Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung

Ilustrasi - Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung (Mojok.co/Ega Fansuri)

Tabungan itu penting. Namun, bagi beberapa mahasiswa di Jogja yang hidupnya masih susah, menabung adalah hal yang sulit dilakukan. Sekadar makan saja mereka masih harus gali lubang tutup lubang.

***

Nggak punya tabungan sekarang dinilai sama dengan nggak terlalu peduli sama diri sendiri di masa depan. Anggapan begitu, kian berkembang dengan masyarakat yang disebut semakin melek terhadap pentingnya memiliki tabungan untuk masa depan. Ditunjukkan melalui indeks literasi keuangan yang meningkat mencapai 65,43 persen, orang-orang saling mendorong satu sama lain untuk mempunyai tabungan.

Tapi persoalannya, kalau untuk mahasiswa yang hanya bergantung pada kiriman orang tua. Lalu, habis untuk kebutuhan bertahan hidup sehari-hari. Punya tabungan, mana bisa?

Pengalaman ini dirasakan oleh mahasiswa yang berkuliah di UGM. Uang bulanan yang tidak besar menjadi kendala untuk punya tabungan di tengah gembar-gembor peningkatan melek finansial.

Mahasiswa hanya dibekali uang bulanan seadanya

Sampai dengan tahun lalu, saat menempuh studi sarjana, uang saku saya berada pada rentang Rp1,5 juta. Nominal ini rasanya tidak akan cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan layak, apabila tidak dihemat sebisa mungkin. Itu pun akan sangat engap membayangkannya.

Namun ternyata, uang bulanan itu masih berlaku untuk salah seorang mahasiswa UGM, Elisabeth, (24), yang tidak mengalami kenaikan sejak awal kuliahnya. Besaran ini diberikan secara langsung dalam nominal Rp5 juta, yang membuat Elisabeth mencoba mengatur sebisanya berapa lama uang yang diberikan dapat bertahan.

“Kalau Rp5 juta, mungkin Rp1,5 juta per bulan, ya. Biasanya bisa tahan sampai 3 bulan,” kata Elisabeth melalui sambungan telepon, Selasa (10/2/2026).

Elisabeth bercerita, tidak ada besaran pasti dan waktu untuk uang tersebut membuatnya mengusahakan sebisa mungkin untuk bertahan selama mungkin. Orang tuanya tidak mengira kapan uang itu habis, tapi sebagai anak, Elisabeth berupaya untuk tidak merepotkan.

“Orang tua kirim segitu, kalau habis baru diberi lagi. Tapi ya, aku usahakan tahan lama,” ujarnya.

Mahasiswa kelahiran Banjarnegara, Tata (23) mengalami serupa. Orang tua hanya mengiriminya Rp1 juta untuk satu bulan bertahan di perantauan. Uang bulanan segini, barang tentu akan membuatnya lebih terhimpit untuk dapat memenuhi sekadar kebutuhan sehari-hari.

“Aku dikasih Rp1 juta sebulan,” kata Tata dengan santai kepada saya, Senin (9/2/2026) kemarin.

Ia bukan tidak pusing, tapi mencoba untuk tidak terlalu mengambil pikiran. Sehari-hari bagi Tata adalah soal bertahan dengan uang seadanya, sebisanya.

Tidak sebanding dengan biaya hidup mahasiswa

Uang bulanan Elisabeth maupun Tata tidak akan memenuhi survei biaya hidup mahasiswa (SBHM) yang dilakukan UPN “Veteran” Jogja. Surveinya menunjukkan peningkatan rata-rata pengeluaran Rp2.97 per bulan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 juga mencatat standar hidup di Kota Jogja mencapai Rp20,6 juta per tahun. Artinya, rata-rata penduduk Kota Jogja mengeluarkan sekitar Rp1,7 juta per bulan. Angka yang masih belum pasti bisa dicapai dari uang bulanan mahasiswa di Jogja.

Dengan ketidaksebandingan ini, Tata mengatakan dirinya tidak dapat membuat pengaturan keuangan yang “saklek”. Sebagian besar berusaha disiasati untuk dapat setidaknya bertahan sampai kembali mendapatkan kiriman.

“Aku bagi Rp250 ribu buat makan per minggu. Udah, itu,” ujarnya.

Siasat “gali lubang tutup lubang” demi bertahan, lebih banyak habis buat makan

Begitu diberi tahu pembagiannya yang tidak mengenal kata pasti, saya bertanya cara Tata bertahan apabila ada kebutuhan tidak terduga, seperti keluar untuk kerja kelompok di coffeshop—ini sudah lumrah di kalangan mahasiswa.

“Kalau ke coffeshop, aku akali sekalian makan. Jadi habis itu, aku nggak makan,” katanya.

Akal-akalan ini ironis, tetapi dapat dimengerti. Bahkan, dalam pengeluaran normal yang tidak ada kebutuhan untuk pergi ke tempat yang setidaknya mengharuskan pengeluaran paling sedikit Rp20 ribu dalam sekali duduk, pemenuhan harian pun belum tentu tercukupi. 

Kisaran harga makanan di burjo yang berada di sekitar UGM mematok Rp10-15 ribu. Dalam satu hari untuk tiga kali makan, mahasiswa setidaknya perlu menghabiskan Rp30 ribu. Totalnya, mahasiswa mengeluarkan Rp900 ribu dalam satu bulan, kalau sanggup bertahan hanya dengan menu yang juga tidak terlalu bervariasi. 

