Di tengah maraknya inhaler tau roll-on minyak angin aromaterapi dari FreshCare, Kenia lebih memilih pakai Cap Lang, minyak angin asal Singapura yang mulai diproduksi di Indonesia tahun 1973. Di usia 30-an, minyak angin jadi kebutuhan primer yang tak bisa ia tinggalkan.
Setidaknya, ia selalu menyisihkan gajinya untuk membeli minyak angin. Toh, harganya tidak terlalu mahal. Khusus untuk minyak angin ukuran kecil misalnya, harganya mulai dari Rp10 ribu. Itu pun tidak akan habis selama satu bulan.
“FreshCare dulu belum populer seperti sekarang makanya aku pakai produk minyak angin yang udah lama. Itu pun dikenalin sama teman-temanku. Jadi setelah ngonser aku merasa badanku nggak enak, terus direkomendasikan lah sama mereka produk Cap Lang ini dan aku langsung suka sama baunya,” kata Kenia.
Jujur saja, saat kecil, Kenia mengaku tidak terlalu suka bau minyak yang dipakai oleh orang tuanya. Dulu, orang tuanya seringkali mengundang tukang pijat ke rumah sehingga bau dari minyak tawon itu biasanya menyebar ke seantero ruangan.
Lebih dari itu, minyak angin juga sering dihubungkan dengan bau orang tua atau orang lanjut usia dan terkesan jompo. Namun, alih-alih takut diejek jompo padahal belum terlalu tua, Kenia lebih memilih bodo amat.
“Toh, teman-teman sekitarku yang usianya 30-an juga pakai,” kata Kenia.
Minyak angin, kebutuhan primer orang jompo
Di usia 30-an, Kenia pun mengerti mengapa banyak orang tua sering mengoleskan minyak angin ke badan. Ternyata, faktor usia itu memang benar adanya. Melansir dari Medical Daily, tubuh usia 30-an dapat mengalami perubahan khususnya pada perempuan.
Perubahan yang terjadi seperti massa tulang mulai berkurang, berat badan rentan bertambah, periode menstruasi yang berubah, hingga kulit yang rentan kering. Kelelahan di usia 30-an juga bisa disebabkan karena gaya hidup tidak sehat, kurang gerak, kurang tidur, pola makan buruk, hingga stres.
“Entah kenapa di usia 30-an ini tubuh jadi nggak prima lagi. Mungkin karena jarang olahraga juga kali ya terus keseringan madep (menghadap) laptop. Mau nonton konser dan berdiri berjam-jam aja udah nggak kuat,” ucapnya.
“Setelah itu (konser) aku jadi sering pakai minyak angin untuk menghindari gigitan nyamuk. Makin ke sini, aku suka coba minyak dengan bau-bau lain yang meredakan pusing sama menghangatkan badan,” kata Kenia.
Melansir dari laman resmi Akademi Farmasi Cendekia Farma Husada, minyak angin yang mengandung minyak atsiri memiliki beragam manfaat, seperti mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, meredakan nyeri dan peradangan, hingga membantu pengobatan secara tradisional mulai dari flu, sakit kepala, dan gangguan pencernaan.
Tak berani pakai di ruang umum atau kondisi ramai
Namun, Kenia sadar, tak semua orang seusianya bahkan orang lain menyukai bau minyak angin. Seperti dirinya yang saat kecil tak menyukai bau minyak tawon. Oleh karena itu, Kenia cukup selektif memilih bau minyak angin dan bijak untuk mengetahui kondisi sekitar.
“Kalau misalnya aku lagi ada di tempat umum, aku nggak akan pakai yang baunya menyengat atau biasanya aku pakai sedikit,” ujar Kenia.
Salah satu merk yang dipakai Kenia adalah Green Oil Herbal, Minyak Angin Lang, dan Cap Kapak. Rata-rata, minyak tersebut mengandung aromaterapi dan klorofil yang membantu meredakan masuk angin, pusing, mual, mabuk, pegal-pegal, serta meredakan gatal akibat gigitan serangga.
“Aku juga mau coba cari-cari merk lain gitu, jadi kayak ngoleksi saking sukanya,” ucap Kenia bersemangat.
Dibandingkan dengan minyak bayi, koyo, FreshCare, Kenia mengklaim masih tetap menyukai minyak Cap Lang. Menurutnya, efek dari minyak Cap Lang lebih terasa daripada produk lain.
“Kalau minyak bayi rasanya kurang hangat, terus kalau koyo harus ditempel-tempel ke badan gitu kan, agak risih aja. Nah kalau FreshCare ini jujur aku nggak ada ketertarikan untuk nyoba. Mungkin karena aku udah nyaman dengan minyak angin ini ya,” jelas Kenia.
Minyak angin legendaris tak lekang oleh waktu
Selain Cap Lang, sebagian anak menjelang usia 30-an juga memakai produk lain. Seperti Khumairoh yang menggunakan minyak angin Medicated Oil. Atau Eka yang lebih menyukai minyak Gandapura.
“Aku biasa pakai kalau tenggorokan udah mulai nggak enak. Ku oleskan saja di tubuh asal nggak di area hidung pas atau mata. Pedih pasti. Dan jangan nunggu batuk. Nanti biasanya aku nggak jadi batuk. Tapi baunya memang kuat bagi aku,” kata Khumairoh.
“Aku biasa pakai Gandapura setelah mandi terus mau tidur, wah itu badan rasanya rileks. Nyeri otot sama pegal-pegal di badan jadi hilang,” ucap Eka.
“Apalagi pas musim dingin atau hujan ya, kan musim sakit. Aku sering olesin minyak angin ke tubuh sambil pakai kaos kaki, baca buku di rumah, pokoknya biar rileks aja gitu biar nggak sakit,” kata Kenia.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
