Lama menganggur dan tak kunjung dapat panggilan kerja tidak selalu karena nasib buruk. Sering kali, akar masalahnya justru terletak pada strategi melamar yang meleset dari sasaran. Di sinilah letak krusialnya kehadiran fasilitas konseling karier di tengah hiruk-pikuk Job Fair Jogja 2026.
***
Bagi Almira (23), melamar kerja rupanya membutuhkan lebih dari sekadar keberanian maupun nilai akademik yang memuaskan. Memiliki riwayat hidup (CV) mentereng pun tidak akan banyak membantu apabila tidak dibarengi dengan strategi pelamaran yang tepat sasaran.
Kesadaran akan adanya langkah yang kurang tepat selama ini, akhirnya membawa perempuan asal Jogja itu duduk di kursi stan konseling karier pada gelaran Job Fair Jogja di Auditorium LPP Agro Nusantara, Rabu (15/7/2026).
“Saya ingin berkonsultasi soal ke depannya, saya harus gimana kalau melamar kerja. Karena selama ini selalu mentok, Mas,” ujarnya saat ditemui Mojok.
Almira tidak datang sendirian. Rekan sesama jobseeker yang siang itu datang bersamanya, David (23), juga merasakan kebingungan serupa. Keduanya merupakan fresh graduate yang sudah genap setahun lulus dari perguruan tinggi, tapi masih menyandang status pengangguran.
Selama dua belas bulan terakhir, mereka mengaku kerap kesulitan memetakan potensi diri agar bisa selaras dengan kualifikasi yang dicari oleh pihak perusahaan.
Fasilitas konseling di bursa kerja ini sengaja dihadirkan untuk mengurai kebuntuan para pelamar. Bagi pencari kerja seperti Almira dan David, evaluasi singkat dari konselor menjadi bekal penting. Mereka butuh tahu di mana letak kesalahannya sebelum kembali berkeliling menyebar berkas lamaran dari satu stan ke stan lainnya.

Banyak pelamar kerja cerdas, tapi kurang PD
Pengalaman setahun menganggur tanpa satu pun panggilan kerja nyatanya tidak melulu urusan nasib buruk, atau minimnya ketersediaan lowongan. Sering kali, masalah utamanya justru ada pada strategi kandidat yang meleset.
Fungsional Tenaga Kerja Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja, M. Soko Marhaendi, melihat langsung persoalan ini di lapangan. Sebagai konselor di Job Fair Jogja 2026, Soko rutin mendapati pelamar datang dengan kepala penuh kebingungan.
Padahal, dari sisi latar belakang pendidikan maupun kompetensi dasar, mereka sebenarnya memiliki kapasitas yang sangat layak untuk bersaing di pasar tenaga kerja.
“Sebagaimana sebuah konseling, kami sebenarnya sekadar memberikan cermin ke mereka. Mereka yang datang ini cerdas-cerdas, kok. CV-nya bagus juga. Hanya saja karena satu dan lain hal, kurang percaya diri buat melamar kerja,” ujar Soko, ditemui pada Rabu (15/7/2026).
Ia menegaskan, konselor di sana bertugas memandu serta memetakan potensi kandidat. Mereka tidak bertugas mencarikan, apalagi memberikan jaminan bahwa pelamar pasti diterima bekerja setelah berkonsultasi.
Keputusan akhir, termasuk keberanian mengeksekusi lamaran, tetap berada di tangan pelamar.
Sayangnya, sebagaimana diungkap Soko, banyak pelamar berportofolio bagus justru terhenti langkahnya lantaran mengalami krisis kepercayaan diri dan ragu saat hendak menyerahkan berkas.
Banyak fresh graduate terlalu “pemilih”
Bagi lulusan baru yang sudah cukup lama menganggur, Soko memiliki catatan khusus. Banyak dari mereka tanpa sadar bersikap terlalu pemilih.
Pelamar muda kerap memelihara standard tertentu dan sibuk menunggu pekerjaan yang dianggap paling ideal atau sesuai dengan gengsi sarjana.
Akibatnya, peluang-peluang emas yang sudah ada di depan mata terlewat begitu saja.
“Kami sering menyarankan, yang sedang buka lowongan, segera dilamar. Hilangkan gengsi,” tegasnya.
Soko menyarankan para pelamar agar menurunkan ekspektasi dan mulai merespons realitas lapangan. Menurutnya, langkah awal yang paling logis adalah mencari pengalaman pertama, bukan langsung membidik posisi puncak.
Lalu, mengapa ada pelamar yang berkali-kali ditolak padahal merasa sudah memenuhi kualifikasi?
Kesalahan fatal pelamar kerja dalam bikin CV
Soko menyebut, kesalahan fatal justru sering terjadi di tahap awal: penyusunan CV. Sebagai gerbang seleksi administrasi, kelengkapan dan relevansi isi CV sangat menentukan nasib pelamar untuk bisa lanjut ke tahap wawancara.
Kenyataannya, banyak pelamar membawa map tebal berisi dokumen yang tidak relevan dengan posisi incarannya. Soko memberikan satu contoh temuan dalam sesi tadi, ada pelamar untuk posisi marketing yang justru melampirkan sertifikat kejuaraan renang.
“Masukin sertifikat prestasi, boleh. Bahkan disarankan. Hanya saja, pelamar juga harus bisa memilah mana yang relevan dan mana yang tidak,” tegasnya. “Kalau mau melamar sebagai marketing, kalau ada ya sertifikat lomba public speaking, bukan malah renang.”
Kesalahan mendasar lainnya adalah kebiasaan mencantumkan riwayat pendidikan terlalu rinci, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Banyak pelamar mengira daftar panjang itu akan membuat profil mereka terlihat komprehensif.
“Pendidikan dari SD dicantumkan, itu juga kesalahan. HRD tidak akan peduli? Cukup ijazah terakhir saja,” kata Soko. Ia mengingatkan, perekrut atau staf HRD memproses ribuan berkas dalam waktu singkat. Perusahaan hanya mencari kandidat dengan portofolio yang ringkas, padat, dan langsung mengarah pada kebutuhan posisi.
Pelamar kerja sering gugur saat wawancara
Jika berhasil lolos seleksi administrasi, pelamar akan berhadapan dengan tahap wawancara. Di titik inilah kandidat sering berguguran lantaran menyepelekan persiapan fundamental.
Menurut Soko, kunci utama menaklukkan sesi ini sangat mendasar: pelamar wajib memahami profil perusahaan, menguasai produk atau jasa yang ditawarkan, serta mengerti rincian deskripsi pekerjaan (jobdesc) yang dilamar.
Selain substansi jawaban, pewawancara juga jeli memindai gestur atau bahasa tubuh pelamar. Penilaian visual ini bahkan bisa dilakukan dalam 20 detik pertama saat pelamar memasuki ruangan.
“Sikap adaptif pelamar, punya problem solving yang presisi, juga kerap menjadi nilai tambah di mata HRD,” ungkapnya.
Soko turut menyoroti ritme rekrutmen saat ini yang bergerak amat cepat. Lowongan pekerjaan bisa terisi penuh hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, prinsip “siapa cepat dia dapat” sungguh-sungguh berlaku, menuntut pelamar untuk selalu sigap mencari informasi terbaru.
Lebih dari itu, perusahaan tidak sekadar mencari kandidat terpintar secara akademis. Mereka mencari sosok yang paling cocok dengan kebutuhan spesifik industri saat itu.
Soko mencontohkan kasus seorang lulusan S2 luar negeri dari jurusan sustainable building yang kesulitan mencari pekerjaan. Alasannya, bursa kerja lokal belum memiliki permintaan untuk spesialisasi setinggi itu, sehingga kualifikasinya menjadi tidak relevan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan