Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

Buka bisnis di desa sengsara, tidak bikin slow living MOJOK.CO

Ilustrasi - Buka bisnis di desa sengsara, tidak bikin slow living. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Membuat bisnis di desa awalnya tampak menggiurkan, sebagai salah satu opsi pekerjaan untuk meninggalkan kota demi slow living. Namun, setelah menghadapi realita kebiasaan warga desa, justru bayangan nikmatnya slow living tersebut buyar seketika. 

***

Lelah jadi budak korporat, Vikri (26) sempat berpikir serius untuk resign pekerjaan di kota. Toh hasilnya juga segitu-segitu aja. Tidak ada pergerakan kelayakan hidup yang signifikan. 

Pikiran pendek Vikri saat itu adalah mengalokasikan tabungan sebagai modal membuat bisnis toko di desa. Entah toko kelontong atau toko lain yang belum ada di desa. 

Sebab, dalam pengamatannya, toko di desanya di Jawa Tengah pasti memiliki pelanggan. Dengan kata lain, uang pasti akan terus berputar.

Pemilik toko kelontong pun tampak menjalani hidup secara fleksibel. Waktunya salat jemaah di masjid, ya berangkat ke masjid. Pagi-pagi tidak perlu buru-buru berangkat kerja. Kalau butuh jagongan ya tinggal jagongan kapan saja. Benar-benar gambaran slow living yang Vikri dambakan. 

Bisnis di desa tidak seindah bayangan, makan hati dengan kebiasaan warga desa

Saat mengutarakan bayang-bayang merintis bisnis di desa, ibu Vikri langsung menyergah kalau itu justru akan membuat Vikri lebih sengsara. Apalagi jika bisnis umum seperti membuka toko kelontong. 

Sebagai orang yang menghabiskan waktu lebih banyak di desa, ibu Vikri membeberkan beberapa situasi yang akan menyulitkan Vikri, alih-alih membuatnya slow living. 

“Ya memang bakal punya pelanggan, setiap hari ada saja yang belanja. Tapi daya beli kan terbatas. Maksudnya, belinya nggak seberapa. Intensitas warga belanja pun nggak tinggi sebagaimana di kota,” ungkap Vikri, Rabu (8/4/2026). 

Itulah kenapa, kata ibu Vikri, balik modal saja sudah syukur. Boro-boro mencari untung. Bahkan masih ada orang yang punya toko tetap terjerat utang karena merasa pendapatan tidak cukup untuk kebutuhan yang lebih besar. 

Lah bagaimana mau dapat untung, kebiasaan warga desa saja membuat makan hati: suka utang, tapi bayarnya entah kapan. 

“Kata ibu ini riil terjadi. Susahnya adalah kalau yang belanja udah ngerasa deket sama pemilik toko/warung. Itu pasti sering banget utang belanjaan. Utang duit non-belanjaan pun sering karena mengira si pemilik toko duitnya banyak hahaha,” kata Vikri. “Masalahnya bayarnya entah kapan.”

Gimana mau slow living, risiko dimusuhi padahal sudah benar

Loh kan bisa saja nggak membolehkan utang hingga menagih utang yang belum dibayar? 

Masalahnya tidak sesederhana ibu. Seturut penjelasan dari ibunya, kata Vikri, posisi pemilik toko benar-benar serba salah kalau warga sudah bilang “utang”. 

“Risikonya dimusuhi. Karena kalau nggak ngutangi, langsung dicap pelit,” ujar Vikri.

“Halah, wong nanti juga dibayar kok nggak boleh utang,” misalnya ada oknum warga di desa Vikri yang berkata begitu terhadap pemilik toko yang enggan memberi utang.

Sementara kalau menagih utang yang tidak kunjung dibayar, pasti akan langsung dicap kejam dan jadi bahan rasan-rasan dengan fakta yang dibolak-balik.  “Eh yo yo, utang baru kemarin aja kok sudah ditagih-tagih, nauzubillah,” respons oknum warga yang tidak diterima biasanya seperti itu. 

Vikri pernah menyanggah sang ibu: Ya sudah tidak masalah. Sekalian saja dimusuhi. Biar si tukang utang tidak balik lagi ke toko, biar tidak utang-utang lagi. Daripada terus-terusan makan hati. 

Hanya saja, seperti yang disinggung sebelumnya, si tukang utang yang terlanjur kesal sudah lebih gercep membolak-balikkan fakta ke warga desa lain. Tujuannya adalah agar warga lain ikut kesal, membela si tukang utang, bahkan di titik fatal memutuskan tidak akan belanja lagi di toko itu. 

Harga naik jadi persoalan serius, dicap culas

Jangankan persoalan utang-piutang, masalah harga naik saja, kata ibu Vikri, bisa menjadi persoalan serius.

“Warga itu carinya toko yang harganya murah. Nah, masalahnya juga, kata ibuku, nggak sedikit warga di desaku yang nggak update soal situasi pasar. Jadi kalau harga naik, mereka keberatan,” jelas Vikri, menjelaskan ulang paparan sang ibu.

“Kemarin saja harganya nggak semahal ini, kok tiba-tiba naik aja.” Kalimat semacam itu siap-siap saja terlontar kepada si pemilik toko/warung.

Sialnya, tidak akan berhenti di situ. Lagi-lagi narasi miring pun bakal digiring ke warga desa lain. Mencoba menggiring opini kalau si pemilik toko adalah orang culas dan nyari untungnya tidak kira-kira.

“Respons yang umum buat ini: ‘Harga naik terus biar naik haji itu!’. ‘Harga dinaikin terus biar kaya sendiri. Memang kedonyan (terlalu duniawi!’,” ucap Vikri.

Nyoba bisnis baru di desa, tidak bertahan lama karena terbentur “musiman” 

Vikri mencoba berpikir keras, kira-kira bisnis apa yang benar-benar baru yang bisa memikat di desa. Namun, melihat kasus beberapa temannya yang pernah mencoba, opsi ini pun tidak bagus-bagus amat. 

Misalnya, ada teman Vikri yang mencoba membuka bisnis kuliner atau jajanan ala kota yang belum ada di desa. Bayangan si teman, karena banyak anak muda di desa yang sudah mengakses TikTok, harapannya bisnis kuliner baru tersebut bisa sustain. 

“Awalnya emang menjanjikan, Cok. Itu salah satu yang membuatku tergiur buat meninggalkan kota. Karena laris banget. Bayangan slow living benar-benar udah di depan mata lah,” beber Vikri. 

Akan tetapi, laris manis itu hanya bertahan di satu bulan pertama. Selebihnya kering pemasukan. “Ya karena awal-awal ramai itu karena penasaran, setelahnya mengalami kebosanan,” sambung Vikri. 

Ini mirip dengan situasi brand-brand viral yang mencoba masuk ke kabupaten kecil—seperti Mixue, Mie Gacoan, dan sejenisnya. Awal-awal masuk, langsung diserbu pelanggan. Tapi tak lama kemudian langsung sepi sama sekali. Pertama, karena rasa penasaran sudah terjawab. Kedua, daya beli jelas terbatas. Apalagi bagi orang kabupaten–dan desa—dengan uang sekadarnya. Tidak mungkin sering-sering mengalokasikan uang untuk jajanan sebagaimana orang-orang di kota. 

Saat mencoba bisnis baru lagi, polanya pun berulang. Alhasil, ujung-ujungnya si teman memutuskan untuk kembali mencari peruntungan di kota. 

Itu kemudian membuat Vikri berpikir ulang: kayaknya butuh skill lebih kalau mau merintis bisnis di desa. Sehingga, untuk saat ini, keinginannya untuk resign demi slow living masih tertunda karena ketakutan bakal gagal dan sengsara ujungnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Exit mobile version