Bagi sebagian Gen Z, pernikahan impian bukan lagi soal gedung megah, dekorasi mahal, atau ratusan tamu undangan yang datang silih berganti. Coffee corner, photobooth, akad di KUA, hingga menyisihkan uang resepsi untuk honeymoon justru menjadi gambaran wedding dream yang lebih masuk akal, sebab kehidupan setelah pesta ternyata jauh lebih panjang daripada pesta itu sendiri.
***
Pergeseran cara pandang Gen Z melihat pernikahan membuat menikah tidak lagi semata-mata diperlakukan sebagai hajatan keluarga, melainkan juga ruang bagi pasangan untuk menentukan kebahagiaan versi mereka sendiri. Di tengah ekspektasi sosial yang masih menganggap resepsi besar sebagai bagian penting dari pernikahan, sejumlah pasangan Gen Z justru mulai berani menyusun prioritas: siapa yang perlu diundang, konsep apa yang ingin diwujudkan, dan berapa banyak uang yang sebaiknya disimpan untuk membangun kehidupan bersama setelah resmi menjadi suami istri.
Nona (27) dan Farhan (27), misalnya, sudah membuktikan bahwa pernikahan tidak harus dirayakan dengan pesta besar-besaran. Sementara itu, Amel (27) dan Rizal (28) sedang merancang wedding dream mereka sendiri: sederhana, intim, dan tetap menyisakan uang untuk menikmati kehidupan setelah menikah.
Berikut lima wedding dream ala Gen Z yang menarik untuk dibicarakan.
1. Menikah di KUA saja sudah cukup, tidak perlu bikin acara yang ribet
Bagi Nona dan Farhan, menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) bukan keputusan mendadak karena tidak memiliki cukup uang untuk mengadakan resepsi. Mereka memang menginginkan prosesi pernikahan yang sederhana.
“Memilih menikah di KUA karena memang mau yang simple aja sih, tidak ribet,” ujar Nona ketika saya hubungi melalui WhatsApp pada Minggu (1/11/2026).
Farhan menambahkan bahwa pertimbangan finansial memang ada, tetapi bukan alasan utama mereka mengambil keputusan tersebut.
“Ya kalau biaya memang ada faktornya, tapi bukan itu yang utama sih,” ujarnya.
Keputusan tersebut sempat membuat keluarga besar mereka terkejut. Apalagi, di lingkungan pedesaan, menikah di KUA masih kerap dianggap kurang lazim, bahkan dicap sebagai sesuatu yang memalukan. Namun, Nona dan Farhan akhirnya berhasil menjelaskan pilihan mereka kepada keluarga.
“Dari keluarga besar awalnya kaget karena kalau di desa kan menikah di KUA itu masih sering dianggap aib, tapi kami bisa jelaskan ke keluarga besar soal keputusan kami dan alhamdulilahnya ya mereka menerima dan dibolehin,” ujar keduanya.
Pilihan ini sebenarnya juga memiliki keuntungan administratif. Berdasarkan informasi resmi Kementerian Agama, biaya pencatatan nikah di KUA pada hari dan jam kerja adalah Rp0. Sementara itu, pelaksanaan akad di luar KUA dikenai biaya Rp600.000 sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
2. Intimate wedding: undangan cukup keluarga dan teman dekat
Bagi Amel dan Rizal, pernikahan impian tidak perlu melibatkan terlalu banyak orang. Mereka justru ingin memastikan bahwa orang-orang yang hadir benar-benar memiliki kedekatan dengan keduanya.
“Wedding dream kami jelas intimate dan sederhana saja, tidak perlu neko-neko. Yang penting di pernikahan kita semua kita yang menyiapkan, urusan orang tua cuma berdoa,” ujar mereka melalui sambungan telepon WhatsApp.
Pasangan ini berencana mengundang sekitar 200–250 orang untuk resepsi sederhana. Jumlah tersebut mungkin masih terdengar cukup banyak bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka sudah termasuk pembatasan tamu yang cukup ketat. Mereka tidak ingin mengundang terlalu banyak orang yang bahkan tidak begitu dikenal.
Keinginan tersebut ternyata bukan tanpa tantangan. Amel dan Rizal mengaku sempat menghadapi prasangka dari lingkungan sekitar yang mengira kesederhanaan acara pernikahan mereka disebabkan oleh kehamilan di luar rencana. Padahal, mereka memang ingin mengatur pernikahan sesuai kemampuan dan keinginan sendiri.
3. Coffee corner: tamu undangan bisa ngopi, bukan cuma makan prasmanan
Kalau biasanya tamu undangan datang, mengambil makanan, bersalaman dengan pengantin, lalu pulang, Gen Z punya bayangan lain tentang pengalaman menghadiri pernikahan. Salah satunya menghadirkan coffee corner.
