ADVERTISEMENT

Nongkrong di Warkop Tanpa WiFi Dianggap Repot dan Tak Asyik, Padahal Jadi Tempat Ngobrol Hangat dan Tanpa Distraksi

Nongkrong di warung kopi (warkop) tanpa WiFi di Surabaya dianggap tak nikmat, padahal tak kalah darui kedai kopi atau kafe modern MOJOK.CO

Sepintas, nongkrong di warung kopi (warkop) tanpa WiFi dianggap merepotkan dan tidak asyik. Sehari tanpa internet, betapa membosankannya. Namun, kini, warkop tanpa WiFi justru menjadi oase yang dibutuhkan dari interaksi yang terus mendangkal. 

***

ADVERTISEMENT

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern maupun kafe (yang tentu saja menawarkan fasilitas WiFi) di Surabaya, Sami justru masih bertahan dengan kebiasaan lamanya: kalau ngopi ya di warung kopi. Ada atau tidaknya WiFi di warkop tersebut, Sami tetap memilihnya sebagai tempat nongkrong terbaik. 

Ketersediaan uang bukan jadi persoalan. Sebab, jika dibandingkan dengan masa kuliah, keuangan Sami saat ini cenderung lebih baik. Ia sudah bekerja dengan upah (lumayan) layak. 

Kebiasaan pemuda asli Lamongan, Jawa Timur, tersebut tidak pelak disangsikan oleh sejumlah temannya: Memang apa sih nikmatnya ngopi di warkop atau kedai kopi tanpa WiFi? Sementara saat ini kebutuhan orang sudah sangat bergantung terhadap sambungan internet. Kalau bagi sejumlah teman Sami: setidaknya kalau terjadi dead air dalam obrolan, masih bisa membuka ponsel, berselancar di media sosial. 

“Mungkin karena aku tumbuh dalam kultur Lamongan ya, yang ngopi itu ya di warung-warung kopi, lepas dari hp, berbincang,” ujar pemuda asli Lamongan tersebut, Minggu (25/10/2026). 

Ngobrol dengan orang random di warung kopi (warkop): dapat pelajaran hidup

Sami bukannya anti dengan kafe atau kedai-kedai kopi modern. Sesekali ia juga ke kafe. Biasanya memang kalau ia sedang butuh WiFi untuk mengerjakan sesuatu. 

Namun, kalau pesan WhatsApp yang masuk ke ponselnya adalah ajakan untuk “ngopi”/nongkrong, maka warkop atau kedai kopi sederhana menjadi pilihan utama. Urusan ada WiFi atau tidak, ia tidak peduli. 

“Kadang juga kalau lagi nggak nongkrong, cuma pengin ngopi aja, ya datang sendirian ke warkop langganan di dekat kosan (di Surabaya),” kata Sami. 

Warkop-warkop di Surabaya kerap kali jadi persinggungan dari banyak elemen masyarakat kelas menengah ke bawah. Misalnya driver ojek online yang tengah ngaso (memesan ngopi agar tidak ngantuk, numpang nge-charge hp, hingga numpang tidur sejenak). 

ADVERTISEMENT

Meski berisi orang-orang random, tapi keakraban di warkop bisa terjalin dengan natural, meski tidak saling kenal. Paling hanya butuh satu pemantik yang membuat obrolan mengalir ngalor-ngidul. 

“Aku sering lah ngobrol sama stranger, maksudnya orang asing yang ketemu di warkop. Misalnya sama driver, sales motor, debt collector. Asyik. Kadang obrolan ngawur, kadang juga obrolan yang insightfull: ya minimal aku dapat pelajaran hidup lah dari obrolan itu,” beber Sami. 

Itulah kenapa, tidak jarang Sami menyendiri di warkop. Dengan melamun, mengamati sekitar, terlepas sejenak dari layar ponsel, ia menemukan banyak alasan untuk terus bersyukur meski hidup sedang brengsek-brengseknya. 

