Kereta api (KA) ekonomi memang kerap dikeluhkan, setidaknya untuk dua hal. Satu, kursi duduknya yang tegak lurus 90 derajat. Membuat punggung dan dengkul tersiksa sepanjang perjalanan. Apalagi jika dalam kursi dua kursi berkapasitas enam orang yang saling berhadapan itu penuh penumpang.
Dua, sering kali ada drama menyebalkan dari penumpang lain. Misalnya, penumpang yang kalau tidur bokongnya nyerong hingga mengganggu penumpang di sebelahnya. Atau kepalanya ndlosor ke samping kiri dan kanan. Belum lagi penumpang yang “buta maps”: nomor kursinya di mana, eh duduknya di mana.
Tapi begitulah gambaran realitas hidup—khususnya bagi kalangan kelas menengah ke bawah. Kalau pakai istilah Jawa: wong-wong kalahan (orang yang lebih sering kalah dengan nasib). Penuh dinamika, tapi harus dihadapi dan dijalani.
Terlepas dari itu, bagi beberapa orang (users kereta api ekonomi), di dalam gerbong yang pendingin udaranya kembang kempis dan kursi 90 derajat itu, ada beberapa situasi yang menghangatkan batin.
Leluasa berbagi cerita dan didengar di kereta api (KA) ekonomi
Sebagai users bus ekonomi, saya terbilang baru-baru ini menggunakan moda transportasi lokomotif. 1,5 tahun terakhir ini lah. Untuk rute perjalanan Jogja-daerah Jawa Timuran.
Beberapa kali saya terlibat dengan perbincangan hangat dan deep dengan penumpang sebelah saya. Rata-rata justru yang berusia lebih tua: 30-an tahun ke atas.
Awalnya sebenarnya dimulai dengan basa-basi biasa: bertanya ke mana tujuan saya? Pulang kampung kah? Atau kerja apa dan di mana? Tapi obrolan tidak berhenti di situ. Sebab, penumpang sebelah saya kemudian menjadi lebih leluasa berbagi cerita.
Tentang situasi-situasi tak menyenangkan yang mereka hadapi di perantauan. Kesedihan karena belum bisa menetap di kampung halaman bersama orang tua karena harus mencari rezeki di kota orang, dan macam-macam.
Saya menyimaknya dengan serius. Sesekali mengajukan pertanyaan balik. Dan itu membuat penumpang di sebelah saya makin leluasa bercerita. Kadang dengan semangat dan antusias, kadang dengan menyiratkan kegetiran.
Apakah saya tidak terganggu? Seharusnya iya. Karena jika tidak diajak berbincang, saya bisa gunakan waktu untuk sekadar memejamkan mata atau nonton film di OTT. Tapi, beberapa kali mengalami hal yang sama (mendengar orang bercerita di kereta api ekonomi) membuat saya menyadari satu hal: mereka hanya perlu bercerita dan didengar. Karena itu bisa sedikit banyak meloloskan beban-beban yang mereka pendam dalam batin.
Bagi saya, apa salahnya “membantunya”? Sebagai orang yang, lebih sering memendam sendiri kesulitan hidup yang saya hadapi, saya memahami betapa didengarkan itu sangat berpengaruh bagi kondisi batin.
Nasihat-nasihat kehidupan yang konkret dan tidak banyak teori ala content creator
Jujur. Saya nyaris selalu menutup telinga tiap kali ada nasihat atau motivasi dari content creator yang banyak muncul di setiap platform media sosial. Terlalu banyak teori. Dan, lagi pula, mereka berada di realitas yang berjarak dengan kondisi saya.
Tapi saya pastikan, saya akan membuka telinga saya lebar-lebar dan memegang betul setiap nasihat kehidupan dari orang-orang yang saya temui di jalan—termasuk di kereta api ekonomi. Konkret dan realistis.
Sesekali, ketika dalam keruwetan isi kepala karena kecemasan berlebihan terhadap hari esok, saya tidak hanya berposisi sebagai pendengar. Tapi juga giliran membagi cerita kepada penumpang di sebelah saya.
Dan sering kali saya mendapat nasihat-nasihat tak terduga. Salah satunya: orang-orang yang tak punya banyak pilihan seperti kita, yang mungkin adalah menciptakan bahagia versi diri sendiri. Misalnya, jika kita cukup bisa bahagia dengan sebatang rokok dan segelas kopi, makan nasi pecel di warung pinggiran, kenapa kita harus merasa tidak bahagia hanya karena tidak bisa jajan di mall atau restoran mewah?
Di kereta api (KA) ekonomi, berbagi tidak harus saling mengenali
Sadiqa (22) setuju. Perempuan yang kerap melakukan perjalanan dengan kereta api ekonomi rute Surabaya-Madiun itu bahkan nyaris tidak mengeluhkan ketidaknyaman kursi tegak. Karena ia sadar, itulah yang bisa ia dapat dari harga Rp80 ribuan.
“Kalau mau kursi nyaman, ya kan harus berani bayar mahal buat tiket KA eksekutif, to,” ucapnya melalui pesan singkat. Orang kelas menengah ke bawah seperti dirinya tidak punya keberanian untuk itu. Hanya menyisihkan opsi paling realistis: tiket murah kereta api ekonomi. Yang penting sampai ke tujuan dengan selamat, itu kenyamanan utamanya.
Tapi ketidaknyamanan itu bukan berarti tidak menyisakan hal-hal baik secuil pun. Di kereta api ekonomi, Sadiqa mengaku kerap menerima perlakuan-perlakuan hangat.
“Sering aku nemu penumpang lain berbagi makanan atau camilan yang dia bawa. Nggak sekadar basa-basi menawari. Tapi bener-bener ngasih,” ungkap Sadiqa.
Tentu tidak setiap tawaran makanan harus diterima. Sadiqa sendiri, biasanya akan menolak halus jika si pemberi adalah laki-laki. Tapi jika sesama perempuan, Sadiqa mempertimbangkan untuk menerima.
“Apalagi kalau ibu-ibu. Pernah aku duduk sama ibu-ibu. Di mengeluarkan bekal kayak jajanan pasar. Aku dikasih, ya aku terima. Demi melegakan hati si ibu-ibu itu,” ucapnya.
Kadang hanya sebatas saling berbagi. Tapi tak jarang pula, sebuah pemberian itu menjadi pintu masuk untuk saling berbincang.
Berbagi bantuan pun amat sering ia dapati di kereta api ekonomi. Misalnya, ada perempuan (muda atau ibu-ibu) kesulitan menaikkan barang bawaan ke rak kabin. Situasi itu tidak mengharuskan seorang perempuan memanggil petugas atau porter. Ada laki-laki yang berinisiatif memberi bantuan menaikkan. Kalau tidak, menjawil orang untuk minta bantuan pun rasa-rasanya kecil kemungkinannya untuk diabaikan.
Turun dengan rasa syukur yang berlipat ganda
Mirip dengan kasus saya, Dapin (24) mengaku kerap menemukan nasihat atau pelajaran hidup di kereta api ekonomi rute Jogja-Sidoarjo (Krian).
Dapin mengaku sisi emosionalnya masing sering terombang-ambing. Kecenderungan Gen Z katanya. Atau kalau dalam fenomena psikologi usia awal 20-an: sedang di fase quarter life crisis.
Kecemasan berlebihan sering Dapin hadapi di malam-malam lengang kamar indekosnya. Merasa gagal dan belum menjadi apa-apa. Merasa paling tidak beruntung karena nominal gaji yang diterima, dan seterusnya.
“Di kereta KA ekonomi, aku bertemu dengan oran-orang yang bahkan hidupnya jauh lebih struggle dari hidupku. Mereka ngeluh, manusiawi. Tapi mereka memilih tetap tatag menjalani hidup sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya dijalani,” ucap Dapin.
Ya ada banyak lah cara pandang-cara pandang baru yang kemudian mempengaruhi Dapin dalam memandang hidup. Disampaikan dengan cara sederhana, tanpa kiasan-kiasan puitis, melankolis, atau nada meledak-ledak ala motivator.
Setiap turun di stasiun tujuan, Dapin lalu merasa jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Memang, labilitas Dapin masih tinggi. Sekejap bersyukur, tapi di titik tertentu juga gampang terdistraksi untuk overthinking kembali.
Tapi, setidaknya, setiap hal yang ia cemaskan, selalu akan luruh dengan belajar dari cara hidup orang lain—sesama wong kalahan—-yang ia temui di sepanjang perjalanan dengan moda transportasi kereta api ekonomi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Desa Pertama Kali Naik Kereta Api Ekonomi: Banyak Gaya karena Bosan Naik Bus Ekonomi, Berujung Nelangsa Beli Nasgor di KAI atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














