Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

Lebaran.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kena Mental saat Lebaran (Ega Fansuri/Mojok.co)

Lebaran adalah momen kumpul bagi keluarga besar. Di atas kertas, ini adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu setelah sebulan penuh berpuasa. 

Namun, di dunia nyata, suasana hangat ini bisa berubah drastis jadi momen yang paling dihindari. Terutama bagi mereka yang usianya sudah menginjak kepala tiga, tapi belum punya pasangan.

Bagi orang-orang ini, lebaran sering kali terasa seperti ujian mental. Ada satu pertanyaan template atau basa-basi yang selalu muncul tiap tahun dan sukses bikin muak: “Kapan nikah?” atau “Mana nih calonnya, kok sendirian terus?”.

Ngasih THR banyak tetap percuma

Pertanyaan seperti itu kelihatannya cuma basa-basi. Namun, bagi yang ditanya, rasanya seperti sedang disidang. Menariknya, tekanan ini nggak peduli dengan status ekonomi. Kamu bisa saja sudah punya karier bagus, gaji besar, dan sanggup ngasih THR lumayan tebal buat keponakan-keponakan. 

Sayangnya, di mata keluarga besar, semua pencapaian itu seolah hilang nilainya kalau kamu belum punya buku nikah.

Pengalaman tak mengenakan saat lebaran ini dirasakan oleh Adil. Laki-laki berusia 31 tahun ini bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Secara finansial, Adil sudah sangat mapan. Dia bisa beli barang-barang yang dia mau pakai uang sendiri, rutin kirim uang ke orang tua, dan pulang kampung bawa banyak uang.

Namun, begitu Adil duduk di tengah kumpul keluarga besar, obrolan tentang kesuksesan kerjanya cuma bertahan beberapa menit. Sisanya adalah cecaran soal pernikahan.

“Rasanya capek banget,” kata Adil, Minggu (8/3/2026). “Aku kerja keras di Jakarta, bisa mandiri, bisa ngasih keponakan THR yang lumayan. Tapi respons orang-orang saat lebaran selalu berujung ke, ‘Uang banyak buat apa kalau pulang ke rumah nggak ada istri yang masakin?’ atau ‘Buruan nikah, nanti keburu tua siapa yang ngurus?’.”

Bagi Adil, pulang kampung yang niatnya buat istirahat dari stres pekerjaan di ibu kota, malah jadi sumber stres baru. Pencapaian yang dia bangun susah payah seolah tidak ada artinya sama sekali. Di mata kerabatnya, Adil tetap dianggap belum “lulus” dalam hidup hanya karena dia masih berstatus lajang.

Banyak yang memilih menghindari keluarga besar saat lebaran

Ternyata, Adil tidak sendirian. Kalau kita iseng membuka media sosial seperti Threads menjelang atau saat Lebaran, linimasa pasti penuh dengan keluhan serupa. 

Banyak orang di usia 30-an yang terang-terangan menyebut Lebaran sebagai “neraka”.

Di Threads, kita bisa dengan mudah menemukan curhatan orang-orang yang lebih milih ambil lembur di kantor atau solo traveling ke luar kota daripada harus mudik. 

Alasannya seragam: malas menghadapi keluarga besar. 

Bahkan, ada juga yang bercanda bilang mentalnya harus disiapkan dari sebulan sebelum puasa cuma buat jawab pertanyaan “kapan nikah“. 

Fenomena ini menunjukkan kalau rasa muak ditanya soal pernikahan bukanlah hal yang langka, melainkan masalah banyak orang di generasi ini.

Perempuan jauh lebih besar tekanannya

Tekanan yang sama, atau bahkan lebih parah, juga dirasakan oleh perempuan. Vania (30) sudah tujuh tahun bekerja di sebuah bank di kawasan Semarang. Ia adalah contoh nyata perempuan mandiri. Punya tabungan yang cukup, investasi, dan sangat menikmati hidupnya sekarang. 

Namun, saat Lebaran tiba, kenyamanan hidupnya selalu diusik. Bagi Vania, komentar keluarga sering kali bernada menakut-nakuti dan mengerdilkan usahanya. 

“Keluarga itu suka aneh. Kalau kita kerja keras dibilangnya, ‘Perempuan jangan terlalu mandiri atau gajinya kegedean, nanti laki-laki pada minder’,” cerita Vania.

Bukan cuma itu, Vania juga sering mendapat komentar yang menyudutkan soal usia. 

“Paling sering tuh dengar kalimat, ‘Jangan kelamaan milih, nanti keburu tua lho, susah punya anak’. Padahal aku bukannya milih-milih sampai nggak masuk akal. Aku cuma nggak mau asal nikah sama orang yang salah cuma gara-gara disuruh keluarga,” tambahnya.

Pernah dihina dengan sebutan “perawan tua”

Ucapan-ucapan dari keluarga besar saat Lebaran memang sering kali kelewat batas dan bikin sakit hati. Yang bikin Vania sesak, biasanya bukan sekadar pertanyaan “kapan nikah”, tapi ketika pertanyaan itu mulai diikuti dengan perbandingan.

Misalnya, ketika tantenya mulai menunjuk sepupu lain sambil bilang, “Tuh lihat sepupumu, gajinya padahal biasa aja, tapi berani nikah dan sekarang anaknya udah dua. Masa kamu yang gajinya gede kalah berani?”. 

Atau juga ketika ada kerabat yang menatap dengan tatapan kasihan, seolah-olah menjadi lajang di usia 30 adalah sebuah musibah besar yang harus diratapi. Belum lagi saran-saran yang nggak diminta, seperti menyuruh menurunkan standar pasangan agar “cepat laku”.

“Yang paling bikin sakit hati, tanteku pernah bilang kalau aku ‘perawan tua’. Dan tahu, respons keluarga termasuk ayah dan ibuku cuma ketawa keras-keras.”

Kata-kata seperti ini, bagi Vania, jelas merusak suasana hati dan bikin orang malas untuk lama-lama kumpul keluarga.

Tidak betah berlama-lama dengan keluarga besar saat lebaran

Pada akhirnya, bagi orang-orang seperti Adil, Vania, dan ribuan lajang lainnya di Threads, berdebat atau menjelaskan prinsip hidup ke keluarga besar sering kali cuma buang-buang energi. Jalan pintas paling aman untuk menjaga kewarasan adalah mencari pelarian.

Adil, misalnya, punya “jurus andalan” setiap kali pulang kampung. Kalau obrolan sudah mulai mengarah ke urusan jodoh, dia akan mendadak sibuk mengecek HP seolah ada urusan kerjaan penting. Kalau itu belum cukup, dia sengaja menawarkan diri jadi “seksi sibuk”.

“Apalah, yang penting kelihatan sibuk. Jajan ke Indomaret kek, atau ngapain yang penting pergi dari rumah,” kata Adil.

Lain lagi dengan Vania. Dia lebih memilih mengungsi ke kamar begitu sesi salam-salaman selesai. Alasan “capek jalan selalu ia gunakan. Kalaupun terpaksa, ia hanya akan nongol sebentar sebelum akhirnya cari alasan “kerja dadakan” sehingga ia bisa pergi ke kafe.

“Kalau nggak begitu, habis. Kena mental,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version