ADVERTISEMENT

Cinta Ternyata Punya Passing Grade: Lulusan Top 20 PTN Jadi Kriteria Pasangan Ideal Gen Z

Pasangan Ideal Menurut Gen Z: Lulusan Top 20 PTN, Benarkah? MOJOK.CO

Mencari pasangan ideal ternyata tidak cukup bermodalkan wajah dan isi rekening yang meyakinkan. Bagi gen Z, latar belakang pendidikan juga menjadi pertimbangan untuk menjalin hubungan.

***

ADVERTISEMENT

Saya menemukan pandangan semacam itu ketika berbincang dengan Syafira (26), gen Z lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2023. Melalui percakapan di DM Threads, ia bercerita bahwa pendidikan dan kecerdasan menjadi dua hal yang cukup penting ketika mempertimbangkan seseorang sebagai pasangan ideal.

Mulanya, saya mengira Syafira termasuk gen z yang secara khusus menetapkan standar calon pasangan harus berasal dari kampus Top 20 PTN. Apalagi, ia sendiri merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup dikenal di Indonesia.

Namun, anggapan itu ternyata tidak sepenuhnya tepat. Syafira mengaku tidak harus mendapatkan pasangan dari kampus dengan peringkat tertentu. Baginya, yang lebih penting adalah seseorang pernah mengenyam pendidikan tinggi di institusi yang dianggapnya memadai.

Bukan cuma ganteng dan kaya, pendidikan juga jadi pertimbangan

Ketika ditanya sejak kapan memiliki preferensi tersebut, Syafira bercerita bahwa pemikirannya mulai terbentuk ketika masih kuliah hingga memasuki dunia kerja. Ia juga mengaku terpengaruh oleh percakapan bersama teman-temannya sesama gen z serta berbagai diskusi yang ditemuinya di Threads.

Menurut Syafira, seseorang yang mencari pasangan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan penampilan fisik atau kondisi ekonomi. Ada kualitas lain yang tidak kalah penting, yakni kecerdasan dan kemampuan menghadapi persoalan kehidupan.

“Percuma ganteng atau kaya kalau ternyata nggak bisa menyelesaikan masalah di hidupnya,” tulis Syafira ketika menjelaskan alasannya, Jumat (06/11/2026).

Bagi perempuan berusia 26 tahun tersebut, pendidikan tinggi setidaknya menjadi salah satu pertimbangan untuk melihat bagaimana seseorang mengembangkan pengetahuan dan cara berpikirnya. Ia menganggap kecerdasan akademik bisa berbanding lurus dengan kemampuan seseorang menyelesaikan masalah serta mengambil keputusan secara bijaksana.

Meski begitu, Syafira tidak mengatakan bahwa gelar sarjana atau nama besar kampus otomatis menjamin seseorang memiliki kecerdasan yang lebih baik. Ia justru menekankan pentingnya kemampuan berpikir dan menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

“Allmamater bukan satu-satunya hal yang ingin ia cari. Ada kualitas personal yang menurut saya lebih penting untuk menjalani hubungan dalam jangka panjang,” terang Syafira.

Ingin pasangan yang setara, tetapi juga bisa mengarahkan

Ketika saya menanyakan gambaran pasangan ideal, Syafira menjawab bahwa ia menginginkan seseorang yang setara secara pendidikan maupun pemikiran.

Preferensi itu juga tidak muncul begitu saja. Ia mengaku lingkungan pergaulan turut membentuk cara pandangnya dalam memilih pasangan. Teman-teman dengan latar pendidikan yang relatif serupa membuatnya terbiasa bertukar pikiran mengenai pentingnya kecerdasan dalam sebuah hubungan.

Syafira bahkan mengakui bahwa ia pernah mendapatkan kritik karena memiliki standar semacam itu. Ada yang menganggapnya terlalu jual mahal atau terlalu selektif dalam mencari pasangan.

Namun, ia tidak terlalu mempersoalkan penilaian tersebut. Menurutnya, orang lain tidak akan menjalani hubungan yang nantinya menjadi tanggung jawab dirinya sendiri.

Menariknya, ada kecemasan yang muncul di balik keinginannya mendapatkan pasangan dengan tingkat pendidikan dan pemikiran yang setara. Syafira mengaku khawatir apabila kelak pasangannya tidak mampu mengimbangi cara berpikirnya. Di sisi lain, ia juga takut justru membuat pasangan merasa minder.

