Vespa tidak mampu menerjang jalanan berbatu, apalagi rusak. Motor ini lebih nyaman untuk pengguna urban saja, digunakan di jalanan perkotaan yang cenderung mulus.
“Kalau Vespa itu kalau di jalanan berbatu, nah itu agak kurang dipakai, karena kan kayaknya emang untuk perkotaan aja,” akunya.
View this post on Instagram
Faktanya, Honda BeAT lebih nyaman dan murah
Nah, dibandingkan dengan Vespa yang hanya ramah jalanan perkotaan. Juga, tarikannya yang kurang mulus—agak mengejutkan saat digas, seperti penggambaran Zira. BeAT terasa lebih nyaman dalam penggunaan sehari-hari.
“Kalau BeAT itu plus-nya ya, ya itu kalau digas itu kayak nyaman-nyaman aja, Kalau tarikannya dia beda. Kalau misalnya Vespa itu dia langsung kayak ngegas gitu lho, kalau BeAT tuh kayak pelan, stabil transmisinya,” kata Zira.
Dengan tarikan gas yang lebih nyaman itu, sebetulnya tidak bisa dipungkiri bahwa BeAT menjadi motor matic yang cukup “ideal” dalam penggunaan standar.
Belum lagi, harga BeAT standar dipatok sekitar Rp18 juta. Harga ini dikalikan dua saja, belum mampu mencapai harga Vespa Matic milik Zira, Primavera 125, yang setidaknya merogoh Rp50 juta.
Sudah dijual dengan harga yang lebih miring, perawatannya juga lebih mudah. Zira sendiri mengakui mulai dari bahan bakar sampai dengan servis BeAT jauh berbeda dengan Vespa. Singkatnya, BeAT lebih tahan banting dan terima apa saja.
“Terus juga, plus-nya BeAT itu untuk bensin lebih murah karena BeAT itu biasanya Pertalite oke lah. Karena kan aku kalau Vespa harus Pertamax,” ungkapnya.
“Terus, dari segi perawatan juga kayaknya, kalau BeAT itu jarang servis deh. Maksudnya, kayak nggak usah terlalu sering-sering servis dan kalau misalnya nyari tempat servis itu mudah bisa servis di mana aja,” kata dia menambahkan.
Menurut Zira, keunggulan BeAT ini membuatnya terkesan tidak serewel Vespa yang harus lebih berhati-hati.
Bayangkan saja, dengan motor yang sudah dibanderol harga mahal sendiri, Zira tidak mungkin mau memberikan perlakuan cuma-cuma yang berisiko.
Bahan bakar, sampai servis, dilakukan di tempat khusus untuk alasan keamanan jangka panjang. Namun di sini juga, bisa disadari bahwa BeAT benar-benar menunjukkan ketangguhannya yang menerima diperhatikan seminim mungkin.
“Kalau Vespa kan kalau aku pribadi itu pengin tempat servisnya yang khusus, yang official, harganya juga mahal jadi perawatannya juga nggak sembarangan. Kalau misalnya kayak di bengkel-bengkel yang biasanya itu aku takut aja kayak ada nanti tiba-tiba kekurangan sparepart gitu,” akunya menjelaskan.
Sayangnya, dengan rasa lebih terbiasa dan kenyamanan yang sudah beralih kepada Vespa, Zira bilang, pilihannya tidak akan goyah untuk kembali pada BeAT yang dahulu menemaninya. Dalam berkendara pun, Zira akan lebih memilih Vespa, meski harus mengorbankan tangan selama berkendara, berisiko pegal linu sesampainya di tujuan.
“Tapi kalau travel agak jauh itu enakan pakai Vespa juga, soalnya dia lebih gede [bodi motor] walaupun tarikannya pegel,” ujarnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














