Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Ilustrasi - Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Beranjak dewasa aku semakin sadar, rasanya semakin susah mencari ikatan pertemanan yang benar-benar tulus. Sebab, teman datang sering kali hanya ketika ada maunya doang—butuh bantuan saat kesusahan. Tapi giliran kita mengalami hidup susah, kita justru diacuhkan. Itu membuatku menyesal pernah menjadi terlalu royal ke teman.”

Sambatan tersebut dilontarkan oleh Sinin (33) usai melewati beberapa momen memuakkan menyangkut pertemanan. Sudah beberapa tahun terakhir ini ia memutuskan untuk meng-cut off beberapa orang yang sebelumnya dianggap teman. 

Terlalu royal dalam pertemanan, tak ragu membantu teman kesusahan

Teman Sinin terbilang banyak. Dari teman kampung, SMA, hingga teman semasa kuliah. Kepada mereka Sinin mengaku menjadi orang yang sangat royal. Atas nama pertemanan, pokoknya kalau ada teman sedang hidup susah, maka ia tidak akan ragu memberi bantuan. 

“Pokoknya sampai sebelum pandemi. Kalau ada orang ngontak aku minta bantuan, utang, berapapun kukasih. Karena aku merasa, dengan aku berbuat baik ke mereka, menolong mereka, suatu saat kalau aku lagi kesusahan, aku nggak sendiri,” ujar pemuda Jawa Timur itu, Sabtu (16/13/2026). 

Sinin percaya itu. Sebab, setelah memberi bantuan, banyak temannya yang membalas dengan jawaban, “Suatu saat pasti kubalas kebaikanmu.” Lebih dari itu, alasan kenapa Sinin suka royal dengan teman-temannya tidak lain agar ia punya teman banyak. Sesederhana itu. 

Terlalu royal: tak peduli utang-utang teman yang tidak dikembalikan

Saking royal Sinin terhadap teman-temannya, tidak terhitung jumlah uangnya yang masuk ke kantong-kantong temannya. Entah karena si teman utang, atau Sinin memberi secara cuma-cuma karena kasihan melihat hidup teman yang sedang susah. 

Sejak kuliah, Sinin nyaris tidak peduli apakah utang-utang itu bakal dibayar atau tidak. Toh ia masih bisa meminta uang dari sang bapak yang saat itu masih bugar bekerja. 

Bahkan, setelah lulus kuliah pun, meski terpisah jarak dengan banyak temannya, Sinin masih ringan tangan memberi bantuan jika ada teman yang mengontak. 

“Padahal aku sudah menikah dan punya anak. Tapi kalau ke teman, apalagi teman dekat, aku nggak bisa kalau nggak ngasih utang,” ujar Sinin. “Mau dibalikin atau tidak, terserah, yang penting hubungan pertemanan kami selalu baik.” 

Karena kebaikan Sinin, Sinin nyaris tidak kebingungan setiap bepergian di daerah-daerah di Jawa Timur. Sebab, asal ia menginfo ngajak ngopi, pasti teman-temannya akan meluangkan waktu untuk menemui. 

Ya iya lah. Karena kan dalam ngopi itu mesti Sinin yang keluar uang—membayari. Kebiasaan itu sudah Sinin lakukan sejak masa SMA hingga kuliah. 

Titik terendah setelah kehilangan pekerjaan, ditampar istri soal ikatan pertemanan 

Titik balik Sinin terjadi sejak pandemi Covid-19. Saat itu, bapaknya yang awalnya masih bugar dan masih kuat bekerja terserang sakit. Sakit yang semakin hari semakin parah hingga membuat sang bapak hanya bisa beraktivitas di atas dipannya. 

Sinin pun tidak selamat dari bada PHK yang menyapu nyaris separuh tempatnya bekerja. Uang tabungan Sinin terus terkuras dari ke hari ke hari untuk kebutuhan rumah tangga sendiri dan membantu support pengobatan sang bapak. 

“Sampai ada masanya, uang sudah hampir habis. Di situ istri mengingatkan kalau aku punya teman banyak,” ujar Sinin. 

“Tapi ada nada sinis juga di situ, karena selama ini aku tidak pernah mendengarkan istri. Aku dibilang terlalu royal ke teman, padahal belum tentu sebaliknya. Tapi kusangkal itu,” sambungnya.

Giliran kesusahan, terpaksa mengiba-iba datang ke teman tapi malah diacuhkan​

Di titik terendah itu, Sinin pontang-panting dari satu teman ke teman lain. Mengontak satu nomor ke nomor lain. Tujuannya: gantian minta bantuan karena Sinin sedang kesusahan. 

“Aku utang, nggak seberapa lah. Tapi kalau diitung utang nggak juga. Lebih menagih utang ke teman ya, karena utangnya ke aku belum dibayar,” beber Sinin. 

“Kalau lihat ada teman yang ekonominya tidak terganggu Covid-19, aku iseng minta bantuan, barangkali ada pekerjaan atau info-info loker jalur dalam yang aku bisa masuk,” imbuhnya. 

Sinin sampai mengiba-iba agar teman-temannya mau mengulurkan tangan ke Sinin yang sedang dalam kesusahan. Namun, respons mereka, benar-benar membuat Sinin kecewa sekaligus menyesal karena selama ini menjadi terlalu royal atas nama pertemanan. 

“Misalnya aku utang, jawaban mereka, ‘Aku juga lagi butuh.’ Kalau tidak ya, ‘Wah lagi nggak ada aku.’ Dan semuanya jawab secara cuek. Padahal aku sampai melas-melas menjelaskan kondisiku, tapi malah tidak dibales,” tutur Sinin. 

Padahal selama ini, jawaban-jawaban itu tidak pernah Sinin keluarkan sama sekali tiap ada teman yang datang atau menghubungi karena butuh uluran tangan. 

Mending punya teman sedikit tapi tulus

Satu-satunya teman yang membantu Sinin justru seorang teman yang nyaris tidak pernah utang uang atau minta bantuan materi kepada Sinin. 

Hanya karena kerap ditraktir ngopi, si teman tersebut merasa kalau Sinin adalah teman yang amat baik. 

Si teman itu merintis sebuah bisnis di bidang distribusi kebutuhan pokok. Ia dengan senang hati mengajak Sinin bekerja di saat situasi ekonominya sedang hancur-hancurnya. 

“Sampai sekarang aku masih kerja sama dia. Karena memang, setelah PHK itu, aku masih kesulitan mencari kerja. Si temanku bilang, sepanjang aku belum nemu baru, aku dipersilakan kerja di tempatnya,” kata Sinin. 

Selepas Covid-19, Sinin sempat iseng “menguji” beberapa teman yang pernah mengacuhkan Sinin saat mengiba-iba.  Asumsi Sinin, barang kali waktu pandemi, mereka memang juga sedang dalam situasi sulit. 

Namun, setelah kondisi sama-sama membaik pun, banyak dari mereka yang tetap menutup diri kalau Sinin hendak minta bantuan. Jawabannya masih sama, bahkan ada yang tidak membalas ketika Sinin—dengan agak kesal—langsung terus terang mengungkit utang-utang si teman kepada Sinin yang belum dibayar. 

“Tapi ada juga yang nggak tahu diri. Pas tahu aku sudah kerja ikut usaha temanku, ada lah satu-dua yang minta dibantu biar bisa kerja di tempatku sekalian hahaha,” seloroh Sinin. 

Semakin dewasa Sinin makin sadar, pertemanan tulus adalah perkara langka. Oleh karena itu, ia mengubah orientasinya. Jika dulu suka memiliki teman banyak, kini ia lebih memilih punya teman sedikit (satu pun tidak masalah) tapi tulus dalam menjalin pertemanan. Tidak hanya datang ketika ada butuhnya doang

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version