ADVERTISEMENT

Jenis-jenis Tetangga Menyebalkan yang Pasti Nongol saat Rewang: Tak Diajak Jadi Masalah, Kalau Diajak bikin Ulah dan Ngelunjak

Jenis-jenis tetangga toksik yang pasti nongol saat rewang hajatan di desa MOJOK.CO

Dalam momen rewang di sebuah hajatan di desa, ada setidaknya empat jenis tetangga toksik menyebalkan yang pasti nongol. 

Pada dasarnya rewang merupakan budaya baik di desa: gotong-royong membantu tetangga atau sanak keluarga yang menggelar hajatan. 

ADVERTISEMENT

Di banyak desa di Jawa, rewang bahkan sudah menjadi bagian naluriah. Ketika ada tetangga menggelar hajatan, tetangga lain bisa datang untuk membantu tanpa diminta. Itu pun tanpa honor. 

Ada juga yang modelnya seperti di desa Navia (26) di Jawa Timur: beberapa hari sebelumnya sahibul hajat mendatangi rumah tetangga terdekat satu persatu, khusus untuk meminta dibantu rewang. Dari situ, para tetangga—yang diminta—akan datang berbondong-bondong pada hari yang sudah diberitahukan. 

Tidak mengundang tetangga rewang saat hajatan di desa bisa jadi masalah

Dalam kasus di desa Navia malah agak unik. Begini, rewang itu pada dasarnya kan merepotkan dan melelahkan. Tanpa bayaran pula. 

Namun, tidak mengundang tetangga rewang saat kita (misalnya) punya hajatan ternyata bisa menjadi masalah serius. “Tetangga yang nggak diajak buat rewang bisa berpikir kalau dia nggak dianggap,” ujar Navia, Sabtu (7/11/2026). 

Dan itu bukan berdasarkan asumsi Navia belaka, melainkan benar-benar terjadi di desanya di Jawa Timur. Karena di desanya, diajak rewang berarti seseorang masih diakui sebagai tetangga. Sehingga, ketika tidak diundang, bisa membuat seorang tetangga merasa sahibul hajat tidak mau lagi hidup bertetangga dengannya. 

Meskipun, mengajak atau tidak mengajak seseorang rewang adalah adalah pilihan bebas sahibul hajat: entah karena perewangnya sudah banyak atau karena memang tidak ingin merepotkan banyak orang. 

“Satu (kasus) yang kuingat, waktu saudaraku bikin hajatan, kan ada tetangga yang nggak diajak rewang. Nah, umumnya di desa, kalau ada orang bikin hajatan tapi kok ada tetangga yang masih di rumah (nggak datang ke rumah sahibul hajat), otomatis ada warga lain yang tanya, ‘Loh kok nggak rewang di rumah si A?’. Jawaban orang itu sinis, ‘Nggak diajak, cek dibadok-badok dewe kono (biar dimakan-makan sendiri sana)’,” beber Navia. 

Masalahnya, bagi Navia, tidak semua tetangga yang datang di rewang hajatan menunjukkan kesan baik. Pasti ada saja tingkahnya yang toksik nan menyebalkan. 

ADVERTISEMENT

Jenis 1: Tetangga toksik yang lebih mandor dari tuan rumah

Sejauh pengalaman Navia, pasti ada jenis tetangga yang tingkahnya malah lebih mandor dari tuan rumah. Yakni tipikal tetangga yang lebih banyak memerintah tapi minim bekerja. 

“Misalnya, dari awal sampai akhir cuma ngupas-ngupas bawang begitu. Tapi kalau ada sesuatu, langsung nyuruh-nyuruh, ‘Yu ini loh kurang!’, ‘Yu, wajannya diambil!’,” ujar Navia.  

“Misalnya ada bahan yang habis, dia langsung ‘ngelabrak’ tuan ruman, bilang ini gimana to habis semua tapi kok belum dibeli. Sudah tahu tuan rumah riweh, kan bisa dia cukup minta uang tuan rumah, lalu pergi buat beli kebutuhan yang habis. Ini enggak, dia nyuruh tuan rumah buat segera pergi belanja,” sambungnya. 

Yang tidak kalah menyebalkan dari tetangga toksik jenis ini: suka membuat suasana jadi serba panik dan tergopoh. Cara ia merespons bahan yang habis tadi salah satunya. 

Selain itu, misalnya hajatan selesai dan ternyata piring atau berkatan kurang, dia juga menjadi orang paling heboh yang lantas membuat suasana dapur menjadi ikut panik. Padahal kalau disampaikan biasa saja, sebenarnya masalah-masalah tersebut toh bisa diatasi dengan semestinya. 

“Jenis ini nggak hanya di kalangan ibu-ibu, di kalangan bapak-bapak juga ada. Ada bapak-bapak yang suka nyuruh-nyuruh, buatin kopi lah, keluarin makanan inilah, nyuruh keluarin itu lah,” kata Navia. 

Jenis 2 dan 3: Komentator bermulut jahat pemicu tangis dan trauma

Navia mengaku relate dengan tulisan Terminal Mojok berjudul, “Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa”. 

Dalam rewang hajatan di desa Navia, memang ada jenis tetangga yang kerap menebar celetukan-celetukan jahat alias sukai maido (menghina). Sepanjang rewang, tetangga jenis ini bertindak sebagai komentator untuk menghakimi kinerja orang lain. 

“Kalau ada perewang yang menurutnya nggak tepat, misalnya cara mengiris dagingnya nggak sesuai, bukannya diingatkan baik-baik, malah dihakimi,” ujar Navia. 

Navia sendiri mengaku beberapa kali mendapati, dapur tiba-tiba ricuh adu mulut-saling paido antar-perewang. Gara-garanya: ada perewang yang mulai risih dan jengkel karena setiap pekerjaannya selalu dikomentari negatif oleh tetangga jenis nomor 2 ini. 

Lalu ujung-ujungnya si perewang yang dikomentari mutung, meninggalkan rumah sahibul hajat sambil nangis dan ngedumel sepanjang jalan: menceritakan kejadian tidak menyenangkan terhadap setiap orang yang ditemui. 

“Akhirnya antara trauma atau malas, jadi kalau mau rewang di sebuah hajatan terus tahu kalau ada tetangga jenis ini, pasti perewang yang sebelumnya jadi korban ini memutuskan batal rewang, putar balik,” beber Navia. 

Tidak hanya itu, tetangga jenis ini juga kerap kali punya kecenderungan lain: yakni kerap kali menjadi pemantik gosip. Obrolan dapur yang semula berisi hal-hal random biasa, lantas berubah menjadi ajang menguliti aib orang lain. 

Jenis 4: Tetangga toksik dikasih hati tapi ngelunjak mintanya jantung dan paru-paru

Memang tidak ada upah untuk perewang. Hanya saja, ada kesadaran dari sahibul hajat untuk memberikan semacam ucapan terima kasih. Biasanya dalam bentuk berkatan atau lauk-pauk. 

Saking sudah lazimnya pemberian itu, ternyata membuat ada saja oknum tetangga yang bahkan sebelum hajatan dimulai, bahkan tidak lama setelah sayur-nasi-lauk-pauk matang, ia pede saja membungkus-bungkusi untuk dirinya sendiri. 

Jenis tetangga ini saja sudah sangat menyebalkan. Apalagi, dalam kasus di desa Navia, ada juga model yang dikasih hati tapi malah ngelunjak minta jantung dan paru-paru. 

“Contohnya begini, kan pas selesai rewang tuan rumah ngasih berkatan. Anggap lah satu bungkus. Nah, ada loh tetangga yang terus-terang ngomong kurang. Minta tambah lagi buat saudaranya yang ini, saudaranya yang itu. Lah, kan yang rewang cuma dia, bukan saudara-saudaranya?” Dengus Navia. 

Paling aman: bayar orang buat rewang hajatan

Keluarga Navia tidak suka bergosip. Semakin ke sini juga semakin lelah mengikuti drama-drama perewangan semacam itu. Oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan hajatan belakangan, keluarga Navia memilih membayar orang saja. 

“Jadi di desaku ada lah satu-dua ibu-ibu yang dikenal kalau rewang ya fokus ngerjain apa yang dibutuhkan. Nggak sibuk gosip atau maido-maido. Nggak neko-neko juga. Masakannya enak pula. Jadi sekalian aja di-handle mereka,” ungkap Navia. 

“Nah, karena orang sedikit buat mengerjakan banyak hal yang selama ini bisa dikerjakan ramai-ramai sama perewang lain, akhirnya dibayar,” lanjutnya. 

Pilihan itu menjadi cara paling aman dari drama-drama di dapur. Hanya memang berisiko secara sosial sebagaimana diungkapkan dalam bagian awal tulisan ini: dianggap sudah tidak mau bertetangga lagi. 

Namun, tidak masalah bagi keluarga Navia. Selagi masih bisa bayar orang dan tidak ada ruginya juga kalau dianggap tidak mau bertetangga dengan orang-orang toksik. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gosip Bapak-bapak di Desa Lebih Mengerikan dari Ibu-ibu, Bikin Risih dan Memancing Fitnah tapi Mereka Selalu Denial atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 November 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.