“Takut dia nggak bisa ngimbangin atau malah saya yang membuat dia minder, pokoknya serba salah deh,” ungkapnya.

Ia juga mengakui bahwa memiliki pasangan ideal dari kampus ternama memberikan kebanggaan tersendiri. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa diceritakan kepada teman-temannya. Namun, kebanggaan itu bukan satu-satunya alasan. Syafira merasa lebih aman apabila memiliki pasangan yang dianggap cerdas dan memiliki wawasan luas.

Ada hal lain yang cukup menarik dari pengakuannya. Ia merasa dirinya tidak terlalu cerdas sehingga membutuhkan seseorang yang bisa mengarahkan dan membantunya dalam menghadapi kehidupan.

Pendidikan dan almamater memang bisa memengaruhi pilihan pasangan ideal

Preferensi Syafira sebenarnya bisa dibaca melalui konsep educational homogamy dalam kajian sosiologi keluarga. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang menjalin pernikahan dengan individu yang memiliki tingkat pendidikan serupa.

Penelitian Ariane J. Utomo berjudul Marrying Up? Trends in Age and Education Gaps Among Married Couples in Indonesia yang terbit dalam Journal of Family Issues pada 2014 menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut juga ditemukan di Indonesia.

Dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), penelitian itu menemukan bahwa sekitar 50 persen pasangan suami istri di Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang sama, baik pada 1982 maupun 2010. Temuan ini memperlihatkan bahwa kesamaan pendidikan telah menjadi salah satu pola dalam pembentukan pasangan di Indonesia.

Sementara itu, penelitian Siqi Xiao dan Yue Qian berjudul Mate Selection Among Online Daters in Shanghai: Why Does Education Matter? yang diterbitkan dalam Chinese Journal of Sociology pada 2020 memberikan gambaran lebih spesifik.

Melalui wawancara mendalam terhadap 29 pengguna aplikasi kencan berpendidikan universitas di Shanghai, penelitian tersebut menemukan bahwa tingkat pendidikan sekaligus reputasi kampus menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan. Para responden menganggap kesamaan pendidikan penting untuk membangun kecocokan secara budaya dan sosial.

Penelitian tersebut memang dilakukan di China sehingga tidak bisa serta-merta menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa preferensi terhadap almamater bukan semata-mata persoalan individu, melainkan juga dapat berkaitan dengan hierarki pendidikan dan lingkungan sosial.

Di Indonesia sendiri, penelitian awal Mira Ariyani dan kolega berjudul Exploring Mate Selection Preferences in Indonesia yang diterbitkan dalam Journal of Nonformal Education juga mengidentifikasi beragam pertimbangan dalam memilih pasangan. Penelitian terhadap 423 responden tersebut menemukan bahwa kesamaan agama menempati urutan pertama dalam preferensi pemilihan pasangan. Artinya, kriteria pasangan ideal di Indonesia memiliki banyak dimensi dan tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan pendidikan.

Standar pasangan ideal yang tidak sepenuhnya paten

Kendati memiliki preferensi terhadap pasangan yang berpendidikan tinggi, Syafira mengaku tidak menjadikan standar tersebut sebagai harga mati. Ia masih membuka kemungkinan menjalin hubungan dengan seseorang yang latar belakang pendidikannya tidak sesuai dengan preferensi awal.

Ketika saya menanyakan apakah ia bersedia mengubah standar apabila bertemu seseorang yang cocok secara karakter, visi hidup, dan emosional, jawabannya cukup terbuka.

“Saya bersedia mengubah standar itu kak, tidak paten kok standar itu,” tulisnya.

Bagi Syafira, kesetaraan dalam hubungan bukan sekadar persoalan gelar atau nama kampus yang tercantum di ijazah. Ia ingin memiliki pasangan yang bisa diajak berpikir, berdiskusi, dan saling membantu ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Pada akhirnya, lulusan UGM tahun 2023 ini tetap menempatkan kecerdasan sebagai salah satu pertimbangan penting dalam mencari pasangan ideal. Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang yang tidak berasal dari kampus ternama bisa memenuhi harapannya.

Sebab, meskipun seseorang boleh saja memiliki standar ketika mencari pasangan, Syafira sendiri mengakui bahwa standar tersebut masih bisa berubah. Setidaknya, urusan hubungan tidak sepenuhnya harus mengikuti peringkat kampus.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 5 Wedding Dream ala Gen Z, Tidak Ribet dan Wujudkan Bahagia Versi Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.