Ada jenis-jenis tamu di rumah, terutama di desa, yang kehadirannya sangat tidak diinginkan oleh si tuan rumah. Tidak hanya menganggu, tapi juga bisa merugikan.
***
Terutama di desa, rumah didatangi tamu selain menjadi hal lumrah juga menjadi simbol kerekatan sosial. Selain itu, kultur masyarakat desa masih sangat kental dalam hal memuliakan tamu. Sebab, itulah ajaran agama Islam sekaligus basic manner turun-temurun.
Namun, demikian, tidak setiap rumah senang jika ada orang bertamu. Pasalnya, tidak setiap tamu yang singgah memberi kesan menyenangkan. Ada juga jenis-jenis tamu yang membuat tuan rumah jengkel setengah mati, tapi tidak bisa berbuat banyak lantaran terikat dalam keharusan memuliakan tamu-tamu tersebut. Misalnya yang diresahkan oleh Ozan (26) dan Tria (25).
Jenis tamu yang datang untuk meminta sesuatu yang sulit ditolak
Ozan, pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, menuturkan hal paling basic dari dari datangnya seseorang untuk bertamu di rumahnya, baik dari kalangan saudara maupun tetangga. Baik punya hubungan sosial dekat maupun sekadarnya.
Orang tua Ozan bisa sebenarnya tidak kaya-kaya amat. Tetapi dari kacamata tetangga maupun saudara, orang tua Ozan tampak memiliki kondisi ekonomi yang relatif baik. Oleh karena itu, tidak jarang ada tetangga maupun saudara yang datang bertamu. Tujuannya tidak lain untuk meminjam uang alias utang.
“Bahkan ada tetangga, agak jauh sebenarnya rumahnya. Jarang ngobrol. Nggak akrab lah. Tapi tiba-tiba datang bertamu dengan sok grapyak,” ungkap Ozan berbagi cerita.
Sebenarnya pola orang mau utang sangat mudah dibaca. Pokoknya tiba-tiba menjadi sangat akrab dan membaik-baikkan tuan rumah. Lalu sampai lah pada ujung dan tujuan utama: meminjam sejumlah uang diembel-embeli cerita-cerita sedih dan jaminan akan dikembalikan dalam waktu dekat.
“Entah kenapa, sulit bagi orang tuaku untuk menolak. Alasannya pasti iba. Selain itu, selalu karena alasan bahwa lumrahnya hidup bertetangga atau lazimnya sama saudara, ya saling bantu-binantu (tolong menolong),” beber Ozan.
Lebih dari itu, kadang kala orang tua Ozan khawatir: jika tidak meminjami uang, maka ada banyak kemungkinan buruk yang akan menyasar keluarga Ozan. Mulai dari dijauhi, jadi bahan rasan-rasan dengan tudingan pelit, hingga dianggap jahat. Semua itu berdampak pada kenyamanan hidup keluarga Ozan di desa. Tapi kalau sudah meminjami uang, kemungkinannya menagih utang pun bukan perkara mudah.
Santri penjual kalender yang datang silih-berganti
Di Rembang, hampir di banyak desa, kerap dimasuki oleh santri-santri penjual kalender. Mereka sering kali datang menjelang pergantian tahun.
Para santri itu menjajakan satu kalender dari desa ke desa, dari rumah ke rumah, dengan harga umumnya Rp20 ribu perbiji. Desa Ozan termasuk yang menjadi sasaran para santri penjual kalender.
Dulu orang-orang di desa Ozan murah hati membeli kalender yang dibawa santri. Toh, dari pernyataan santri penjual kalender, uang dari hasil penjualan itu nantinya akan digunakan untuk sumbangan pembangunan pesantren. “Bagi orang desa, seperti orang tuaku misalnya, kan lumayan buat amal jariyah,” tutur Ozan.
Akan tetapi, lama-lama warga di desa Ozan mulai agak terganggu. Sebab, tidak hanya dari satu pesantren, sejumlah santri dari pesantren berbeda silih-berganti datang ke desa Ozan. Seiring itu, muncul pula berita soal modus penipuan dengan mengatasnamakan pesantren, membuat warga desa menjadi lebih waswas. “Apalagi ada juga kan orang minta sumbangan, mengatasnamakan masjid,” ucap Ozan.
Bahkan, kata Ozan, warga desanya kini sampai memasang spanduk peringatan bahwa desa tersebut tidak menerima para penjual kalender. Mereka menjadi tamu yang tidak dikehendaki masuk desa.
Tamu tidak tahu diri dan kelewat batas: bawa gosip tidak jelas, ngutil barang di rumah
Saat mendengar cerita Tria (25), perempuan asal Jawa Timur, saya agak kaget ternyata ada jenis tamu yang saking tidak tahu dirinya sampai kelewat batas.
Tria bercerita, ia memiliki seorang tetangga yang memang sudah menjadi rahasia umum kalau tingkahnya diresahkan oleh banyak orang. Pertama, si tetangga emak-emak itu suka bergosip dan menyebar fitnah. Kedua, julid dan cerewetnya nauzubillah.
“Pokoknya kalau dia bertamu di rumah, yang ada keganggu karena gosipnya bikin risih. Selain itu, suaranya yang menggelegar juga bikin nggak nyaman. Kalau dia bertamu, hawanya pengin ngusir,” kata Tria.
Masalahnya, ada tabiat yang lebih meresahkan dari si tetangga satu ini, yaitu suka ngutil barang dari setiap rumah yang ia singgahi.
“Dia itu bahkan bisa loh langsung masuk rumah, terus ngambil sesuatu tanpa izin. Minyak goreng lah, makanan lah, duit juga pernah. Kalau ada duit tergeletak gitu, bisa diam-diam diambil,” ungkap Tria. “Kalau besan orang tuaku datang bawa sesuatu, seringnya jajanan, dia pasti langsung bertamu, nggak segan ngutil kalau ada celah.”
Karena itu lah, orang tua Tria benar-benar hati-hati kalau menaruh barang. Sebab, bahkan mainan keponakan Tria, asal tergeletak di lantai, bisa loh diambil si tetangga itu: untuk diberikan ke cucunya. Tria kadang tidak habis pikir, demi menjadi nenek yang terlihat ngasih sesuatu ke cucunya, sampai rela mengutil mainan dari rumah orang lain.
Persoalannya, Ibu Tria sendiri tipikal orang yang tidak mau ribut. Alhasil, Ibu Tria lebih meminta orang rumah hati-hati kalau menaruh barang. Selain meningkatkan kewaspadaan kalau si emak-emak itu datang bertamu.
Overstay dan mengganggu privasi
Masih selaras dengan kasus emak-emak pengutil di atas, Tria mengaku agak terganggu dengan kehadiran tamu yang tidak tahu batasan privasi si pemilik rumah. Misalnya, ada jenis tamu seperti emak-emak tadi, yang bisa nyelonong seenaknya.
Selain itu, misalnya ada tamu yang mencari Ibu Tria, ada juga yang setelah uluk salam di depan pintu langsung masuk ke mengetuk pintu kamar Tria. Padahal Ibu Tria bisa jadi sedang istirahat.
“Sesederhana, kalau uluk salam nggak ada jawaban, berarti nggak ada yang bisa ditemui. Temui lagi nanti lah. Karena kadang gitu juga ngetuk pintu kamarku. Contoh, ibuku sedang pergi hajatan. Terus ada orang nyari kan, karena nggak ada jawaban salam, si tamu masuk dan ngetuk kamar ibuku. Pas nggak ada jawaban, dia pindah ngetuk kamarku. Kan benci aku yang begitu-begitu,” beber Tria dengan nada kesal.
Sementara untuk kasus yang satu ini agak debatable, karena memang ada tipikal tuan rumah yang suka berlama-lama menjamu tamu di rumah. Namun, Tria dan kakak iparnya (perempuan) cenderung tidak suka dengan model tamu yang overstay kalau bertamu di rumah mereka di sebuah desa di Jawa Timur.
Yakni model tamu yang tidak tahu waktu. Misalnya jam sudah menunjukkan larut malam, sudah seharusnya menjadi jam istirahat, tapi si tamu masih tampak asyik dan belum menunjukkan tanda-tanda mau pulang.
“Misalnya, dalam kasus kakak iparku. Pas temen kakakku datang bertamu, kadang kakak iparku sudah memberi kode kalau ia capek dan sudah ngantuk. Kode ngusir halus lah. Tapi jawaban si temannya kayak, alah masih jam segini kok ngantuk. Bagiku itu mengganggu sih,” tutur Tria. “Harusnya tahu diri lah, kalau tuan rumah sudah ngode begitu, ya berarti tandanya bertamunya disudahi.”
Jenis tamu yang tidak menghormati aturan rumah
Masih dalam kasus rumah Tria, ia juga mengaku kesal betul dengan jenis tamu yang tidak menghormati aturan rumah. Bagi Tria, selain hukum sosial dan agama bahwa tuan rumah harus memuliakan tamu, rasa-rasanya si tamu juga harus belajar empan papan dan tepa selira: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
“Misalnya, di rumahku itu kami melarang rokok. Tapi ada jenis tamu, anggap lah teman-teman kakakku yang menyepelekan, tetap ngerokok meski dilarang. Asbaknya ngasal pakai gelas minuman atau apapun yang bisa jadi asbak,” ungkap Tria.
Tria meyakini, di luar sana ada tipikal tuan rumah seperti keluarga Tria: ada aturan-aturan tertentu yang telah menjadi kesepakatan bersama bagi seisi rumah. Jika disepelekan, apalagi sampai diterabas, mesti dongkolnya bukan main, karena seolah-olah otoritas si pemilik rumah diinjak-injak dengan dalih “tamu adalah raja”.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rumah Jadi Basecamp Tongkrongan karena Punya Ortu Asyik, Dicap Ganggu dan Sarang Maksiat oleh Tetangga Julid yang Tak Paham Persaudaraan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan