Bagaimana sudut pandang seorang bapak ketika anaknya mengaku tumbuh dalam situasi fatherless (tanpa peran ayah)? Sementara sang bapak telah menghabiskan 60 jam perminggu untuk bekerja habis-habisan: demi biaya kuliah anak dan memberi keluarga keamanan finansial.
***
Sudah banyak anak yang mencurahkan perasaannya yang merasa tidak punya sosok ayah dalam hidupnya. Sang ayah ada secara fisik, tapi tidak hadir dalam peran emosional lantaran beberapa sebab.
Seorang bapak asal California bernama Farley Ledgerwood mengaku kaget dengan situasi tersebut. Pasalnya, setelah bekerja keras selama 35 tahun demi anak-anaknya, di masa tuanya, saat ia ingin berkumpul dengan anak-anaknya, sang anak justru mengungkit: dulu ayah tidak pernah ada buat kami!
Cerita Farley selengkapnya bisa dibaca dalam tulisan ini, “35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga“.
Di titik ini lah para bapak baru menyadari—sekalipun juga merasa teriris batinnya: ternyata kerja habis-habisan untuk memberi perlindungan finansial terhadap keluarga bukanlah hitungan tunggal bentuk kehadiran dan kasih sayang. Dan akhirnya anak merasa fatherless.
Bapak takut keluarganya miskin, sedangkan anak takut fatherless
Fenomena fatherless (kekosongan peran ayah) memang cukup kompleks. Setidaknya begitu yang dipaparkan Cole Matheson dalam tulisannya yang dikutip dari GLOBAL English Editing. Apalagi jika seorang bapak hanyalah kelas pekerja.
Bagi bapak kelas pekerja, ia benar-benar sangat khawatir: bisa memberi makan keluarga atau tidak. Oleh karena itu, ekspresi utamanya kemudian lebih besar berkutat pada persoalan finansial.
Seorang bapak yang tumbuh miskin bahkan hidup dengan orientasi: bagaimana harus terus bekerja. Kendati ia harus bekerja hingga 60 jam seminggu (melewati batas maksimal jam kerja).
“Sebab, jika berhenti bekerja (bahkan hanya sebentar saja) terasa seperti meninggalkan/menelantarkan keluarganya,” ucap Cole.
Bapak merasa kerja lembur biar tak susahkan keluarga sudah cukup
Selama ini beberapa bapak hanya memahami satu peran vital sebagai seorang ayah: kerja habis-habisan agar keluarga dan kesusahan.
Cole pun menegaskan, membayar kuliah juga merupakan tindakan cinta. Bekerja lembur sehingga anak tidak perlu khawatir tentang tagihan listrik juga bagian dari kasih sayang.
“Masalahnya bukan karena ketentuan soal keuangan tidak dihitung. Masalahnya adalah itu menjadi satu-satunya hal yang diperhitungkan,” ujar Cole. Sebab, tidak hanya itu yang anak butuhkan.
Seperti temuan dalam penelitian “The Bystander-Effect: A Meta-Analytic Review on Bystander Intervention in Dangerous and Non-Dangerous Emergencies” yang ditulis Ronald Rohner: kenapa anak butuh tiak hanya sekadar aman secara finansial? Karena jika anak tidak mendapat kehangatan emosional dari orang tua akan tumbuh dengan kondisi psikologi rentan: bergulat dengan kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam membentuk hubungan yang aman. Dengan begitu, aman secara finansial saja tidak cukup bagi anak.
Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan dalam Jurnal Psikologi Keluarga oleh para peneliti di Universitas Brigham Young juga menemukan bahwa ayah yang sangat terlibat dalam peran pengasuhan emosional (bukan hanya penyediaan keuangan) tercatat memiliki anak-anak yang melaporkan kesehatan emosional yang jauh lebih baik dan ikatan relasional yang lebih kuat di masa dewasa.
Anak fatherless tidak menampik pengorbanan bapak, tapi bapak juga harus belajar lagi soal “kehadiran”
Cole memberi fakta, anak-anak yang merasa fatherless sedianya tidak menampik sama sekali pengorbanan sang bapak.
Seorang anak tidak menghapus kenyataan bahwa sang bapak telah bekerja keras demi biaya kuliah anak. Tidak juga berpura-pura pengorbanan itu tidak terjadi.
Hanya saja anak butuh sang bapak menyediakan waktu bersama, di sela-sela letih dan sisa waktu yang sedikit lantaran terkuras di tempat kerja. Anak ingin sekadar ditanya: bagaimana harimu?
Di titik ini, kalau kata Cole, seorang anak sebenarnya ingin bilang: bukannya anak tidak bisa membaca ungkapan cinta dan kasih sayang dari bapak dalam rupa kerja tanpa henti. “Aku tahu kamu (bapak mencintaiku), tapi aku tidak bisa merasakannya.” Dan itu terasa menyesakkan sekali.
***
Selama ini, bapak bertindak atas kesadaran inisiatif dan kewajiban: bekerja keras untuk keluarga adalah kewajiban. Sehingga menyimpulkan, itu sudah cukup untuk disebut cinta dan kasih sayang.
Atas fenomena banyak anak merasa kekurangan peran seorang ayah, Cole memberi saran: sepertinya sesekali seorang bapak juga harus bertanya kepada anak, “Apa yang kamu butuhkan?” Karena bisa jadi yang anak butuhkan tidak sekadar uang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
