Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Ilustrasi - Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z (Mojok.co/Ega Fansuri)

Warna kamar menjadi salah satu faktor penentu kenyamanan. Oleh karena itu, ada satu yang dihindari, setidaknya oleh gen Z, yaitu hijau miskin. Alasannya, warna yang sering dipakai kebanyakan orang ini dinilai norak dan nggak sesuai dengan branding kepribadian mereka. Singkatnya, nggak keren.

***

Saya mencoba bertanya kepada tiga orang yang tergolong dalam usia gen Z. Ketiganya sama-sama berusia 23 tahun, tetapi mempunyai kepribadian yang berbeda-beda.

Namun, ketika ditanya, “Mau nggak kalau kamarmu warnanya hijau miskin?”

Ketiganya kompak menjawab, “Nggak mau.”

Asal-usul hijau miskin, memang digunakan dalam program daerah tertinggal

Menarik mundur untuk mengenali hijau miskin, warna ini sebenarnya disebut sebagai Green Gecko dalam pantone atau standar nomor untuk warna.

Warna hijau yang cenderung muda ini memberikan kesan segar dan hidup karena menyerupai warna tanaman dan tumbuhan. Maka dari itu, sering kali alasan pemilihan warna ini sebagai cat rumah adalah kesan dari warnanya yang sejuk dan menenangkan.

Karena itu juga, kiranya warna ini dipilih sebagai cat rumah dalam program TNI Manunggal Membangun Desa. Program ini dilaksanakan untuk membangun daerah di Indonesia, khususnya daerah tertinggal. Fokusnya lebih kepada pembangunan fisik, seperti memperbaiki fasilitas umum, mengaspal jalan, dan mengecat ulang rumah warga—yang menggunakan warna Green Gecko ini.

Penggunaan Green Gecko dalam program TNI inilah yang membuatnya disebut sebagai hijau miskin. Sebab, digunakan di daerah tertinggal.

Namun pada spekulasi ini, alasan pemilihan warna cat ini juga disebabkan oleh harganya yang paling murah di toko bangunan. Cat ini bahkan bisa dibeli dengan harga Rp10 ribu jika dibeli secara eceran.

@braynathanaelAlesan kenapa warna ijo yang ini masih banyak yang pake. Ib: narasi tv♬ Gymnopedie no.1 / Satie [Piano solo](256275) – takai

Warna hijau miskin terlalu sering digunakan, tidak spesial dan terlalu religius

Dari sejarahnya ini, salah satu gen Z bernama Tata (23) menyuarakan penolakannya terhadap hijau miskin. Menurutnya, warna ini tidak terlihat menarik, semakin tidak menarik bagi dirinya yang sudah tidak menyukai hijau.

“Jelek, dan aku emang nggak suka warna hijau,” katanya, Senin (2/3/2026).

Penolakan keras terhadap hijau miskin ini, kata Tata, didasari penggunaannya oleh banyak orang. Bahkan, warna latar belakang menggunakan hijau ini sebagai green screen sehingga menambah nilai umumnya.

Selain itu, ia menduga alasan hijau jenis ini sering ditemui disebabkan hubungannya dengan mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, kemudian hijau disebut sebagai warna kesukaan Nabi Muhammad Saw.

Dengan alasan itu, Tata membenarkan orang-orang yang serentak menggunakan hijau sehingga mengurangi—bahkan menghilangkan–nilai istimewanya menjadi biasa saja.

Sudah biasa, nilainya malah beralih menjadi religius dari kacamata Tata.

“Menurutku, ijo mungkin adalah warna yang terlalu dekat sama Islam,” kata Tata.

Ijo green screen itu, jadi sering dipakai sama orang dan orang serentak makai ijo yang itu, bukan variasi ijo yang lain,” tambahnya.

Makin banyak digunakan oleh orang-orang, makin biasa dan mudah warna tersebut ditemui. Karena itu, istilah “miskin” seakan-akan menggantikan kelumrahannya, yang membuatnya semakin layak dihindari dari perspektif gen Z.

“Jadi dipakai banyak orang, terlalu sering dipakai masyarakat mana pun. Hijaunya terlalu spesifik juga,” tutupnya.

Hijau miskin tidak sesuai estetika gen Z

Bukan cuma Tata yang menolak. Masih ada Ifroh (23) dan Aulia (23) yang juga menentang penggunaan warna ini di sekitar mereka, utamanya ruang pribadi yang dipunyanya.

“Kalau case-nya adalah kamar pribadi aku di rumah, nggak mau,” kata Ifroh saat ditanyai, Senin (2/3/2026).

Sebagai seseorang yang mengedepankan visual, Ifroh merasa hijau miskin terlalu tricky untuk dipadupadankan—atau mix and match, dalam kamus modern—dengan standar estetikanya.

Selain itu, alasan utamanya adalah Ifroh sudah tidak menyukai warna ini lebih dulu.

“Pertama, aku nggak suka hijau,” katanya.

“Kedua, aku merasa diriku sangat visual dan beberapa tone ijo itu secara visual lebih tricky,” tambah dia.

Dalam menjelaskan ini, Ifroh menyebut bahwa hijau punya kadar yang tidak bisa ditawar-menawar. Ibaratnya, kalau hitam bisa menetralisir, krem bisa mencerahkan, lain hal dengan hijau miskin.

Hijau yang juga disebutnya mirip dengan warna stabilo ini tidak bisa dinegosiasi dengan terlalu terang atau terlalu gelap. Belum lagi, tidak bisa disatukan dengan semua warna.

“Kalau terlalu terang atau kurang balance kayak ijo stabilo ini bakal susah untuk di-pairing sama perbendaan yang ada di kamarku,” ujarnya.

Menurutnya, penting untuk memprioritaskan estetika terlebih dulu.

Dalam industri fashion, pemilihan warna semacam ini lebih dari sekadar soal estetika, tetapi juga berkaitan dengan psikologi. Artinya, memilih warna yang tepat dan sesuai adalah cara tidak langsung dalam menjelaskan hubungan emosional individu dengan tren, sampai sentimen tertentu.

Makanya, yang dilakukan oleh Ifroh bukanlah sesuatu yang mengherankan.

“Lebih soal estetika dan kombinasi, karena selama ini aku menghindari warna gonjreng dan terang untuk segala sesuatu yang aku beli,” jelasnya.

Sama seperti Ifroh, Aulia justru lebih lugas dalam menolak hijau miskin. Dalam satu kalimat singkat yang bersumber dari alasan-alasan yang sama jika dijabarkan, Aulia berterus terang dengan mengakui ketidaksesuaiannya dengan hijau miskin untuk alasan estetik dan kesehatan yang bisa jadi terpengaruh.

Skip dulu, mataku sakit nanti,” tukasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Punya Kepribadian Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan

Exit mobile version