Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani

Utang bank jadi penyakit kronis yang menjerat pemuda desa karena cicilan MOJOK.CO

Ilustrasi - Utang bank jadi penyakit kronis yang menjerat pemuda desa karena cicilan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Utang bank menjadi penyakit kronis pemuda di desa. Utang bank seolah menjadi solusi dalam segala kondisi, padahal selalu berakhir menyiksa diri sendiri bahkan orang tua karena cicilan yang harus dibayar.

***

Dulu, semasa masih bekerja di Surabaya dengan gaji mungil, saya selalu terheran-heran tiap pulang kampung dan berkumpul dengan beberapa pemuda desa.

Sembari diam-diam menyimpan perasaan “rendah”, batin saya selalu menyimpan tanya: “Berapa uang yang mereka dapat dari kerja serabutan, kok berani-beraninya langsung memulangkan motor baru?”

Beberapa pemuda desa saya kerja sebagai kuli bangunan di kota-kota lain. Umumnya di Surabaya. Tapi itu pun tidak pasti setiap bulan ada garapan. Tapi menunggu ada proyek dan panggilan dari mandor. Kalau tidak ada panggilan, ya nganggur di rumah.

Sementara saya untuk hidup saja susah payah. Membeli barang besar seperti motor—apalagi mobil—rasa-rasanya tidak akan pernah terjangkau. Apalagi setiap bulan saya hanya mampu menyisihkan uang Rp200 ribu-Rp300 ribu dari gaji untuk tabungan. 

Cap “pintar” pada pemuda desa yang kerja langsung bisa beli barang besar

Yang umum di desa saya, baru beberapa bulan menggarap proyek di kota lain, pulang-pulang langsung bisa beli motor baru. Bukan bekas loh ya. Benar-benar motor baru dari dealer.

Bukan tanpa alasan kenapa saya akhirnya merasa “rendah”. Sebab, begitulah standar sukses dan kerja sesungguhnya ala kebanyakan warga desa saya: kerja itu ya harus ketahuan wujud hasilnya. Misalnya motor. 

Saya berkali-kali mendengar tetangga memberi cap “pintar” pada pemuda desa yang berhasil mencapai itu. “Si anu pinter e. Kerja beberapa bulan udah bisa beli motor sendiri,” (misalnya). 

Utang bank jadi solusi, cicilan pikir keri 

Baru saya tahu kemudian, ternyata solusi dari setiap urusan yang membutuhkan uang besar adalah utang bank. Jalan pintas yang terkesan amat gampang, tapi sebenarnya menyimpan risiko mengerikan

Sebab, seorang pemuda desa pernah bilang ke saya: gaji dari kerja serabutan atau pekerjaan informal lain bergaji mungil, rasa-rasanya tidak akan mampu membuat pemuda desa mampu membeli motor, mobil, rumah, atau lain-lain. 

Sementara tidak mungkin kalau mengandalkan minta orang tua yang sama-sama hidup pas-pasan. 

Pertanyaan saya kemudian: Bagaimana kalau sedang sepi proyek? Dari mana uang untuk membayar cicilan bank tersebut? Apakah hal semacam itu dipikirkan? Jawabannya: tidak. 

Katanya, pokoknya utang di bank lebih dulu, barang kebeli, urusan cicilan dipikir keri (nanti). Kalau sedang ada pekerjaan ya sisakan uang buat cicilan bank. Tapi kalau sedang sepi, ya nunggak dulu. 

Apakah tenang hidup dengan model seperti itu? Katanya, rasanya seperti sengaja menimpakan bersak-sak semen di atas pundak. Bikin klenger. Namun, tidak ada solusi lain bagi pemuda desa kalau mau hidup sebagaimana orang kebanyakan. 

Pemuda desa utang bank untuk perkara tidak penting

Cerita serupa diungkapkan seorang pemuda asal Jawa Timur, Baban (28), yang sudah terbiasa utang bank. Karena memang habit di desanya, utang bank adalah solusi kasat mata dan paling aman atas segala persoalan finansial. Bahkan sekalipun untuk urusan tidak penting sekalipun. 

Baban sendiri misalnya. Ia mengaku pernah utang bank untuk membeli motor Honda PCX. Hanya karena saat itu sedang tren. Padahal waktu itu ia sudah punya motor Honda BeAT. 

Ia bahkan pernah utang bank untuk biaya menikah. Sebab, di desanya, acara pernikahan harus meriah sehingga keluar uang banyak. Utang ke saudara tidak mungkin. Oleh karena itu, dengan siasat-siasat administratif, utang bank jadi solusi yang ia ambil. 

