Perfeksionisme sering dianggap sebagai sebuah kelebihan. Sebagian orang bahkan membanggakan diri sebagai individu yang perfeksionis. Padahal nyatanya, perfeksionis bisa berujung berlebihan sampai mengganggu ketenangan mental karena semua harus serba sempurna.
Inilah yang membuat para perfeksionis perlu memutar otak. Mereka harus mencoba berhenti membuat standar sendiri agar tidak terlalu berlebihan.
Perfeksionis sering tidak menyadari sifatnya sampai terkena batunya sendiri
Ada tiga jenis perfeksionisme yang dijabarkan oleh psikolog Paul Hewitt dan Gordon Flett. Di antaranya adalah self-oriented perfectionism atau seseorang yang mempunyai ekspektasi tidak masuk akal terhadap dirinya sendiri.
Dalam perfeksionis tipe ini, seseorang sering menciptakan standar sempurna dan menekan dirinya sendiri apabila tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut.
“Orang-orang yang perfeksionis adalah pemikir atau nggak berpikir sama sekali dalam keinginannya menjadi sempurna. Gagal mencapai target, bagi mereka, bisa jadi lebih membuat frustasi daripada gagal jauh dari targetnya,” kata Gordon Flett, seperti dikutip dari siniar American Psychological Association.
Menurutnya, seseorang yang perfeksionis butuh menjadi benar-benar sempurna.
Mereka tidak berjuang untuk mencapai kepuasan tersendiri seperti orang-orang umumnya, bahkan tidak begitu menyenangi yang dilakukan, tetapi fokus pada pencapaiannya saja.
Jadilah, sepanjang apa pun prosesnya, seberat apa pun usahanya, yang menjadi penilaian hanya berhasil atau tidak berhasil.
“Jadi, mereka hanya fokus pada percobaan selanjutnya daripada menikmati pencapaiannya saat ini,” tambahnya.
Rachael pernah mengalaminya. Ia menjadi terlalu perfeksionis sampai merasa bahwa “cukup baik” tidaklah baik. Perasaan ini juga yang membuatnya menghabiskan masa sekolahnya dengan rasa cemas, takut-takut tidak bisa mencapai standarnya sendiri.
Perasaan semacam ini juga membuat Rachael merasakan tidak nyaman semasa sekolahnya. Ia terus dihantui kecemasan tanpa alasan, tapi di lain sisi juga terasa sangat beralasan.
Karena itu, ketika memutuskan untuk berkuliah lagi, Rachael menyadari bahwa sudah saatnya berhenti menjadi seorang perfeksionis atau ia akan kembali terjebak dalam masalah yang sama, yaitu standarnya sendiri.
“Setelah aku lulus masa SMP, SMA, dan kuliah dengan sangat cemas karena perfeksionis soal prestasi akademik, aku tahu harus mengubah sesuatu aku nggak akan bertahan di kuliah pascasarjana,” katanya, dilansir dari laman konseling pribadinya.
Lelahnya, ingin semua serba sempurna karena perfeksionis menyamar sebagai sifat positif
Menyadari bahwa dirinya harus keluar dari lubang yang telah dibuatnya sendiri, langkah pertama Rachael adalah berusaha memahami bahwa dia sudah cukup baik.
Sebab, orang-orang perfeksionis diderita penyakit ingin selalu lebih baik, mencapai taraf sempurna. Namun, tentu saja ini mustahil, meski tidak mustahil bagi perfeksionis.
“Aku masih harus mengingatkan diri kalau ‘cukup baik’ nggak apa-apa,” katanya.
“Dan kalau usahaku setiap hari berbeda-beda, juga nggak apa-apa,” tambahnya lagi.
Namun setiap kali Rachael mencoba meyakinkan dirinya seperti ini, selalu muncul penolakan yang juga terdengar bersamaan di telinganya. Ia memainkan toleransinya sendiri, kalau menjadi perfeksionis juga sebenarnya tidak apa-apa.
Baginya, perfeksionis bukan sesuatu yang buruk. Sifat ini justru memberi rasa aman kalau melakukan sesuatu dengan sempurna berarti tidak akan gagal—premis yang dia sadari kemudian hari kalau sepenuhnya keliru.
“Kita nggak bisa sempurna 100 persen sepanjang waktu,” katanya menyadari dalihnya sendiri.
Sayangnya, Rachael juga tidak bisa mengelak ketika merasakan tekanan dan malu ketika melakukan kesalahan dan tidak mencapai taraf kesempurnaannya. “Perfeksionis ini sering menyamar sebagai sifat positif,” akunya.
Bukannya untung, jadi perfeksionis malah buntung
Pengalaman yang sama juga dirasakan Dhanty (27) yang mengaku “agak” perfeksionis saat ditanyai. Namun, penyematan “agak” ini sejatinya hanya akal-akalan Dhanty untuk terdengar tidak terlalu begitu.
“Aku juga agak perfeksionis sebenarnya,” katanya kepada saya, Senin (9/2/2026) lalu.
Ketika ditanyakan kembali, bagaimana perasaannya sebagai seorang perfeksionis, Dhanty mengaku merasa takut. Sama seperti Rachael.
“Takut, takut salah, takut nggak bener, takut nggak sesuai,” katanya.
Alhasil, dia menjadi lebih keras terhadap diri sendiri untuk mencapai kesesuaian yang diada-adakannya. Karena itu juga, Dhanty merasa membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan apabila dirinya tidak memaksakan standar tersebut.
“Jadi butuh waktu yang lebih lama karena harus done perfectly,” akunya.
Yang tidak jarang, dalam waktu itu, malah muncul perasaan tidak masalah menunda-nunda asal sempurna. Di sinilah, Dhanty menyadari kalau sifatnya ini tidak baik untuk diteruskan dan harus coba dikurangi.
Sebab bukannya untung dengan standar sempurna itu, Dhanty malah merugi karena sering terpukul mundur tanpa disadari.
Mau tidak mau menerima ketidaksempurnaan atau mengalihkan kepada hal lain
Sejak saat itu, Dhanty berusaha menyalurkan keharusan sempurnanya pada hal lain yang juga menuntut kesempurnaan, setidaknya untuk kepuasan diri sendiri. Hal ini ditemukan Dhanty dalam journaling.
Menurutnya, mengatur berbagai hal dalam jurnalnya adalah cara untuk mengalihkan perfeksionisnya pada sesuatu yang berbeda. Hasilnya, Dhanty merasa tidak lagi terlalu perfeksionis dalam kehidupan sehari-hari.
“Di journaling itu aku buat ngurangin perfeksionisku, aku ke situ,” katanya.
Karena itu, Dhanty punya dua jurnal sampai hari ini. Ada jurnal yang dibuatnya untuk estetika, ada juga untuk mencurahkan isi hatinya. Dengan kedua jurnal itu, ia berusaha untuk konsisten agar tidak kembali memaksakan diri.
Hal yang sama dilakukan Rachael. Ia menanamkan pikiran bahwa tidak sempurna bukanlah akhir dari segalanya. “Nggak semua keputusan itu menyangkut hidup dan mati, dan nggak setiap perbuatan harus sempurna juga,” kata Rachael.
Dengan mengetahui celahnya, justru Rachael merasa bahwa dia dapat memperbaikinya. Bukan hanya memaksakan kesempurnaan—sesuatu yang tidak dipelajarinya selama keukeuh menjadi perfeksionis.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
