Menyandang gelar Sarjana Kimia dari Universitas Gadjah Mada (UGM) nyatanya bukan jaminan mudah mendapatkan pekerjaan. Setelah dua tahun menganggur dan mengirim sekitar 300 berkas lamaran tanpa hasil, lulusan kampus biru ini terpaksa menepikan “idealismenya”.
***
Rabu (15/7/2026) siang, terik matahari di luar Auditorium LPP Agro Nusantara, Jogja, sedang panas-panasnya. Sementara di dalam gedung sudah dipenuhi oleh ratusan jobseeker yang berlalu-lalang membawa map cokelat berisi berkas lamaran kerja.
Di tengah kerumunan tersebut, Khalila Majied (24) sedang berdiri mengantre. Perempuan asal Jogja ini tampak menyimak penjelasan staf di salah satu stan perusahaan ritel. Ia aktif menanyakan detail jam kerja, sistem penempatan, hingga kriteria pegawai yang dibutuhkan.
“Memang tertarik sih. Kalau ada kesempatan, inginnya kerja dulu di industri retail,” ujarnya siang itu.
Sekilas, langkah Khalila tidak ada bedanya dengan para pelamar lain yang memadati auditorium siang itu. Namun, profil pendidikannya menunjukkan latar belakang yang berbeda.
Khalila bukanlah lulusan manajemen atau administrasi. Ia adalah sarjana program studi S1 Kimia dari Universitas Gadjah Mada (UGM), kurang begitu linear dengan bidang kerja yang siang itu ia kepoin.
“Iya sih. Merasa kurang linear. Tapi bagaimana lagi ya, Kak, namanya aja keadaan,” jelasnya sambil tertawa.

Dua tahun tanpa pekerjaan, 300 lamaran kerja menguap begitu saja
Keputusannya untuk terjun ke industri ritel sebenarnya didasari alasan yang sangat realistis: mencari pekerjaan saat ini memang tidak mudah.
Khalila mengaku, sudah dua tahun sejak dinyatakan lulus, ia masih berstatus pengangguran. Dalam kurun waktu tersebut, ia mencatat telah mengirimkan sekitar 300 berkas lamaran kerja.
Ia mencoba nyaris semua jalur rekrutmen. Mulai dari mengirim pesan melalui email langsung ke bagian HRD perusahaan, hingga memanfaatkan platform pencarian kerja digital seperti Jobstreet, LinkedIn, dan Glints.
“Itu angka yang aku ingat, sih. Mungkin malah bisa lebih dari 300,” jelas lulusan UGM ini.
Hasil dari ratusan upaya itu mayoritas berujung nihil. Ia mengatakan, sebagian besar lamarannya tidak mendapat balasan sama sekali. Sementara itu, ada puluhan perusahaan lain yang memberikan respons, tetapi sekadar mengirimkan pesan penolakan.
Sekalinya ada yang sudah sampai interview, malah “di-ghosting”
Khalila bercerita, pengalaman yang paling mengecewakan justru terjadi ketika ia berhasil melaju hingga tahap wawancara. Saat itu, pihak perusahaan sudah memberikan sinyal positif dan menyatakan ketertarikan pada profil kemampuannya.
Namun, setelah proses wawancara selesai, tahapan rekrutmen itu berhenti begitu saja. Pihak perusahaan tidak memberikan kabar lanjutan, alias di-ghosting.
“Minimal kan diterima apa tidaknya harus dikabari ya, biar kalau ditolak ya kita bisa move on ke perusahaan lain. Kalau di-ghsoting, saya jujur maju mundur karena tak ada kejelasan,” ungkapnya.
Rentetan kegagalan ini, diakui Khalila, memunculkan tekanan tersendiri. Sebagai seorang sarjana, ia tidak menampik adanya ekspektasi dan target karier pribadi yang kerap membebani pikirannya.
Pencariannya yang panjang akhirnya membawa Khalila ke gelaran Job Fair Jogja. Bursa kerja ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, tepatnya pada Rabu dan Kamis, 15-16 Juli 2026. Acara yang digelar di Auditorium LPP Agro Nusantara ini menghadirkan puluhan perusahaan dari berbagai sektor untuk mempertemukan pelamar dengan kriteria yang dicari oleh pihak industri.
Ada yang menarik dari penyelenggaraan acara kali ini. Panitia mengusung tema “Transformasi dari Kaum Rebahan menjadi Kaum Gajian” yang terpampang pada spanduk acara. Jargon tersebut ditujukan untuk memotivasi anak muda agar segera mendapatkan pekerjaan.
Namun, di lapangan, frasa “kaum rebahan” terasa berjarak dengan realitas pencari kerja seperti Khalila. Selama dua tahun terakhir, ia tidak pernah sekadar bersantai di rumah. Sebaliknya, ia terus bergerak aktif mendatangi berbagai bursa kerja dan mengirim ratusan berkas lamaran tanpa henti.
Bursa kerja belum mengakomodasi tenaga kerja seperti dirinya
Sebenarnya, Khalila memiliki rekam jejak akademik dan pengalaman yang mumpuni. Semasa berstatus sebagai mahasiswa, ia pernah mengikuti program magang di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Posisi dan pekerjaannya saat itu sangat linear dengan ilmu kimia yang ia pelajari.
Hanya saja, lokasi perusahaan BUMN tempatnya magang berada di luar pulau. Setelah resmi lulus dan memegang ijazah, Khalila membuat keputusan untuk mencari pekerjaan yang lokasinya dekat dengan rumahnya di Jogja terlebih dahulu.
Di titik inilah ia berbenturan dengan kondisi nyata pasar kerja di daerah. Lowongan pekerjaan yang secara spesifik menyerap lulusan Kimia di wilayah Jogja sangat terbatas jumlahnya. Ia kesulitan menemukan perusahaan yang membutuhkan kualifikasi sesuai dengan ijazahnya.
“Sekalipun ada posisi yang linear dan membuka lowongan, standard gaji yang ditawarkan kadang-kadang masih nggak sesuai ekspektasi,” kata lulusan UGM ini.
Kondisi bursa kerja yang sempit ini memaksanya untuk memutar otak dan bersikap realistis. Khalila sangat menyadari bahwa pekerjaan di sektor ritel sama sekali tidak bersinggungan dengan ilmu sains yang ia tekuni di laboratorium kampus.
Meski begitu, ia memilih untuk berkompromi dengan keadaan. Untuk saat ini, Khalila menyatakan bersedia menerima pekerjaan di bidang apa saja yang mau memberinya kesempatan. Ia tidak lagi bersikeras mengejar posisi yang ideal atau linear dengan jurusannya.
Kini, targetnya sederhana: mendapatkan pengalaman kerja. Ia mengaku butuh mengisi kekosongan waktu dua tahun di dalam CV-nya, sekaligus mulai membangun portofolio dari nol.
“Ya untuk saat ini realistis dulu. Ritel sepertinya masih punya prospek kerja menjanjikan, jadi nggak ada salahnya dicoba.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ironi Sang Sarjana Pemegang Gelar S1 dan S2: Rasa Iri Abadi kepada Lulusan UGM, Kampus Terbaik di Jogja yang Katanya Sulit Dapat Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan