Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA

seleksi CPNS. CPNS Jogja, PNS.MOJOK.CO

Ilustrasi - Nestapa CPNS (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagi banyak orang di daerah Sumatra, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah kasta tertinggi dalam mencari pekerjaan. Begitu juga yang ada di pikiran Utama (bukan nama sebenarnya). Pria berusia 28 tahun ini sudah kenyang merasakan asam garam dunia seleksi CPNS. Harapannya sederhana: punya pekerjaan tetap, gaji stabil tiap bulan, dan bisa membahagiakan ayahnya yang sudah tua.

Utama bukan pemuda sembarangan. Ia lulusan Diploma IV (D-IV) Teknik Informatika dengan kemampuan yang mumpuni. Jago komputer, fasih berbahasa Inggris, dan punya kepercayaan diri tinggi saat berbicara di depan umum. 

Namun, di kampung halamannya yang jauh dari kota besar, kemampuan otak sering kali kalah dengan otot atau “orang dalam”.

Nilai tertinggi CPNS, gagal gara-gara berat badan

Perjalanan Utama mengejar NIP (Nomor Induk Pegawai) penuh dengan drama yang menyakitkan. Pada tahun 2017, ia pernah ikut tes untuk formasi Penjaga Tahanan. Saat itu, Utama tampil luar biasa di tes tulis (SKD). Skornya 386, tertinggi di provinsinya untuk formasi tersebut.

Namun, keberuntungan belum berpihak. Di tengah jalan, aturan berubah. Utama yang saat itu memiliki berat badan berlebih (obesitas) harus rontok di tes fisik. Ia kalah lari dan ketangkasan dari peserta lain yang nilainya jauh di bawahnya, tapi badannya lebih atletis. 

“Jujur kecewa berat waktu itu. Merasa tidak adil saja,” akunya yang berhasil Mojok hubungi, Minggu (8/3/2026) siang.

Tahun 2019, kesempatan emas itu datang lagi. Utama melamar CPNS untuk formasi Analis Sistem Informasi di salah satu pemerintah kabupaten. Saingannya berat, satu kursi diperebutkan 69 orang. Ia mengaku kembali membuktikan kecerdasannya dengan meraih skor tertinggi lagi di tahap awal.

Setelah menunggu berbulan-bulan karena pandemi Covid-19, Utama akhirnya menyelesaikan tahap akhir seleksi. Saat pengumuman keluar, namanya berada di urutan pertama. 

“Langsung sujud syukur saat itu juga,” kata dia.

Ayahnya yang seorang tukang listrik tua hampir menangis karena bangga. Rencana ayahnya untuk merantau cari kerja di luar daerah pun dibatalkan. Mereka merasa masa depan sudah di depan mata.

Kesalahan syarat administrasi

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan seminggu. Saat masuk tahap pemberkasan, “badai” datang dari meja administrasi. Pihak verifikator pusat menyatakan bahwa ijazah D-IV Teknik Informatika milik Utama tidak sesuai dengan kualifikasi “S-1” yang diminta untuk jabatan tersebut.

Utama mencoba protes. Baginya, D-IV dan S-1 itu setara secara jenjang pendidikan. Namun, birokrasi berkata lain. Nama Utama dicoret dan dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS). “Kemenangannya” dalam seleksi CPNS dianulir karena urusan ijazah yang dianggap tidak sama.

“Rasanya seperti sudah sampai di depan pintu, tapi tiba-tiba pintunya dikunci begitu saja,” kenangnya dengan pahit.

Ia mengaku sempat jatuh dalam depresi. Utama mengurung diri di kamar, malu bertemu tetangga, dan merasa pendidikannya selama ini sia-sia karena ia gagal jadi PNS. Ijazah yang ia perjuangkan dengan biaya mahal itu kini hanya teronggok di lemari, tidak bisa menolongnya saat ia sangat membutuhkan pekerjaan.

“Terpukul sekali. Jujur kalau diingat lagi masih ada perasaan trauma.”

Baca halaman selanjutnya…

Mendapatkan jalan terang cuma modal ijazah SMA. Dapur tetap ngebul.

Gagal CPNS, cari jalan terang moda Ijazah SMA

Kondisi ekonomi keluarga yang makin sulit memaksa Utama untuk bangkit. Ia melihat ayahnya masih harus naik-turun tangga memperbaiki instalasi listrik meski badannya sudah sering sakit. Utama sadar, ia tidak bisa terus-terusan meratapi nasib jadi korban birokrasi.

Suatu hari, ia melihat lowongan kerja di sebuah perusahaan logistik (pengiriman barang) swasta yang baru buka cabang di dekat daerahnya. Syaratnya tidak muluk-muluk: pria, jujur, mau bekerja keras, dan minimal lulusan SMA.

Tanpa pikir panjang, Utama melipat ijazah D-IV miliknya yang pernah dipakai mengikuti tes CPNS. Ia kemudian mengambil ijazah SMA dari lemari, memfotokopinya, lalu memasukkannya ke dalam map cokelat. Ia melamar bukan sebagai ahli IT, melainkan sebagai staf operasional gudang.

Tak disangka, prosesnya sangat lancar. Pihak perusahaan terkesan dengan cara bicara Utama yang rapi dan sopan saat wawancara. Tanpa butuh waktu lama, Utama langsung diterima bekerja.

“Saat itu saya mulai mengubur mimpi jadi PNS.”

Bahagia dengan cara lain

Kini, hari-hari Utama diisi dengan kesibukan di gudang. Tugasnya mulai dari mendata paket yang masuk, mengatur jadwal kurir, hingga sesekali ikut membantu bongkar muat barang jika sedang ramai. Memang pekerjaannya melelahkan secara fisik, tapi ia merasa jauh lebih tenang.

Kemampuan otaknya ternyata tidak sia-sia. Karena ia jago komputer, Utama membantu bosnya merapikan sistem pendataan barang di gudang yang tadinya berantakan. Hal ini membuat kinerjanya sangat diapresiasi oleh perusahaan. 

Meski masuk lewat jalur ijazah SMA, ia dipercaya memegang tanggung jawab lebih karena dianggap lebih pintar dan cekatan dari karyawan lain.

Yang paling penting bagi Utama bukan lagi perkara lolos CPNS, tapi dapur rumahnya kembali mengepul. Ia sudah bisa memberikan uang belanja untuk keluarganya setiap bulan. Ayahnya kini tidak perlu lagi memaksakan diri bekerja terlalu keras di luar rumah.

“Dulu saya pikir kalau tidak jadi PNS, hidup saya kiamat. Ternyata Tuhan punya cara lain. Saya memang tidak pakai seragam abdi negara, tapi saya bisa kasih makan keluarga dengan keringat saya sendiri. Itu sudah lebih dari cukup,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version