Menata etalase dan peka terhadap kebutuhan pelanggan itu keterampilan
Selain Nuri, saya juga berbincang dengan penjaga warung madura lain di daerah Kota Jogja. Ia minta dipanggil Cak Dul, pria berusia menjelang 40-an tahun.
Cak Dul punya pandangan serupa dengan Nuri perihal dua hal di atas. Namun, hal lain yang lebih sederhana dan tidak boleh disepelekan adalah “keterampilan” menata etalase.
“Masnya bisa tahu kalau sebuah toko kelontong adalah warung madura dari mana? Ya dari etalase rokoknya kan, selain pom mini?” ujar Cak Dul retoris.
Memang tidak ada SOP khusus perihal penataan berbungkus-bungkus rokok di etalase. Namun, Cak Dul pribadi punya kesenangan dalam menata etalase, terutama etalase rokok. Ia sering melakukan modifikasi warna dari berbagai merek dan bungkus rokok. Sehingga jika dilihat dari kaca depan, etalasenya tampak memikat.
Tak hanya itu, bagi Cak Dul, kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan juga harus diasah. Sebab, jika tidak, pelanggan bisa-bisa tidak balik lagi.
“Misalnya, kalau di tempatku, merek rokok yang paling banyak dicari. Berarti stoknya harus ada terus. Atau ada orang yang tanya soal barang A, dan lain-lain lah,” beber Cak Dul.
Misalnya lagi, selain keberadaan pom mini yang sangat membantu di jam-jam tengah malam atau di tempat yang jauh dari SPBU, ada sejumlah warung madura yang menyediakan hal-hal penyelamat. Contohnya: jas hujan kresek (menolong pengendara yang kehujanan tanpa mantel), bahkan pompa angin tersedia untuk jaga-jaga jika ada pengendara yang ban motornya kempes sementara tambal ban masih jauh.
Penjaga warung Madura harus melatih tawakkal dan ridha
Tidak pernah ada rasa takut tersaingi di kalangan pemilik dan penjaga warung madura. Sekalipun dengan keberadaan KDMP dan menjamurnya garai-gerai modern.
Bagi Cak Dul, dalam konteks ini, dimensi spiritual para penjaga warung madura memang harus diasah betul.
“Masa nggak percaya sama rezeki Allah? Sudahlah, yakin saja rezeki nggak bakal tertukar. Tawakkal, ridho sama qada dan qadar Allah. Itu kunci hidup agar selamat,” tegas Cak Dul. “Yang penting kan kita sudah ikhtiar.”
Untungnya, kata Cak Dul, urusan tawakkal dan ridha sama Allah sudah menjadi menu latihan spiritual orang-orang Madura sejak kecil. Karena memang Madura punya kultur pesantren dan keberagamaan yang kuat. Apalagi di Sumenep yang dikenal dengan menjamurnya banyak pendidikan keagamaan.
“Orang kalau nggak bisa tawakkal, hidupnya malah terasa rumit. Jadi selain soal ilmu bisnis, tawakkal itu ada di atasnya,” pungkas Cak Dul.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: “Nguping” dan Mengulik Topik Obrolan Penjaga Warung Madura hingga Kuat Teleponan Berjam-jam, Tidak Ada Habisnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














