Bagi orang miskin di desa, kenekatan utang untuk membeli barang-barang konsumtif seperti hp dan kendaraan bukan karena gaya hidup semata. Tapi menjadi simbol putus asa dan muak diinjak-injak karena keterbatasan finansial.
***
Setiap bekerja membersihkan satu kamar ke kamar lain di sebuah penginapan, Yoga (seorang housekeeping asal Nganjuk, Jawa Timur), selalu merasa sedih dengan kondisi ekonomi keluarganya. Pemasukannya pas-pasan. Sementara standar sosial di desa ternyata begitu sulit dikejar.
Bagaimana tidak. Yoga menyebut, untuk sekadar “dianggap” dan di-srawungi tetangga atau saudara, setidaknya harus menunjukkan capaian materiil bernilai besar: seperti rumah atau kemampuan membeli kendaraan (mobil atau seminimal-minimalnya motor keluaran terbaru di harga Rp30-an juta).
“Gara-gara itulah, bagi orang desaku yang secara ekonomi bisa dibilang miskin, sampai nekat utang. Pemuda desaku juga banyak yang nekat utang, pinjol, buat beli iPhone atau motor Yamaha Aerox misalnya,” ungkap Yoga.
Utang jadi simbol putus asa orang miskin desa, bukan gaya hidup semata
Yoga membaca, ada pemberitaan yang menyangsikan kebiasaan utang orang miskin di desa. Di media sosial pun ada narasi: sudah tahu miskin, masih aja utang untuk hal-hal tidak penting.
Narasi tersebut, bagi Yoga, tidak sepenuhnya keliru. Namun, karena melihat lebih dekat kehidupan orang-orang di desanya, Yoga mendapati fakta bahwa utang ternyata menjadi simbol putus asa. Bukan semata-mata persoalan gaya hidup.
“Logika mereka seperti ini: mereka sudah kerja keras mati-matian, tapi hasilnya ya mentok segitu-gitu aja pas-pasan. Nggak akan cukup untuk ini-itu,” kata Yoga.
Lanjut Yoga, pemuda di desanya pada dasarnya juga tidak nyaman terjebak cicilan (misalnya) saat membeli motor secara kredit. Namun, bagi orang miskin, rasa-rasanya nyaris mustahil bisa memulangkan motor dari dealer secara tunai.
Menabung? Masa sempat. Karena penghasilan yang didapat mayoritas hanya cukup untuk kebutuhan primer sehari-hari.
Orang miskin desa rela utang karena muak diinjak-injak
Sepintas, kata Yoga, pembelian barang konsumtif seperti hp mahal, kendaraan terbaru, maupun hal-hal sekunder lain memang terlihat seperti buat gaya-gayaan.
Namun, dalam kasus yang terjadi di desanya di Nganjuk, urusan utang juga untuk barang konsumtif juga berangkat dari perasaan muak diinjak-injak. Sebab, di desa Yoga, masyarakat punya standar sosial seolah-olah memaksa setiap orang untuk mengejarnya.
“Misalnya, kalau ada pemuda desa sudah bisa beli mobil, pemuda desa lain yang belum sanggup membeli pasti akan diinjak-injak harga dirinya. Dicap gagal, dicap hidup luntang-lantung,” jelas Yoga.
Contoh lain, ketika ada pemuda desa yang merantau dan pulang berhasil membangun atau seminimal-minimalnya merenovasi rumah orang tua, maka rumah tersebut nantinya bakal menjadi jujukan saudara atau tetangga. Rumah bagus menjadi alasan kuat untuk di-srawungi. Jangan harap hal itu terjadi kalau kondisi rumah masih jelek.
“Bahkan, ketika ada pemuda desa yang kerja di Jepang, wah anak-anak muda yang hanya di sini-sini saja, pasti sudah dianggap nggak berguna. Apalagi kalau para pekerja di Jepang itu sudah menunjukkan hasil kiriman bulanannya,” sambung Yoga.
Alhasil, setiap orang akhirnya berlomba-lomba mengejar standar sosial tersebut, meski kondisi finansial murninya sebenarnya tidak memungkinkan. Karena orang-orang di desa Yoga terkesan hanya menghargai mereka yang bisa menunjukkan pencapaian materi. Di titik ini, satu-satunya jalan yang bisa diambil adalah utang.
Mau cuek saja, tapi tertusuk tajamnya mulut tetangga
Yoga menyadari, utang adalah jalan pintas yang seolah memudahkan. Tapi seterusnya akan mencekik karena harus membayar cicilan tiap bulan.
Sebenarnya ada pilihan untuk cuek dengan standar-standar sosial yang telah mengakar di desanya. Lebih tahu diri, mengeluarkan kebutuhan untuk sesuatu yang memang vital untuk diri sendiri, bukan untuk memuaskan orang lain.
“Tapi kalau di desaku, cuek itu susahnya minta ampun karena tajamnya mulut tetangga maupun saudara,” tutur Yoga.
“Sekali mereka menghina atau menyindir, pasti orang akan terpancing untuk menyumpal mulut mereka, dengan cara ya mengejar standar sosial tadi,” imbuhnya.
Yoga sendiri mengalaminya. Ia pernah kerja di Bali. Kemudian kini pulang untuk bekerja di Nganjuk karena keinginan sang ibu. Pemasukannya berkurang. Di saat bersamaan, itu menjadi celah bagi tetangga untuk menggoblok-goblokkan Yoga.
“Sudah benar kerja di Bali malah memilih balik Nganjuk, ya balik melarat lagi.”
“Habis lama kerja di Bali, kok ya nggak ada uang sisa buat renovasi rumah kek.” Begitu ungkapan-ungkapan yang Yoga terima. Egonya tersenggol. Tidak terima direndahkan. Alhasil, bisik-bisikan untuk utang ke bank maupun pinjol pun terus terngiang di kepalanya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Lingkaran Setan Pemuda Desa: Terjerat Pinjol, Terjebak Judol, Bertahan Hidup dari Makan Hutang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan