ADVERTISEMENT

Honda Supra X 100, Motor Tempurnya Tukang Galon yang Selalu Butut tapi Lebih Aman dan Kuat Angkat 8 Galon Sekali Jalan

Honda Supra X 100, Motor Butut Andalan Tukang Galon. MOJOK.CO

Bagi sebagian orang, Honda Supra X 100 mungkin cuma motor tua yang sudah waktunya pensiun dan beristirahat di garasi. Namun bagi Yusuf (28), si tukang galon, motor keluaran awal 2000-an itu justru masih menjadi kendaraan tempur paling diandalkan untuk mengantar galon ke rumah-rumah pelanggan di kampungnya di Gamping, Sleman.

***

Bentuk dari Honda Supra X 100 milik Yusuf memang sudah jauh dari kata sedap dipandang. Bodi-nya terlihat lusuh, ditambah rangka besi atau krombong di bagian belakang untuk membawa galon, semakin menambah kesan kuat bahwa “ini motor operasional pekerja keras”. Namun, ada satu hal yang membuat motor ini mustahil digantikan: suaranya.

Agus (32), salah satu pelanggan setia Yusuf, bahkan tidak perlu menengok ke jalan untuk tahu tukang galon langganannya sudah datang. Suara knalpot Supra X 100 itu sudah lama bertransformasi menjadi semacam bel rumah bagi warga sekitar.

Motor bapak yang bertahan dari tahun 2001

Yusuf tidak membeli Honda Supra X 100 itu khusus untuk merintis bisnis depo airnya. Motor tersebut sudah lebih dulu menjadi saksi bisu perjalanan keluarganya, warisan dari sang bapak.

“Alasan paling jelas kenapa saya memilih motor itu ya karena irit, Mas. Itu motor bapak saya dari awal buka bisnis isi ulang galon sekitar tahun 2015. Kalau nggak salah, bapak beli tahun 2001. Sampai sekarang masih perkasa,” kenang Yusuf.

Dilansir dari GridOto, Honda Supra X 100 memakai mesin 4-tak satu silinder SOHC berpendingin udara dengan kapasitas 97,1 cc. Mesin tersebut menghasilkan tenaga maksimum 7,3 PS pada 8.000 rpm dan torsi 0,74 kgf.m pada 6.000 rpm, dengan transmisi manual empat percepatan. Motor ini memiliki rasio kompresi 9:1, tangki bahan bakar sekitar 3,7 liter

Bagi orang awam, mesin 97 cc berpendingin udara dengan transmisi empat percepatan milik Supra X tentu terdengar renta untuk ukuran kendaraan niaga masa kini. Di atas kertas, tenaganya mungkin sepele jika dibandingkan motor-motor keluaran baru. Namun bagi Yusuf, angka-angka pabrikan itu sudah lama lebur dan tidak lagi penting dibanding realitas di lapangan.

“Dari semua motor yang ada di sini, cuma Supra X 100 yang benar-benar awet dan murah perawatan. Di sini ada Honda Revo sama Vario. Itu malah lebih boros dan perawatannya cukup mahal. Makanya Supra X saya pertahankan. Selain irit, perawatannya nggak bikin boncos,” ujarnya.

Delapan galon dalam satu motor Honda Supra X 100

Pekerjaan Yusuf membuat motor tua tersebut mendapatkan tugas yang jauh lebih berat daripada sekadar mengantar pemiliknya jalan-jalan sore. Di bagian belakang, krombong besi menopang beban berat yang tak kenal kompromi. Modifikasi itu sudah melekat dan menyatu dengan bentuk motornya sejak awal usaha.

“Kalau modifikasi memang harus dibuat biar mudah bawa galon. Dulu bikinnya disesuaikan sama bentuk motor. Kalau nggak salah habis sekitar Rp500 ribu pada zaman itu,” katanya.

