Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

Lebaran.MOJOK.CO

Ilustrasi - Momen lebaran. (Mojok.co)

Tak sedikit orang merasa lebaran menjadi momen penuh rasa trauma dan kesedihan. Kalau bisa, bahkan mereka ingin menghilangkan momen setahun sekali ini dari kalender.

***

Lebaran selalu identik dengan kebahagiaan. Kalau kita lihat iklan-iklan di TV, gambaran hari raya selalu seragam: keluarga utuh yang berkumpul di ruang tamu, memakai baju seragam, makan ketupat dan opor ayam sambil tertawa lepas. 

Ada tradisi sungkeman yang diakhiri dengan pelukan hangat, tangis haru, dan saling memaafkan. Masyarakat kita seolah punya standar baku bahwa Lebaran adalah hari kemenangan yang wajib dirayakan dengan suka cita bersama keluarga besar di kampung halaman.

Bagi sebagian besar orang, gambaran itu memang nyata dan ditunggu-tunggu. Tapi sadar atau tidak, standard kebahagiaan ini diam-diam jadi beban tersendiri buat mereka yang keadaan keluarganya tidak lagi utuh. 

Tidak semua orang suka Lebaran

Ekspektasi untuk tampil bahagia dan harmonis saat Lebaran sering kali terasa seperti paksaan yang melelahkan. Apalagi, kalau kenyataan di rumah justru berbanding terbalik dengan kehangatan ala iklan di televisi.

Coba saja buka media sosial seperti TikTok atau Threads menjelang hari raya. Pemandangannya bisa berbeda 180 derajat. Di sana, banyak orang yang terang-terangan mengaku malas, cemas, atau bahkan takut menyambut datangnya Lebaran.

Di TikTok, tidak sulit menemukan konten curhat dari anak-anak muda yang berasal dari keluarga broken home. Bagi mereka, Lebaran sudah kehilangan makna sakralnya. Kumpul keluarga hanya jadi ajang pamer pencapaian atau justru memicu keributan lama dengan orang tua yang tak kunjung usai. 

Sementara di Threads, banyak juga pengguna yang bercerita betapa sepinya suasana Lebaran setelah mereka menjadi yatim piatu. Pulang ke kampung halaman tak lagi punya tujuan karena rumah sudah kosong tanpa kehadiran orang tua. 

Di ruang-ruang digital inilah mereka menemukan teman senasib. Mereka saling memvalidasi perasaan bahwa tidak apa-apa kalau tidak merasa bahagia saat Lebaran. Hari raya ternyata bisa jadi momen yang paling ingin dihindari oleh banyak orang.

Lebaran jadi momen penuh trauma sejak ibu tiada

Salah satu orang yang menganggap Lebaran sebagai momen penuh trauma adalah Elsa (26), salah satu kawan baik saya. Bagi perempuan asal Sukabumi ini, Lebaran adalah satu hari dalam setahun yang paling ingin dia “skip” atau lewati begitu saja dari kalender hidupnya.

Semua cerita pahit ini bermula pada tahun 2023. Saat itu, Elsa harus menerima kenyataan berat karena ibunya meninggal dunia akibat sakit. Elsa adalah anak perempuan yang amat sangat dekat dengan ibunya. Alhasil, kehilangan itu membuat dunianya seakan berhenti berputar. 

“Sepanjang hidup aku bahkan nggak pernah membayangkan kalau ibu bakal pergi secepat ini, bahkan di saat sebentar lagi aku wisuda,” kata dia, Kamis (5/3/2026).

Hari-harinya diisi dengan usaha keras untuk berdamai dengan keadaan, mencoba menata hati, dan membiasakan diri hidup tanpa tempatnya bercerita.

Namun, ujian terberatnya justru datang saat Lebaran 2024. Waktu itu, baru sekitar tujuh bulan sejak sang ibu berpulang. Bagi Elsa, waktu tujuh bulan adalah proses yang terlalu singkat untuk bisa sembuh dari luka kehilangan. 

Namun, ternyata hal itu tidak berlaku bagi ayahnya. Tepat di momen Lebaran itu, sang ayah justru memperkenalkan calon istri barunya. Perempuan itu tidak datang sendiri, tetapi sudah membawa dua anak dari pernikahan sebelumnya.

“Apa nggak gila, belum kering makam ibu, bapak udah cari wanita lain aja,” kesalnya.

Elsa syok luar biasa. Lebaran yang seharusnya jadi momen saling menguatkan bagi ayah dan anak setelah ditinggal sang ibu, malah berubah jadi kejutan yang menyakitkan. 

Hatinya belum selesai berduka, tapi ia dipaksa menerima kehadiran orang-orang baru yang tiba-tiba diizinkan masuk ke dalam rumahnya. Sejak hari itu, hubungan Elsa dan ayahnya berubah dingin. Lebaran 2024 bagi Elsa menjadi peristiwa traumatis yang menggoreskan luka baru.

Tak ada lagi kehangatan di rumah

Trauma dan rasa tidak nyaman itu terus berlanjut ke tahun berikutnya. Pada Lebaran 2025, suasana rumah Elsa sudah sepenuhnya berubah menjadi asing. 

Hubungannya dengan sang ayah semakin berjarak. Sementara itu, interaksinya dengan ibu tiri dan dua saudara barunya murni sebatas orang-orang yang kebetulan berbagi ruang di bawah atap yang sama. 

Nggak ada obrolan hangat, apalagi bonding emosional layaknya sebuah keluarga. Mereka lebih mirip sekelompok orang asing yang terpaksa tinggal di satu rumah.

“Nggak sudi aku ngobrol sama mereka,” kata Elsa.

Namun, hal yang paling membuat Elsa muak dan sedih saat Lebaran 2025 bukanlah kehadiran keluarga baru tersebut. Hal terberatnya adalah hilangnya memori tentang ibu kandungnya. 

Di hari raya itu, suasana terasa sangat hambar. Tidak ada satu pun orang di rumah yang menyebut nama ibunya, mendoakannya, atau sekadar mengenang kebiasaannya. 

Ayahnya tampak sudah sangat sibuk dan nyaman dengan keluarga barunya, seolah sosok ibu kandung Elsa tidak pernah ada dan hidup di rumah tersebut. Kenyataan bahwa ibunya begitu cepat dilupakan membuat Elsa merasa terasing di rumah masa kecilnya sendiri.

Menetap di perantauan lebih tenang daripada harus pulang

Kini, di tahun 2026, Lebaran sudah kembali di depan mata. Setelah melewati dua kali hari raya yang menguras emosi dan mentalnya secara habis-habisan, Elsa akhirnya membuat keputusan tegas: tahun ini ia tidak akan mudik.

Bagi Elsa, yang kini telah bekerja di Jogja, pulang kampung hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Bertemu dengan ayah yang kini terasa asing, serta melihat ibu tiri dan saudara tiri yang tak punya ikatan batin dengannya, hanya akan membangkitkan trauma dan kesedihan. 

Ia memutuskan untuk tetap tinggal di kota perantauannya, memilih melewati hari Lebaran sendirian di kamar kos.

Ia sadar, mungkin keputusannya ini akan dicap egois atau tidak pantas oleh orang-orang yang masih memegang teguh tradisi kumpul keluarga. Namun, bagi Elsa, ini adalah cara terbaiknya untuk mempertahankan kewarasan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version