Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

ilustrasi - bus ekonomi jalur Jogja Jambi bikin man flu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sebelum mampu membeli tiket pesawat untuk mudik Lebaran dari Jogja ke Jambi, Revvfi pernah menderita saat mudik pakai jalur darat. Pemuda asal Aceh itu merasa tertipu beli tiket bus ekonomi yang murah hingga menghabiskan waktu selama 78 jam dalam perjalanan.

***

Ada 3 tipe pemudik di Indonesia. Pertama, mereka yang punya satu kampung halaman. Kedua, mereka yang punya lebih dari satu kampung halaman. Ketiga, mereka yang memang memilih tidak mudik saat Lebaran.

Sementara Revvfi adalah tipe kedua. Pemuda asal Aceh ini sudah lama tinggal di Jambi bersama keluarganya dan baru merantau ke Jogja. Setelah 10 tahun berlalu, Revvfi punya keinginan untuk mudik ke Aceh guna mengunjungi nenek dari ayahnya yang masih hidup.

“Aku dan ayah ingin mengunjungi nenek sekaligus keluarga besar yang ada di sana, tapi dulu sering tertunda karena kami juga memikirkan kondisi keuangan dan waktu,” kata Revvfi saat dihubungi Mojok, Kamis (12/3/2026).

Namun, karena perasaan rindunya sudah tidak bisa lagi dia tahan, Revvfi ingin mengupayakan agar Lebaran 2023 kemarin bisa mudik ke Aceh. Walaupun, jaraknya sudah semakin jauh dari Jambi ke Aceh karena dia merantau ke Jogja.

“Waktu itu aku baru dapat kerja di Jogja dan tabungan juga belum banyak. Jadi tetap harus hemat duit,” kata Revvfi.

Namun pada akhirnya, Revvfi menyadari bahwa sesuatu yang dipaksakan memang tidak baik, hingga mengalami kejadian-kejadian sial dalam perjalanannya mudik.

Karjimut Jogja pilih bus ekonomi murah malah tersiksa

Mengingat suasana mudik Lebaran yang bakal padat, Revvfi memutuskan berangkat dari Terminal Giwangan, Jogja ke Jambi lebih dahulu sebelum Hari Raya Lebaran. Guna menghemat biaya, ia memilih menggunakan bus ekonomi yang harga tiketnya paling murah.

“Aku beli tiket bus ekonomi yang harganya Rp600 ribu. Bayangin kalau naik pesawat, udah Rp2,5 juta ongkosnya, belum termasuk pulang-pergi,” kata Revvfi yang waktu itu gajinya hanya setara UMP Jogja (sekitar Rp2 juta tahun 2023) lebih sedikit, alias karyawan gaji imut (karjimut).

Mulanya, Revvfi merasa lega karena berhasil berhemat. Namun, ia baru menyesal saat hari H menaiki bus ekonomi tersebut. Bagaimana tidak, perjalanan dari Jogja ke Aceh yang seharusnya hanya berlangsung 2 hari malah memakan waktu 3 hari lebih.

“Ternyata harus benar-benar persiapan mental saat mudik Lebaran, karena kita nggak pernah tahu akan ada apa kedepannya. Sesuatu yang kukira cuma macet, ternyata sampai 6 kali mogok segala,” keluh Revvfi.

Pasrah jadi “ikan pindang” sepanjang jalan

Revvfi tidak pernah mengira bahwa bus ekonomi yang ditumpanginya dari Jogja ke Jambi akan mengalami banyak kendala hingga 6 kali mogok di pinggir jalan. Bahkan, belum lama setelah keberangkatan bus.

“Mogok pertama itu waktu baru keluar tol arah Solo-Semarang sampai 2 kali, karena AC-nya nggak mau menyala. Yang ketiga, berhenti di Jalan Pantura karena masalah serupa,” ujar Revvfi.

Karena masalah AC yang sering mati, banyak penumpang yang merasa kepanasan. Muak dengan masalah yang berulang, mereka pilih protes ke sopir dan kernet.

“Kok nggak nyala sih Bang? Panas nih!,” protes penumpang lain, termasuk Revvfi yang mengeluhkan hal serupa karena saking panasnya. Ibarat dijemur seperti ikan pindang, apalagi saat melewati Jalan Pantura yang terkenal sumuk!

Setelah beberapa kali perbaikan, bus ekonomi itu akhirnya tak lagi rewel. Hanya saja, masalah itu belum selesai sepenuhnya karena masih ada 3 kejadian lagi yang bikin bus ekonomi jalur Jogja–Jambi itu mogok.

Nyaris berujung maut di bulan Ramadan

Bus ekonomi yang dinaiki Revvfi mengalami mogok untuk yang ke-4 kalinya di wilayah sekitar Jakarta pada dini hari. Kali ini masalahnya bukan pada AC, tapi karjimut di Jogja itu tidak peduli lantaran terlalu mengantuk dan lelah.

Saat bus yang ditumpangi Revvfi sudah masuk wilayah Sumatera, sopir menghentikan kembali busnya di pinggir jalan. Ia bilang ada masalah pada mesin. Setelah mengutak-ngatik selama beberapa menit, sopir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. 

Tak sampai satu jam, tiba-tiba, salah satu ban bus meletus dengan suara kencang: “Stass!”

Sontak seluruh penumpang pun ikut kaget mendengar suara ledakan tersebut. Di sisi lain mereka bersyukur karena masih selamat di jalan.

Beberapa dari mereka juga memilih bertahan untuk naik bus ekonomi jalur Jogja–Jambi tersebut karena sedikit lagi tiba di tujuan. Termasuk Revvfi yang berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi, sekaligus ingin mempertahankan puasanya pada saat itu.

Untungnya, proses ganti ban tidak terlalu lama sehingga sang sopir bisa melanjutkan perjalanan. Walaupun Revvfi harus menerima kenyataan pahit karena dia baru sampai rumah di Jambi sekitar Senin malam dari keberangkatan Jumat siang.

“Sampai rumah aku langsung tepar. Akhirnya aku putuskan istirahat sebentar satu hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh pakai mobil pribadi dengan ayah,” ujar Revvfi.

Bus ekonomi Jogja–Jambi menyerang titik terlemah laki-laki

Awalnya, Revvfi sudah sepakat dengan ayahnya untuk gantian menyetir mobil dari Jambi ke Aceh. Namun, karena perjalanannya dari Jogja ke Jambi sudah menyiksa, Revvfi pun membujuk ayahnya agar mau menyetir lebih lama.

“Perjalanan dari Jambi ke Aceh Selatan itu kurang lebih memakan waktu sekitar 35 jam. Setelah kupikir-pikir, kayaknya nggak mungkin kalau aku paksakan untuk menyetir lama-lama,” kata Revvfi.

Perjalanan dari Jogja ke Jambi yang menghabiskan waktu 78 ternyata membuat tubuh Revvfi sakit hingga demam. Bagi seorang laki-laki, demam terasa seperti orang mau mati dibandingkan stres mental. Istilah ini dikenal sebagai “man flu”.

Kapok dengan pengalaman naik bus ekonomi murah, Revvfi kini mending bayar mahal alias merelakan gajinya yang imut itu daripada harus terserang demam kembali. Pengalaman pahitnya itu jadi pelajaran berharga bagi Revvfi di tahun berikutnya.

“2024, aku akhirnya bisa pakai pesawat karena gajiku juga sudah naik. Nggak lama setelah dapat kerja di Jakarta.” Ujar mantan karjimut di Jogja itu. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version