan siswa. MOJOK.CO
Segerombolan siswa dari Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Banten bahkan berkesempatan mengobrol dengan salah satu pengunjung bule.
(Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Di sana, pengunjung tak hanya merasakan sensasi berburu buku tapi juga berbincang langsung dengan pengunjung lain. Segerombolan siswa dari Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Banten bahkan berkesempatan mengobrol dengan salah satu pengunjung warga negara asing.

ADVERTISEMENT

“Miss, saya tadi ngobrol dengan bule. Katanya dia mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di salah satu kampus sini. Dia datang bareng istri dan anaknya,” kata salah satu siswa mengadukan tugas yang berhasil dia kerjakan ke gurunya.

Pembayaran buku di kasir. MOJOK.CO
Kru kapal tidak menerima pembayaran tunai. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sementara itu, beberapa pengunjung Doulos Hope terlihat antre untuk membayar buku di kasir. Sebagai informasi kru kapal tidak menerima pembayaran QRIS melainkan tunai atau menggunakan kartu.

Petugas kasir kantin. MOJOK.CO
Kru kapal yang bertugas menjaga kasir di kafe. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain membeli buku, pengunjung juga bisa membeli makan maupun minuman di kafe dan tidak boleh dibawa keluar kapal. Artinya, mereka harus menghabiskan makan dan minumannya di kapal tersebut.

Jurnal dengan cover Doulos Hope. MOJOK.CO
Jurnal dengan cover Doulos Hope yang dijual seharga Rp100 ribu. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Di area kafe, pengunjung juga bisa mencoba sejumlah kegiatan interaktif bersama kru kapal pameran buku Doulos Hope. Salah satunya, menghias tangan dengan cat water-based. 

Meski kru kapal tak jago berbahasa Indonesia, begitu juga dengan pengunjung yang punya kemampuan bahasa Inggris terbatas, tapi keduanya dapat dapat membangun persahabatan melalui buku, percakapan, pertukaran budaya, serta kerja sama.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

LIHAT JUGA: Hari-hari Sepi Para Pemilik Kios Buku Bekas di Jalan Kahar Muzakir Yogyakarta atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.