Kehadiran sudut kopi dengan barista yang meracik minuman secara langsung bisa menjadi daya tarik tersendiri. Tamu dapat menikmati kopi susu, manual brew, atau minuman lain sambil bercengkerama dengan tamu undangan lainnya.
Bagi pasangan yang sama-sama menyukai budaya ngopi, coffee corner bahkan bisa menjadi representasi karakter mereka. Pernikahan tidak lagi sekadar menjadi acara seremonial yang harus dilewati, tetapi juga pengalaman yang ingin dibagikan kepada orang-orang terdekat.
4. Photo booth, disposable camera, dan guest book agar pernikahan lebih personal
Ada pula wedding dream yang berorientasi pada kenangan. Photo Booth, kamera sekali pakai (disposable camera), hingga guest book bisa menjadi elemen tambahan yang membuat pernikahan terasa lebih personal.
Bayangkan tamu undangan mengambil foto menggunakan kamera analog, kemudian meninggalkan pesan untuk pengantin melalui buku tamu.
Hasil fotonya mungkin tidak selalu sempurna. Ada yang buram, terlalu terang, atau bahkan memperlihatkan ekspresi konyol. Namun, justru hal-hal seperti itulah yang membuat dokumentasi pernikahan terasa lebih spontan. Alih-alih hanya mengandalkan dokumentasi profesional, pasangan juga bisa melihat pernikahan dari sudut pandang orang-orang yang ikut merayakannya.
5. Menikah di rumah, sisanya untuk honeymoon dan life after marriage
Tidak semua pernikahan membutuhkan gedung pertemuan. Halaman rumah, kebun, atau ruang terbuka yang memiliki nilai sentimental juga bisa menjadi lokasi perayaan. Konsep garden party atau resepsi kecil di rumah memungkinkan pasangan mengatur dekorasi dan jumlah tamu sesuai keinginan. Anggaran yang tersisa pun bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. Hal ini rupanya menjadi salah satu pertimbangan Nona dan Farhan.
“Jelas untuk honeymoon dong, meski ya tetap resepsi kecil-kecilan sih, keluarga dan beberapa teman dekat banget saja sih,” ujar keduanya.
Amel dan Rizal juga memiliki pemikiran serupa. Mereka tidak ingin seluruh tabungan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pesta sehari.
“Tidak ada nyumbang gitu-gitu, ribet. Terus jumlah tamu kami sih rencananya 200–250 aja sih itu juga cuma keluarga dan teman paling dekat saja. Tidak mau terlalu banyak dan tidak terlalu kenal juga,” ujar mereka.
Mereka bahkan sudah memikirkan kehidupan setelah menikah sebagai bagian penting dari perencanaan tersebut.
“Uang sisanya untuk life after marriage, kan butuh hidup juga yah hahaha,” tambah keduanya.
Pernikahan cuma sehari, life after marriage masih panjang sekali
Memiliki wedding dream sederhana tersebut sejalan dengan temuan penelitian Gadis Anastasia yang diterbitkan dalam Journal of Social and Policy Issues pada 2026. Penelitian berjudul Intimate Wedding: The Transition of Gen Z Urban Marriage from Collective Celebration to Personal Space membahas bagaimana pertimbangan ekonomi, budaya digital, keinginan akan autentisitas, serta negosiasi dengan ekspektasi keluarga turut membentuk preferensi intimate wedding di kalangan Gen Z.
Tentu saja, penelitian tersebut tidak berarti seluruh Gen Z memiliki preferensi yang sama. Namun, ada gambaran bahwa pernikahan semakin dipertimbangkan sebagai ruang personal untuk mengekspresikan nilai dan keinginan pasangan.
Wedding dream ala Gen Z pada akhirnya bukan tentang siapa yang mampu menggelar pesta paling mewah atau mengundang tamu paling banyak. Mereka hanya ingin merayakan pernikahan dengan cara yang sesuai keinginan, tanpa harus mengorbankan terlalu banyak hal yang justru lebih penting setelahnya.
Sebab, akad dan resepsi memang bisa selesai dalam sehari, tetapi kehidupan rumah tangga membutuhkan biaya, kompromi, dan komitmen yang jauh lebih panjang. Kalau bisa punya pernikahan impian sekaligus tabungan untuk honeymoon, mengapa harus memaksakan pesta yang bikin kantong megap-megap?
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pernikahan Terutama di Desa Memberi Beban Lebih Berat ke Perempuan, Jadi Dasar Gen Z Tak Menikah karena Tak Sanggup Membayangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan