ADVERTISEMENT

Rumah Jadi Basecamp Tongkrongan karena Punya Ortu Asyik, Dicap Ganggu dan Sarang Maksiat oleh Tetangga Julid yang Tak Paham Persaudaraan

Rumah jadi basecamp tongkrongan di kampung karena punya orang tua asyik. Bikin tetangga sinis MOJOK.CO

Ketika rumah di desa menjadi basecamp tongkrongan, komentar sinis bisa dilayangkan oleh tetangga bahkan dicap sarang maksiat. Tetangga sinis tidak tahu bahwa rumah semacam itu justru sangat menyenangkan.

***

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Liputan Mojok sempat menulis bagaimana rumah yang menjadi pusat tongkrongan di desa dianggap berisik oleh orang kota, “Punya Rumah yang Jadi Tongkrongan Pemuda di Desa: Dikira Tak Nyaman karena Berisik, padahal Menikmati Banyak Manfaat“.

Pandangan sinis ternyata bisa juga terjadi di kalangan sesama warga desa sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Duha (24), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah. 

Sebenarnya sudah sejak kecil rumah Duha menjadi jujukan teman-teman sebaya. Namun, sejak SMA, rumah Duha kemudian menjelma menjadi basecamp tongkrongan. Baik oleh teman sedesa maupun teman-teman sekolah. 

“Rumahku kan ya nggak jauh dari pusat kota Rembang. Jadi bahkan teman-teman SMA sering lah nginep,” ungkap Duha, Senin (19/10/2026). 

“Sering jadi tuan rumah buat agenda-agenda juga, bakar-bakar pas tahun baru atau hari raya kurban, misalnya,” sambungnya. 

Rumah jadi basecamp tongkrongan karena orang tua asyik

Menurut Duha, sebagaimana juga diamini oleh teman-temannya, satu alasan kenapa rumahnya menjadi basecamp tongkrongan adalah karena orang tua Duha yang dikenal asyik dan welcome. Pasalnya, ada jenis orang tua yang cenderung protektif dan merasa terganggu kalau si anak membawa teman-temannya main ke rumah. 

Misalnya, di masa kecil dulu, Duha dan teman-teman kampung sampai punya list rumah teman yang mana yang jangan sampai disamperi. Sebab, kadang orang tua si teman amat sensi: anak-anak masuk rumah untuk sekadar minta minum saja sudah membuat si orang tua prengat-prengut. Kalau ramai sedikit, bisa langsung dimarahi. Beda cerita kalau di rumah Duha. Teman-temannya bisa bermain tanpa takut ke omelan. 

Kesan tersebut terus ditunjukkan orang tua Duha sampai rumahnya menjadi basecamp tongkrongan semenjak ia SMA hingga kini bekerja. Jika ada teman main atau nginep, sudah pasti akan ditawari makan. Bapak Duha sesekali juga ikut nimbrung, sekadar tanya-tanya soal latar belakang teman-teman Duha. 

ADVERTISEMENT

Itulah kenapa, meski rumah Duha sederhana belaka, tapi justru terasa hangat dan nyaman. Bapak Duha bahkan sampai membuat cangkruk (semacam gazebo) untuk memfasilitasi teman-teman Duha.

“Sekarang ini ya, kan kami sudah sibuk masing-masing. Sebagian ada yang kerja, berumah tangga, yang merantau ke luar kota juga ada. Sering bapakku nanya, temanku SMA yang ini kok udah nggak pernah mampir?” ujar Duha. 

“Sekarang yang sering nongkrong di rumah ya anak-anak kampung sendiri lah. Kadang cuma mabar, gitaran, kadang patungan buat bakar-bakar, nonton bola, nonton film dari link bajakan,” beber Duha. “Dan jangan salah, kalau tengah malam, nggak jarang juga jadi momen deep talk loh hahaha.” 

Dicap ganggu hingga sarang maksiat oleh tetangga sinis

Inilah masalahnya. Tetap ada orang atau tetangga tidak asyik. Mereka tidak hanya enggan rumahnya jadi basecamp tongkrongan anak muda, tetapi juga merasa terganggu ketika rumah orang lain sering dikerubungi anak-anak muda. 

“Jelas, yang paling sering kami dianggap ganggu. Karena kami kalau ngumpul kan biasanya sampai tengah malam, terutama pas bakar-bakar atau pas malam Minggu,” ungkap Duha. 

Sebenarnya kalau sampai urakan banget, ya tidak sampai lah. Duha selalu membatasi agar teman-temannya mengontrol tawa dan volume omongan. Tetapi memang masih ada suara-suara. Nah, bagi orang di kampung Duha, jam tengah malam masih ada suara-suara orang nongkrong sudah dianggap agak mengganggu. 

Yang lebih parah, sampai muncul desas-desus fitnah: menyebut rumah Duha sebagai sarang maksiat. Entah bagaimana mulanya, ada yang membuat dugaan bahwa anak-anak muda yang nongkrong di rumah Duha sampai tengah malam itu ya pasti sambil minum minuman keras, main kartu, bahkan dituding tidak salat. 

“Kalau kartu ya main lah. Tapi kan bukan judi. Tapi cuma modal dugaan karena keseringan lihat sinetron lalu nuding kami mabuk-mabukan, zuzur agak jauh,” ungkap Duha. 

Rumah jadi basecamp tongkrongan menyenangkan, nambah saudara

Orang tua Duha bukannya tidak pernah mendapat “protes” dari tetangga. Tetangga mempertanyakan, kenapa kok dibiarkan anak-anak muda sering nongkrong di rumah? Jawaban orang tua Duha simpel saja: buat ramai-ramaian. 

Namun, jawaban lain diberikan kepada Duha. Beberapa kali orang tua Duha memang bilang kepada setiap teman yang datang ke rumah: Kalau bisa yang akur, kalau bisa sampai tua nanti saudaraan terus lah. 

“Bapakku itu di luar kampung punya banyak saudara. Tiap aku tanya, saudara dari mana? Jawaban dia: saudara ketemu di jalan. Dari semula teman, terus saking akrabnya jadi saudara,” kata Duha. 

Dan justru, sering kali saudara ketemu di jalan ini benar-benar menjadi saudara. Ikatan persaudaraannya bahkan cenderung lebih kuat ketimbang saudara kandung yang bisa sewaktu-waktu berubah hanya karena persoalan warisan. 

Itu memang terbukti di Duha. Saat adiknya khitan, teman-teman Duha turut datang. Tidak hanya meramaikan, tapi juga bantu-bantu. Pas Bapak Duha sakit, teman-temannya berbondong-bondong menjenguk sampai ikut melekan buat jaga di rumah sakit. 

“Pas lebaran jelas selalu ramai. Belum kalau aku nikah nanti, mereka sudah pasti tumplek blek. Inilah bagian menyenangkan yang mungkin nggak dipahami tetanggaku,” tutur Duha. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kebaikan Bengkel Rumahan yang Bikin Nyaman Pelanggan, Harga Wajar hingga Beri Pinjaman Motor atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.