Bagi orang desa yang kerja di luar negeri, dalam standar sosial dituntut untuk menunjukkan bukti hasil dari merantaunya. Ternyata bukan hanya dalam bentuk capaian-capaian materi—seperti rumah, kendaraan, dan sejenisnya—tapi bahkan dalam bentuk menggelar acara dangdutan untuk warga desa.
***
Pada medio 2000-an, pernah ada gelombang anak-anak muda di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, yang merantau untuk kerja di luar negeri. Rata-rata menuju Malaysia. Salah satu anak muda yang mengikuti gelombang tersebut adalah Likin (yang kini menjadi bapak dua anak).
Dipicu oleh satu-dua orang yang telah berangkat sejak 1998-an, dan ternyata hasil kerja di luar negeri menjanjikan, akhirnya Likin pun tidak mau ketinggalan merantau ke negara tetangga demi taraf hidup yang lebih baik.
Sejak merantau ke luar negeri, Likin memang sudah merasakan bahwa ekspektasi orang desa terhadapnya perlahan berubah. Orang yang sudah kerja di luar negeri dianggap punya uang melimpah. Tidak berhenti pada anggapan, uang melimpah tersebut juga harus dibuktikan wujudnya, melalui aset-aset besar seperti tanah, rumah, dan sejenisnya.
Menggelar dangdutan: standar sosial lain bagi orang desa yang kerja di luar negeri
Namun, standar sosial terhadap orang yang merantau ke luar negeri tidak cukup di situ. Di desa Likin di Rembang, seseorang dianggap telah berhasil di perantauan kalau sekali seumur hidupnya berhasil menggelar acara dangdutan. Karena memang skena yang berkembang di desanya saat itu adalah skena dangdut (era New Pallapa dan Monata).
“Kalau ditanya bagaimana awalnya persis, agak susah dijawab. Tapi yang saya ingat, dulu ada (perantau) yang pulang untuk nikah kah. Nikahnya nanggap dangdut,” ujar Likin, Selasa (11/8/2026).
Dari situ standar sosial bagi para perantau luar negeri pun ikut bertambah. Bagi yang pulang dan ingin menggelar hajatan, seminimal-minimalnya harus ada dangdut sebagai hiburan—selain hiburan lain seperti ketoprak.
Seiring waktu polanya berubah. Berdasarkan cerita yang Likin dengar dari orang-orang yang lebih dulu merantau, pernah ada masanya pemuda-pemuda perantau iseng iuran untuk menggelar dangdutan. Niatnya sebenarnya untuk gayeng-gayengan di momen Agustusan. Toh kebetulan di bulan Agustus pada suatu tahun (Likin lupa persisnya) anak-anak muda perantau itu tengah pulang ke desa.
Memang terealisasi. Disambut baik pula oleh warga desa. Sialnya, momen keisengan dan insidental tersebut kemudian justru menjadi standar sosial lain bagi anak-anak muda di desa yang kerja di luar negeri.
Dicecar pertanyaan: Piye cah-cah nom iki, dangdutan gak?
“Anak-anak muda perantau, termasuk saya pribadi, jadi terpancing. Maksudnya, ini kan menjadi tolok ukur sukses. Kami ingin membuktikan kalau kami mampu loh, punya duit loh, kalau cuma sekadar menggelar dangdutan,” kata Likin.
Likin pun pernah menjadi bagian dari penggelar acara tersebut. Ia dan sejumlah temannya di Malaysia sengaja menyisihkan uang, iuran, lalu uang tersebut lah yang nantinya mereka gunakan untuk mengundang grup dangdut, menyewa panggung, sound system, dan lain-lain.
Jika awal mulanya digelar saat para perantau Malaysia sama-sama pulang, di tahun-tahun berikutnya tidak lagi begitu. Pokoknya yang penting digelar. Mau pulang atau tidak, yang penting uang iuran di Malaysia dikirim ke desa mereka di Rembang untuk dialokasikan membuat acara.
“Kalau nggak pulang, kami kirim ke saudara yang dipercaya lah, atau teman-teman yang di rumah, intinya yang bisa dipercaya. Mereka jadi panitia untuk bikin acaranya,” ujar Likin.
Warga desa pun mayoritas menyambut antusias. Sejak panggung ditata saja sudah banyak anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang menonton. Ya, menonton orang masang panggung, saking antusiasnya. Apalagi kalau acara sudah dimulai, maka semakin riuh lah lapangan desa.
Masalahnya, bulan Agustus kemudian menjadi patokan: orang desa beranggapan, di bulan ini pasti bakal ada acara dangdut yang didanai anak-anak muda yang kerja di luar negeri. Sehingga, setiap tahun, setiap menjelang Agustus, pasti Likin dapat kabar dari orang desa: bakal ada dangdutan nggak?
“Minimal kalau Agustus kelewat, pertanyaannya ya: ‘Tahun ini ada dangdutan nggak? Piye cah-cah nom iki (Gimana pemuda-pemuda (perantau) ini?)’,” ujar Likin.
Beban ekspektasi yang mengganggu dan hasrat “dipandang” di desa sendiri
Likin mengakui, ada masanya ia dan sejumlah teman-temannya merasa jengah. Karena seolah-olah menggelar acara dangdut telah menjadi kewajiban sosial yang harus mereka penuhi—dan mereka dituntut untuk memenuhi.
Bagaimana tidak. Mereka kerja dari pagi hingga petang. Dari satu proyek bangunan ke proyek lain. Disengat panas, menggigil saat hujan, tangan ngapal hingga luka-luka. Tapi di saat yang sama, kok bisa-bisanya orang-orang desa seolah tinggal “memanen” hiburan dari mereka yang berjibaku di sebuah negara nun jauh dari rumah.
“Tapi di masa-masa itu, teman-teman seperantauan mikirnya begini: kalau ada uang lebih, kita sisihkan buat nanggap. Biar pas kita pulang orang desa pada baik, kita dipandang,” beber Likin.
Tapi efeknya memang benar-benar manjur. Kalau Likin atau teman-temannya pulang, orang desa langsung menyambut mereka dengan sangat baik. Seolah mereka telah menjadi orang sukses dari merantau di luar negeri.
Saat era itu berakhir, cara pandang orang desa mulai berubah
Akan tetapi, bagaimanapun, status Likin dan teman-temannya adalah pekerja informal. Tanpa jaminan hari tua.
Saat pengurusan permit semakin mahal sejak 2015-an, Likin dan satu-persatu temannya terpaksa harus berhenti dari pekerjaan di Malaysia. Pulang ke desa dan tidak pernah kembali lagi.
Mereka hanya bisa mengandalkan pekerjaan di sektor pertanian hingga serabutan. Pemasukannya tentu saja tidak sebesar saat masih kerja di luar negeri. Perlahan-lahan, era ketika mereka bisa sangat loyal iuran untuk menggelar dangdutan pun ikut berakhir.
“Bersamaan dengan itu, cara pandang warga desa juga berubah. Sikap orang ke kami sudah nggak seperti dulu lagi,” ungkap Likin.
Syukur bagi Likin yang sempat menyisihkan uang untuk membeli aset penting untuk tanah. Tapi ada juga teman desa Likin yang dulu belum sempat menabung banyak karena selain untuk dikirim ke keluarga tiap bulan, uangnya harus disisihkan untuk dangdutan dan acara-acara desa lain.
“Ini fakta lain. Jadi selain kami harus iuran untuk nanggap dangdut, kalau di desa ada acara seperti sedekah laut, selawat bersama, kami yang di Malaysia ini juga ditarik iuran, ekspektasinya juga iurannya harus lebih besar dari warga desa pada umumnya,” beber Likin. Alhasil, sepulang dari perantauan, tidak ada aset yang bisa diolah sebagai investasi jangka panjang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














