Kerja freelance itu merdeka, jam kerja fleksibel tapi tetap banyak duit, nyatanya cuma menjadi omong kosong. Narasumber Mojok mengaku mereka menyesal, resign kerja dan memilih kerja lepas demi menghindari nine-to-five, malah berujung jam kerja yang lebih panjang dengan duit lebih sedikit.
***
Ada masa ketika Tyas (30) merasa keputusannya menjadi freelancer adalah langkah paling pas dalam hidupnya. Selama era pandemi hingga setidaknya tahun 2024, tren pekerjaan remote sedang berada di puncak kejayaan. Jejaringnya ke berbagai agensi membuatnya tak pernah kehabisan proyek.
Dalam sehari, Tyas bisa menangani tiga hingga lima klien sekaligus. Kalaupun pesanan sedang sepi, ia tak pernah panik. Ia cukup melempar portofolio di platform pencari kerja lepas atau sekadar menyapa jejaring lamanya, dan proyek baru pasti datang.
“Duit ngalir terus, padahal nggak perlu kemana-mana. Ngerjainnya pun nyantai banget,” ujarnya Tyas, Sabtu (12/9/2026). “Sampai bisa beli motor,” imbuhnya.
Ia merasa sangat aman secara finansial, bahkan sempat merencanakan tabungan untuk melanjutkan kuliah S2. Sayangnya, rencana itu hanya berakhir sebagai wacana belaka karena ia terlalu terlena menikmati zona nyaman dan derasnya uang yang masuk.
Kerja freelance mulai dihantam persaingan, bahkan tergilas AI
Namun, roda nasib berputar terlalu cepat. Memasuki tahun 2024, keran pekerjaan itu perlahan mampat. Pasar freelance tiba-tiba menjadi sangat jenuh.
Persaingan juga semakin brutal dengan banyaknya pendatang baru yang rela membanting harga jauh di bawah standard demi sekadar mendapat ulasan bagus atau membangun portofolio.
“Parahnya lagi, klien lama mulai berhenti nawarin proyek. Setahuku sih, mereka ini sudah bisa membuat produk desain secara mandiri,” jelasnya.
Belum lagi, imbuhnya, bayang-bayang ancaman AI generatif yang makin pintar mengambil alih pekerjaan-pekerjaan visual hanya dalam hitungan detik.
Alhasil, penghasilan Tyas pun terjun bebas. Bulan demi bulan terasa makin seret. Saat kondisi dompet semakin mencekik, ia mulai berpikir untuk menyerah dan mencari kerja kantoran biasa.
Sialnya, realitas menamparnya telak. Di usianya yang sudah 30 tahun, lembar riwayat hidupnya sama sekali kosong dari pengalaman kerja di struktur perusahaan formal. Ketika membuka portal lowongan kerja, ia langsung ciut melihat syarat “Maksimal usia 25 tahun“.
“Aku merasa nggak punya nilai tawar di mata HRD. Pasrah aja jadinya.”
Niat kabur dari rutinitas membosankan kerja kantoran
Jika Tyas hancur di urusan kantong, cerita berbeda dialami oleh Dias (29). Pemuda ini justru hancur lebur di urusan “bosan dengan rutinitas kantoran”.
Dias adalah tipe pekerja multitalenta. Ia memborong pekerjaan sebagai fotografer, editor video untuk beberapa KOL, hingga menjadi copywriter.
Berbeda dengan Tyas yang menjadi freelance sejak awal, Dias sempat mencicipi dunia kantoran pada tahun 2022. Namun, ia merasa tak betah. Rutinitas bekerja dari jam delapan pagi hingga empat sore membuatnya bosan setengah mati.
Selama masih berstatus karyawan, Dias kerap menerima tawaran freelance dari berbagai klien. Menyadari bahwa uang dari proyek sampingan ini dirasa cukup lumayan, ia mulai lelah harus membagi fokus.
Dengan keyakinan bahwa menjadi freelancer penuh waktu akan memberinya kebebasan untuk mengatur hidup, Dias akhirnya mantap mengajukan resign pada awal 2025. Ia membayangkan hidup yang ideal. Bisa bangun tanpa alarm, santai di kafe, lalu bekerja tanpa diatur presensi kantor yang ketat.
Omong kosong merdeka, nyatanya malah kerja 24 jam
Bayangan indah itu nyatanya hancur berantakan. Dias baru menyadari bahwa rutinitas jam delapan pagi sampai empat sore di kantor dulu sebenarnya cukup ideal. Minimal bisa membatasi waktu kerjanya.
Ketika statusnya berubah menjadi pekerja lepas, batasan waktu itu lenyap.
“Jadi freelance itu, artinya klien merasa berhak menghubungi kapan saja, bahkan di tengah malam, dengan embel-embel kayak revisi minor,” jelasnya, sambil mengeluh.
Memegang dua hingga tiga klien sekaligus rupanya bukanlah kebebasan. Kata Dias, dengan menggebu-gebu, itu malah seperti “menyerahkan leher pada banyak bos dalam satu waktu”.
Dias pernah mengalami momen paling menguras kewarasan saat dikejar tenggat waktu beruntun dari klien yang berbeda. Ia mengaku pernah duduk menatap layar komputer tanpa tidur sama sekali selama 24 jam penuh.
“Mata perih, otak buntu nggak karuan. Badan rasanya remuk,” ungkapnya.
Bahkan, jika dihitung secara saksama, penghasilan sebagai freelancer saat ini memang sedikit di atas gaji bulanan saat ia ngantor dulu. Namun, selisih uang itu nyatanya tak seberapa jika dibandingkan dengan level stres yang membengkak, hancurnya jam tidur, dan ketiadaan hari libur.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Beratnya Jadi Psikolog di Desa: Kalah sama Mitos “Kurang Iman” dan Warga yang Lebih Percaya Klenik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
