Senyum-senyum sendiri karena masa lalu
Ingatan-ingatan masa lalu saling berkelindan seiring lagu demi lagu yang diputar di dalam bus patas Haryanto. Sebab, lagu-lagu tersebut adalah lagu-lagu yang menjadi bagian dari hidup Aji remaja.
“Aku dulu bahkan punya kaset bajakan kompilasi video klip band-band 2000-an. Kalau hari Minggu kuputar kenceng-kenceng, terus aku ikut nyanyi sambil memeragakan seolah aku bintang dalam video klip,” kata Aji sembari terkekeh.
Lagu-lagu tersebut memang menemani cerita romansa remaja Aji. Masa-masa cinta monyet lah. Ada masa berbunga-bunga saat sedang jatuh cinta. Ada masa galau dan sedihnya ketika bertepuk sebelah tangan.
Kenangan-kenangan itu membuat Aji senyum-senyum sendiri di dalam bus patas Haryanto rute Kudus – Jogja. Kata Aji, lucu saja ketika dulu menembak teman sekelas, tapi setelahnya nyaris tidak pernah jalan bareng. Hanya sekadar berkirim pesan romantis dan gombal melalui SMS.
“Waktu aku SMP dulu kan, yang disebut pacaran, pokoknya nembak dan diterima. Setelah itu nggak jalan bareng pun nggak masalah. Yang penting orang tahu kalau aku pacaran sama dia. Aku bisa kirim-kiriman SMS gombal ke dia. Kan cuma sebatas itu,” ucap Aji. “Paling mentok kan membelikan kado hadiah ulang tahun.”
Seketika sendu dan muram, membenci masa sekarang
Hanya saja, terselip di antara kenangan-kenangan itu: kenyataan sendu dan muram bahwa masa-masa remaja sudah tertinggal jauh di belakang. Yang ada adalah hari ini, masa kini, dan hari esok penuh ketidakpastian.
Tiba-tiba saja, di tengah alunan lagu-lagu Noah di dalam bus patas Haryanto Kudus – Jogja, suasana batin Aji berubah menjadi sendu dan muram.
“Rasanya baru kemarin aku masih SD, terus beranjak remaja. Nggak mikir suatu saat bakal kerja apa, punya uang cukup nggak buat hidup? Eh tiba-tiba ada di masa sekarang. Masa serba overthinking karena merasa gagal, merasa belum bisa ngejar standar-standar hidup tertentu,” ucap Aji.
Kenyataan itu membuat Aji mengusap wajahnya berkali-kali. Di satu titik bahkan ia nyaris menangis meratapi nasibnya. Sebab, ternyata menjadi dewasa tidak semenyenangkan yang dibayangkan.
Itu membuat Aji, kalau bisa memilih, mending memilih terjebak di masa kanak-kanak atau remaja, tanpa pernah beranjak dewasa. Tidak masalah jika terikat aturan “tidak boleh pulang larut malam” atau terhalang batas “anak kecil tahu apa?”.
“Rasa-rasanya itu tidak lebih buruk dari kehidupan orang dewasa: gaji imut masih harus mikir THR buat saudara. Sudah kerja mati-matian tapi nggak kaya-kaya, dianggap anak gagal di kampung halaman,” tutup Aji.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