Yusuf mengaku Supra X 100 miliknya bahkan sanggup membawa sampai delapan galon penuh dalam sekali jalan. Sementara dua motor lain yang ia punya biasanya hanya dibatasi membawa enam galon saja.

“Kalau Supra X bisa sekali angkut delapan galon penuh, Mas. Kalau yang lain paling enam. Sekalinya dipaksa delapan biasanya ada masalah,” tambahnya.

Delapan galon penuh tentu merupakan siksaan harian yang luar biasa bagi sebuah motor bebek tua. Karena itu, ketangguhan tersebut lebih tepat dibaca sebagai buah dari pengalaman panjang Yusuf merawat motornya, bukan sekadar kapasitas angkut resmi dari pabrik.

Meski butut justru bikin Honda Supra X milik Yusuf lebih “aman”

Ada alasan lain mengapa Yusuf tidak buru-buru memensiunkan Supra X 100 dengan motor yang lebih muda: penampilannya yang telanjur “merana”. Motor itu sudah terlalu sering menerjang kerasnya jalanan hingga kehilangan polesan cantiknya. Sisi buruk itu justru ia anggap sebagai berkah terselubung.

“Ya gimana mau nggak butut, lha wong dipakai menerjang jalanan setiap hari. Biasanya Supra X bisa ngantar 10 sampai 12 kali sehari, itu khusus yang dekat-dekat sini,” ujarnya.

Untuk pesanan ke tempat yang lebih jauh, ia biasanya memilih menggunakan Revo atau Vario karena kondisi fisik dan kelengkapan suratnya lebih mendukung perjalanan jauh.

“Nah, kalau yang Supra ini bentuknya sudah kayak motor rongsokan. Maling pun mikir dua kali mau ngambilnya,” sambungnya sambil tertawa lepas.

Kalimat itu terdengar seperti sebuah lelucon, tapi di situlah letak kejujuran hubungan antara Yusuf dan motornya. Supra X 100 tidak lagi diposisikan sebagai barang mewah untuk dipamerkan di jalan raya. Motor itu benar-benar bekerja tanpa rekayasa.

Honda Supra X 100 menjadi identitas tersendiri bagi Yusuf si tukang galon

Bagi para pelanggan, Supra X 100 milik Yusuf bahkan telah menjelma menjadi identitas kultural di perkampungan mereka. Agus menuturkan bahwa suara motor itu punya frekuensi unik yang kontras dengan kendaraan lain yang lalu-lalang, mulai dari kurir paket, penjual roti keliling, hingga motor warga biasa.

“Motor Mas Yusuf itu jadi ciri khas. Mudah dikenali dan nggak bisa tergantikan. Bleyeran knalpotnya khas banget. Orangnya belum muncul, tapi kalau sudah dengar suara knalpotnya, saya langsung siap-siap bawa galon kosong ke depan rumah,” kata Agus.

Ia sendiri sering dibuat geleng-geleng kepala melihat motor renta itu masih perkasa melibas rutinitas setiap hari.

“Aku juga heran. Motornya kelihatan butut terus, tapi kok ya sekuat itu. Bayangin bisa bawa delapan galon penuh air, kok ya tetap jalan terus. Kalau motor lain mungkin mesinnya sudah rontok,” ujarnya takjub.

Di titik itu, Honda Supra X 100 milik Yusuf telah melampaui fungsi aslinya sebagai sekadar alat transportasi pengantar air galon. Bentuknya memang sudah kalah telak dibanding motor-motor matik keluaran mutakhir. Mesinnya pun tak lagi bersuara halus.

Namun, tahun demi tahun membuktikan, motor butut itulah yang setia merayap membelah gang-gang perkampungan. Bahkan jauh sebelum bayangan Yusuf terlihat di ujung jalan, raungan suaranya telah lebih dulu menyampaikan sebuah kepastian: tukang galon kesayangan telah datang.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Belajar Gercep dari Tukang Galon: Balas Chat Singkat, tapi Pelayanannya Nggak Pernah Pelit atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.