Sebagian orang punya alasan yang berbeda untuk tidak mudik. Bagi Erika dan Toha*, kumpul keluarga saat Lebaran hanya menambah “dosa” alih-alih bermaaf-maafan. Bagaimana tidak, ada yang adu kemewahan (flexing), ada yang pura-pura sukses demi memaksakan omongan tetangga.
Rela bekerja saat Lebaran daripada kumpul keluarga
Sebelum tinggal di Melbourne, Australia, Erika (30) tidak tahu rasanya mudik saat Lebaran. Sebab selama ini keluarganya tak punya desa. Mereka semua tinggal di Tangerang. Kalau pun Lebaran, tradisi yang diterapkan hanya satu yakni berkumpul di rumah tertua.
“Dulu, kami paling hanya berkunjung ke rumah nenek, yang mana semua saudara pasti akan ke sana. Lalu, sorenya pulang ke rumah masing-masing,” ujar Erika saat dihubungi Mojok, Kamis (5/3/2026).
Di momen itu lah, mereka bercakap-cakap membahas berbagai topik. Salah satunya, yang tak kalah penting, soal pencapaian diri masing-masing. Meski tak suka dengan pembahasan itu, mau tidak mau, nama Erika selalu ikut terseret.
“Jujur, waktu aku masih di Indonesia dan harus ke rumah nenek saat Lebaran. Aku sebenarnya cukup menghindari untuk datang karena biasanya sepupu dan saudara jauh yang datang akan flexing,” kata Erika.
Seringkali Erika sengaja meminta shift kerja saat Lebaran, agar ada alasan tak hadir ke acara kumpul keluarga. Tapi ujung-ujungnya, Erika tetap harus datang kalau tidak mau kena julid saudara.
“Semisal terpaksa harus datang ya aku lebih banyak diam,” ucapnya.
Kumpul keluarga bukannya maaf-maafan malah flexing
Untungnya, Erika sekarang sudah tinggal di Australia sehingga alasannya tidak mudik dan absen saat kumpul keluarga jadi lebih dimaklumi. Terlebih, anak Erika baru menginjak TK. Akan sulit baginya untuk mudik walaupun sudah mengambil cuti.
“Setidaknya, sekarang aku nggak perlu menghadapi omongan keluarga besar atau mendengarkan flexing dari mereka secara langsung. Buatku yang penting sekarang adalah keluarga inti, yakni suami, anak, dan orang tua,” ujarnya.
“Orang tuaku nggak pernah maksa kami untuk mudik, meskipun mereka selalu tanya setiap telepon: ‘pulang atau nggak saat Lebaran?’ tapi mereka paham,” lanjutnya.
Orang tua Erika paham, untuk pulang ke Tangerang, Erika harus menyiapkan biaya yang tak murah seperti tiket pesawat, kebutuhan makan, dan kebutuhan lain saat berkunjung, apalagi jika suami dan anaknya ikut mudik.
“Sebetulnya gaji kami di Australia lebih dari cukup, tapi kalau kami sisihkan untuk mudik setiap tahun ya lumayan. Jadi kayaknya mudik bukan prioritas kami saat ini, karena ada keperluan lain yang kami usahakan,” kata Erika.
Di sisi lain, Erika tak menampik selalu ada kerinduan untuk pulang ke kampung halaman. Apalagi di Australia tidak ada perayaan Lebaran seperti di Indonesia atau libur Hari Raya Islam, sehingga ia harus mengambil cuti tersendiri.
“Tentu saja aku masih rindu suasana Ramadan, mendengar takbiran atau azan tapi tidak terlalu suka dengan kumpul keluarga yang jadi momen flexing itu tadi,” kata Erika.
Alhasil, selama 3 tahun ini tinggal di Australia, Erika memutuskan tidak mudik saat Lebaran. Toh, mereka masih bisa memberi kabar lewat telepon, sembari bermaaf-maafan–kegiatan paling penting saat kumpul keluarga dibanding flexing.
Lebaran jadi momen pembuktian diri anak rantau
Begitu pula Toha* yang sudah 4 tahun ini tidak mudik ke Jambi. Pemuda berusia 22 tahun itu mengaku mudik tidak terlalu penting bagi dirinya yang saat itu masih menjadi mahasiswa di Jogja.
“Karena aku masih mahasiswa dan belum punya pemasukan tetap. Aku juga merasa belum ada hal yang terlalu penting untuk pulang kampung,” ujar Toha saat dihubungi Mojok, Kamis (5/3/2026).
Toha paham, mudik hanya akan menghabiskan uang yang dikeluarkan oleh orang tuanya dan takut akan membebani mereka.
“Sejak Lebaran tahun pertama, orang tuaku juga tidak terlalu menuntutku untuk pulang ke kampung halaman,” ucapnya.
Di sisi lain, Toha ingin pulang saat dirinya sudah merasa mapan atau setidaknya sudah mendapat kerja. Bagi Toha yang jauh-jauh kuliah di Jogja untuk mendapat gelar sarjana, Lebaran tahun ini seolah menjadi momen pembuktian diri.
Tabungan terkuras habis saat kumpul keluarga demi gengsi
Beruntung bagi Toha karena setelah lulus kuliah ia langsung dapat kerja. Tak jadi sarjana nganggur. Setahun ini, ia juga sudah mendapat cuti dan tunjangan hari raya (THR), sehingga bisa mudik ke Jambi.
“Kalau ditotal ya aku bisa habis Rp6 juta. Rp2 juta untuk tiket pulang-pergi pakai bus. Rp4 jutanya lagi untuk beli oleh-oleh dan sangu keluarga,” jelas Toha.
Bagi-bagi THR–dalam istilah orang-orang saat kumpul keluarga di momen Lebaran, menurut Toha amatlah penting. Sebab, di mata tetangganya yang ada di desa, orang bergelar sarjana yang mendapat kerja di tanah rantau seperti Jogja, sudah termasuk sukses.
“Selain siap finansial, aku harus kuat mental saat ditanya tetangga yang beranggapan bahwa orang yang merantau pasti banyak uang, padahal kenyataannya nggak,” ucap Toha yang gajinya sekitar Rp3 juta lebih.
Oleh karena itu, bagi Erika dan Toha, kumpul keluarga saat Lebaran terasa berat alih-alih menjadi momen yang membahagiakan untuk saling memaafkan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