Bagi Sami, sensasinya mirip seperti menyendiri di kursi Indomaret dengan sebotol kopi Golda. Konseling murah kalau pakai istilah yang populer di media sosial. Toh harga segelas kopi di sejumlah warkop di Surabaya juga masih murah: Rp4 ribuan masih dapat. 

Warung kopi (warkop) tanpa WiFi bikin deep talk dan menikmati momen tanpa distraksi

Hanya sedikit teman Sami yang masih mau diajak ngopi atau nongkrong di warkop tanpa WiFi. Kebanyakan pasti mengeluh, dan kerap kali berujung absen, karena kalau tanpa WiFi mereka merasa “mau ngapain di warkop?”

Akan tetapi, bagi orang yang suka ngobrol seperti Sami, letak kenikmatan nongkrong justru di situ: tidak terdistraksi internet. “Aku sendiri kan kalau sudah ngobrol, pasti hp kuletakkan. Jadi nggak ngaruh ada WiFi atau nggak,” kata Sami. 

Jika sudah begitu, ia dan temannya bisa ngobrol banyak, dari yang ndakik-ndakik sampai deep talk. Jika dulu di masa kuliah basis obrolannya adalah intelektual, sekarang pas beranjak dewasa obrolan sedikit bergeser ke persoalan makna hidup. Dan itu menyenangkan bagi Sami. 

Momen deep talk dan ngobrol lepas itulah yang Sami nikmati. Sebab, hanya di warkop itulah ia bisa menikmati menjadi diri sendiri, melepaskan beban pikiran dengan teman, dan sesekali bertindak sebagai orang bijak yang tabah mendengar cerita-cerita dari temannya. 

Obrolan semacam itu menjadi oase kehangatan tersendiri di tengah obrolan yang terus mendangkal. Jadi oase dari obrolan dengan rekan kerja yang cenderung normatif dan formal, obrolan dengan teman yang punya kecenderungan tidak bisa lepas dari layar ponsel yang kerap mendistraksi obrolan, dan sejenisnya.

“Kalau ada momen dead air, ya nggak harus langsung buka hp. Solusinya juga nggak mesti harus mabar Mobile Legends. Kadang, dalam obrolan yang panjang dan deep semacam itu, masing-masing memang memerlukan jeda untuk diri masing-masing. Mencerna obrolan,” papar Sami. “Dead air itu ya bagian dari dinamika obrolan aja.” 

Toh dalam kasus yang Sami alami, dari momen dead air itu justru kerap muncul topik-topik obrolan lain yang benar-benar baru. Sehingga obrolan sekali duduk itu benar-benar kaya: dari ngobrolin hidup dan pekerjaan bisa-bisa langsung ke hikmah dari cerita nabi-nabi. 

Menemukan hiburan interaktif dan gayeng

Salah satu ciri khas warkop di Surabaya adalah ada televisi yang terus menyala (biasanya untuk menyiarkan sepak bola), papan catur, UNO, hingga kartu remi.

Maka dari itu, ketika obrolan sudah benar-benar terhenti, ada sejumlah pilihan hiburan. Kalau ada siaran sepak bola yang seru (Timnas, derby Jatim Persebaya vs Arema, atau laga klub-klub besar Eropa), mata-mata pengunjung warkop bisa tertuju ke layar televisi. Kalau tim dukungan membuang peluang ya mengaduh panjang, kalau mencetak gol ya berteriak penuh kemenangan. 

Prinsipnya, hiburan-hiburan fisik tersebut memungkinkan terjadinya interaksi yang gayeng. Bagi orang seperti Sami, di situlah letak kenikmatan nongkrong di warkop tanpa WiFi yang belum dipahami oleh penikmat kedai kopi modern sehingga menyimpulkan: nongkrong di warkop apa nikmatnya? 

“Lebih-lebih, sejak kemunculan kedai-kedai kopi modern, warkop biasanya itu dikesankan jadi warkop jamet kabupaten. Hanya karena nggak estetik. Lah tujuan nongkrong yang bersua, bercengkerama, bukan buat foto-foto,” tutup Sami. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.