Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

fotografer wisuda

ilustrasi-fotografer wisuda (Ega Fansuri/Mojok.co)

Menjadi fotografer wisuda tidak seindah yang dibayangkan. Ada hal menyenangkan dalam mengabadikan momen membahagiakan, namun ada momen menyebalkan ketika tawar menawar harga ketika hari H wisuda. Belum lagi jaring pengaman untuk para pekerja freelance di Indonesia yang masih membingungkan.

***

Saya bertemu salah satu fotografer wisuda ketika sedang menunggu kekasih saya menjalani wisuda di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Seorang fotografer muda bernama Fajar (23), bukan nama sebenarnya, sedang duduk menunggu kliennya.

“Sudah lama jadi fotografer wisuda?” tanya saya membuka percakapan.

“Kurang lebih dua tahun,” jawabnya.

Fajar mengaku pekerjaan fotografi wisuda awalnya hanya pekerjaan sampingan. Ia lebih sering mendapatkan pekerjaan dari teman yang melempar klien kepadanya. Baru sekitar setahun terakhir permintaan mulai cukup ramai.

“Kalau dulu kebanyakan dari teman. Misalnya teman dapat klien tapi nggak bisa, terus dilempar ke saya. Baru beberapa bulan ini mulai ada yang langsung menghubungi,” katanya.

Pekerjaan itu kelihatannya sederhana; datang, memotret, mengedit, lalu mengirimkan foto. Kenyataannya, ada banyak cerita di belakang kamera.

Dari lemparan teman sampai dapat klien sendiri

Bagi fotografer wisuda seperti Fajar, mendapatkan klien tetap bukan perkara gampang.

Tidak ada kantor yang setiap pagi memberikan daftar pekerjaan. Tidak ada gaji bulanan. Tidak ada kepastian bahwa besok akan ada orang yang membutuhkan jasanya.

Karena itu, jaringan pertemanan menjadi penting.

“Awalnya memang dari teman-teman. Mereka yang kasih pekerjaan,” ujar Fajar.

Pola seperti ini sebenarnya umum dalam pekerjaan freelance. Satu pekerjaan bisa membuka pekerjaan lain, tetapi sekaligus membuat batas antara pertemanan dan pekerjaan menjadi kabur.

Ketika fotografer sudah mulai punya nama dan portofolio, barulah klien langsung berdatangan. Fajar mulai merasakan fase tersebut beberapa bulan terakhir.

“Sekarang sudah ada yang langsung chat. Biasanya tanya paket, harga, terus booking,” katanya.

Bagi Fajar, perkembangan itu cukup berarti. Setidaknya ia tidak selamanya bergantung pada “lemparan” pekerjaan dari kawan.

Senang ketika bisa mengabadikan kebahagiaan orang

Ada alasan mengapa Fajar tetap menjalani pekerjaan tersebut selama dua tahun.

Sederhana saja, ia senang melihat orang bahagia.

“Senangnya ya bisa mengabadikan momen wisuda mereka. Apalagi kalau lihat mereka senang sama hasil fotonya,” katanya.

Pekerjaan fotografer wisuda memang punya sisi yang tidak dimiliki semua pekerjaan fotografi. Ia datang ketika seseorang sedang merayakan salah satu pencapaian penting dalam hidupnya.

Ada orang tua yang menangis, mahasiswa yang akhirnya menyelesaikan kuliah setelah bertahun-tahun, teman-teman yang berfoto bersama, sampai pasangan yang sengaja menyewa fotografer agar momen kelulusan tidak hanya tersimpan di galeri ponsel.

Fajar berada di tengah semua itu, tetapi tetap sebagai pekerja.

Ia bukan sekadar orang yang ikut merayakan. Ia datang membawa kamera, bekerja selama beberapa jam, memilih angle, mengatur pose, mengambil gambar, lalu masih harus mengerjakan proses setelah pemotretan selesai.

Sialnya, ada “harga teman”

Masalahnya muncul ketika pekerjaan mulai bersinggungan dengan pertemanan.

Saya bertanya, “Kalau dukanya apa?”

Fajar langsung menyebut satu hal yang terdengar familiar bagi banyak pekerja freelance.

“‘Harga teman’,” jawabnya.

Kami tertawa.

Namun, bagi pekerja freelance, istilah tersebut sebenarnya tidak selalu lucu.

Menurut Fajar, ada saja teman atau kenalan yang meminta harga jauh di bawah tarif normal karena merasa sudah saling mengenal.

“Kadang harga teman itu nggak masuk akal,” katanya.

Masalah lainnya adalah tawar-menawar harga ketika hari H.

Sudah datang ke lokasi, sudah membawa peralatan, sudah menyisihkan waktu, tetapi harga masih ditawar.

“Kalau tawar-menawar pas hari H itu yang bikin sebel,” ujarnya.

Di titik ini, kamera dan kemampuan fotografi bukan satu-satunya modal fotografer freelance. Mereka juga harus punya kemampuan menegosiasikan harga dan menjaga agar pekerjaan tetap menguntungkan.

Sebab “teman” tidak otomatis berarti fotografer harus bekerja gratis atau murah.

Fotografer wisuda bukan berarti tanpa hak

Cerita Fajar sebenarnya bagian kecil dari persoalan yang lebih besar.

Pekerja freelance dan gig worker semakin banyak, tetapi perlindungan terhadap mereka masih menjadi persoalan. Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli pada 2025 menyebut sekitar 4,4 juta pekerja berada dalam ekosistem gig economy, termasuk pekerja di layanan kreatif dan freelancer. 

Pemerintah juga mengakui perlunya aturan yang memberikan kepastian mengenai hak pekerja, jaminan sosial, upah, dan perjanjian kerja.

Persoalannya bukan cuma soal ada atau tidaknya kontrak.

Pekerja freelance juga menghadapi pendapatan yang tidak tetap, posisi tawar yang lemah, risiko pekerjaan, hingga persoalan ketika pembayaran terlambat atau tarif tiba-tiba berubah.

LBH Pers dan SINDIKASI pada 2026 bahkan menyoroti persoalan freelancer di industri media dan kreatif yang kerap bekerja tanpa perjanjian tertulis, dengan risiko upah terlambat, kurang, atau bahkan tidak dibayar.

Padahal pekerja lepas bukan berarti pekerja tanpa perlindungan. Kemenekraf dan BPJS Ketenagakerjaan juga telah mendorong agar pekerja ekonomi kreatif, termasuk freelancer, memperoleh perlindungan jaminan sosial.

Fajar mungkin tidak sedang memikirkan semua persoalan itu ketika duduk menunggu klien di halaman kampus.

Ia hanya sedang menunggu seseorang yang ingin difoto pada hari wisudanya.

Tetapi dari kamera yang ia bawa, ada satu hal yang sebenarnya ikut terlihat: di balik foto wisuda yang rapi dan membahagiakan, ada pekerja yang harus menghitung sendiri ongkos, waktu, tenaga, risiko, dan harga jasanya.

Termasuk ketika seorang teman datang sambil berkata, “Bisa harga teman, kan?” Bisa saja. Tapi teman juga seharusnya tahu kalau fotografer wisuda tetap harus makan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version