Selain Tata, Elisabeth juga mengakui, pengeluaran paling besarnya adalah kebutuhan makan. “Rp1 juta bisa cuma buat makan,” katanya.

Sekitar 60 persen dari uang bulanannya ini bukan ditujukan untuk makanan tanpa alasan. Baginya, makan menjadi prioritas untuk dapat memperoleh asupan selama perkuliahan. Dengan menghabiskan nominal yang disebutkan juga, gaya hidup dalam makan Elisabeth tidak dapat dikatakan berlebihan.

Survei Pusat Studi Ekonomi dan Keuangan Industri Digital UPN “Veteran” Jogja bersama Bank Indonesia pada tahun 2024 membenarkan tiga pengeluaran terbesar mahasiswa dihabiskan untuk makan (26 persen). Kedua lainnya yang menyusul barulah gaya hidup sebesar 23 persen dan indekos 22 persen.

Dari makan, bertahan, ujungnya nggak bisa punya tabungan

“Tapi, kamu punya tabungan, Ta?” tanya saya.

“Nggak. Aku hidup paycheck to paycheck aja,” ujarnya.

Saya menanyainya, apakah ada keinginan untuk menyisihkan sebagian uang untuk menabung yang tidak bisa diwujudkan. Katanya, benar. Bukan tidak ingin mempunyai tabungan, tapi bertahan sehari-hari saja sejujurnya masih terasa seperti sebuah kesulitan.

“Bayangin sebulan dengan sejuta. Belum makan, belum wifi kosku juga selalu nggak nyantol, aku harus beli kuota juga,” katanya.

“Bukan nggak mau menabung ya, tapi nggak bisa,” tambah dia.

Tentu, membayangkannya saja tidak nyaman. Bahkan, Elisabeth, dengan uang bulanan yang sedikit lebih besar darinya mengaku, belum bisa konsisten dengan menabung. Ia berupaya menyisihkan Rp10 ribu per hari, mengakali dengan gaya konvensional dalam menabung: celengan.

Tapi sejak setahun yang lalu, celengannya belum juga penuh. “Udah setahun kayaknya, belum [penuh],” kata Elisabeth.

Survei GoodStats mengungkapkan hal serupa. 23,4 persen respondennya mengaku belum konsisten dalam menabung. Dua alasan teratasnya memilih langsung membelanjakan uang dan pendapatan yang tidak cukup. Untuk mahasiswa, keduanya adalah alasan yang juga mendasari keputusan finansialnya. 

Tidak bisa membuat rencana pengeluaran dengan lebih matang sebab serba pas-pasan, dibekali uang bulanan tidak seberapa, hasilnya adalah kecenderungan menomorduakan tabungan yang dikalahkan prioritas memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tabungan masih mungkin, kalau mahasiswa meluangkan

Jalan keluar dari masalah keuangan yang membelenggu, apa lagi dengan mahasiswa tidak mudah. Ada yang harus mengakui bahwa mereka tidak terlalu bisa melakukan banyak hal, ada yang sesekali juga menuding mahasiswa bisa mencoba mencari uang tambahan dengan bekerja sampingan. 

Tapi, ketika saya menanyakan ini kepada Tata, pekerjaan sampingan atau part time nyatanya tidak pernah mudah. Menghabiskan setengah waktu di kampus, setengah lagi di pekerjaan, seringnya juga setengah untuk tugas-tugas yang dibawa pulang: akal dan tenaganya menjadi tidak bersisa.

“Jadinya, dulu aku bisa [part time], sekarang aku belum bisa semaksimal itu kayaknya. Mentok aku dapat Rp500 ribu udah lumayan besar, itu pun susah buat aku menabung. Seringnya aku belikan skincare atau buat gym,” katanya.

Uang hasil pekerjaan sampingannya digunakan untuk kebutuhan sekunder yang barangkali juga dapat dikatakan primer untuk sebagian orang—yang sulit didapatkan sebelumnya. Financial Consultant OneShildt, Ully Safitri, menjelaskan kesulitan ini sebetulnya menjadi kendala dalam mahasiswa saat ini mempunyai bekal dana untuk hari-hari mendatang.

Di antara beberapa hambatan paling realistis untuk mahasiswa bisa menabung, Ully menyebut tiga di antaranya adalah ketidakpastian pendapatan dari orang tua maupun diri sendiri yang berusaha memperoleh uang tambahan, pengeluaran tidak terduga dalam mengerjakan tugas kuliah atau praktikum yang merogoh kocek, dan fear of missing out.

Yang terakhir, Ully menyebutnya hadir bersama tekanan sosial. “Pengin kayak orang lain,” ujarnya kepada Mojok, Senin (9/2/2026).

Namun menyadari mahasiswa yang berada dalam rentang remaja beranjak dewasa, keinginan tersebut menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Oleh sebab itu, setidaknya, Ully mengatakan bahwa mahasiswa harus mencoba menerapkan keberimbangan dalam survive dan saving. Kalau mau melakukan, punya tabungan masih memungkinkan.

Survive [yang pertama], and still saving walau sedikit,” katanya.

Tidak harus memulai dengan nominal besar, sebisanya dalam satu hari untuk disisihkan sudah diapresiasi. Katakan, Rp10 ribu per hari dikumpulkan secara konsisten. Konsultan keuangan ini memperkirakan akan ada dua keuntungan yang didapatkan: konsistensi untuk terus mengupayakan, serta tabungan untuk diri sendiri dan masa depan tanpa disadari.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version