“Ya aku sadar, padahal itu hal-hal yang tidak penting. Karena kalau sudah ada motor dan masih bisa dipakai, kenapa maksa beli baru hanya karena tren? Nikah sederhana sebenarnya bisa juga, semampunya. Tapi terlalu takut jadi rasan-rasan tetangga dan saudara. Karena di desa ada anggapan gini: nikah sekali seumur hidup aja kok nggak mau royal buat acaranya,” beber Baban, Senin (23/3/2026). 

Itu menjadi bagian yang kemudian amat Baban sesali. Terutama utang bank untuk urusan pernikahan Sebab, setelah menikah, alih-alih bisa menikmati hidup dengan istri, rumah tangganya malah terasa seperti beban. 

Jika punya uang, alih-alih digunakan untuk menyenangkan istri (sesimpel membelikan baju baru, makan enak di luar, mengeluarkan uang belanja tanpa ditekan atas nama berhemat), uang tersebut larinya tetap untuk cicilan bank. 

“Setelah nikah rasanya seperti nggak diberi napas. Karena kebutuhan makin banyak, uang tipis, tapi tetap harus bayar cicilan,” ungkap Baban. Di titik seperti itu pun, kalau ada kebutuhan mendesak, utang tetap menjadi solusi terakhir bagi Baban: utang ke saudara atau ke orang tua. 

Tidak ada waktu bantu orang tua, tapi kalau soal cicilan bisa “mencekik” orang tua sendiri

Baban mengakui, banyak pemuda desa yang, setelah kerja sendiri dan berumah tangga sendiri, terkesan “lupa” pada orang tua. 

Di desa Baban di Jawa Timur memang tidak ada tuntutan bagi anak untuk menanggung hidup orang tua di masa rentanya. Jika anak sudah hidup sendiri, biasanya orang tua akan tetap mencari-cari uang sendiri untuk hidup. Meski di usia yang menuju renta. 

Masalahnya, anak-anak justru sebaliknya. Meski sudah hidup sendiri, tapi masih tetap memberi beban kepada orang tua. Termasuk soal utang-piutang. 

Baban bercerita, ia punya teman—seorang pemuda desa—yang berkali-kali melimpahkan beban utang bank terhadap orang tuanya. 

“Temanku, si pemuda desa itu, waktu awal nikah pengin bangun rumah. Utang bank. Buat melunasi, karena nggak sanggup bayar cicilan, akhirnya minta bantuan orang tua,” ujar Baban. 

Setelah menikah, karena butuh modal usaha, utang bank tetap menjadi solusi. Dan orang tuanya pun tetap harus turun tangan untuk membantu bayar cicilan. 

“Untuk sunatan anak, atau lain-lain, karena nggak mungkin utang bank lagi, minta orang tua menjual aset tanah (ladang). Padahal ladang itu untuk jaga-jaga masa tua mereka,” sambung Baban. 

Penyakit kronis yang sulit disembuhkan

Baik pemuda desa saya maupun Baban menyadari, menjadikan utang bank dan membiasakan utang-utang ke orang lain sebagai solusi adalah penyakit mengerikan. Apalagi jika untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak urgen-urgen amat. Ditambah lagi dengan tanpa memperhitungkan pemasukan untuk potensi bayar cicilannya nanti. 

Utang bank jelas menjadi penyakit karena di kemudian hari memberi tekanan fisik dan mental bagi si pengutang. Alih-alih bisa menjalani hidup dengan tenang—yang seharusnya bisa didapat jika hidup dengan mengukur diri sendiri—malah hidup dengan spaneng karena dikejar-kejar tanggal jatuh tempo. Bagaimana tidak, bayar cicilan bank kan memang disertai bunga yang membuat cicilan terasa amat berat. 

Terlebih, jika pada akhirnya ikut membebankan tanggung jawab bayar cicilan kepada orang tua. Sama saja dengan menyebarkan penyakit. 

Belum lagi persoalan lain seperti ancaman kehilangan aset jika tidak mampu membayar cicilan hingga catatan buruk di perbankan yang akan mempersulit seseorang dalam berurusan dengan bank (lagi).

Masalahnya, bagi pemuda desa saya dan Baban, penyakit tersebut sudah terlanjur menjalar di kalangan warga desa. Sebab, dengan bayangan tidak akan pernah bisa merasakan uang besar dari upah kerja serabutan/informal, utang bank menjadi satu-satunya solusi yang tersisa. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version