Di desa, pekerjaan babysitter tidak selalu berarti datang pagi lalu pulang sore dengan seragam dan tarif tertentu. Ada pula pengasuh anak yang rumahnya hanya beberapa langkah dari rumah orang tua si anak. Meski mendapat gaji yang tidak seberapa namun mereka juga turut menjadi orang yang paling bangga ketika anak asuhnya berhasil.
***
Wiwik (60), misalnya. Warga Trihanggo, Gamping, Sleman yang biasa dipanggil Mbah Wiwik ini sudah menjadi pengasuh anak sejak 2010. Selama 16 tahun, setidaknya lima anak pernah ia rawat sejak usia balita sampai mereka mulai sekolah.
Hafid kini kuliah di UMY. Iqbal kuliah di UIN. Nisa menempuh pendidikan di UGM. Sementara Chaska duduk di kelas 2 SD dan Carrel baru masuk TK. Bagi Mbah Wiwik, mereka bukan sekadar anak yang pernah ia jaga. Ia mengikuti tumbuh kembang mereka dari dekat, termasuk saat anak-anak itu mulai punya kesibukan sendiri dan tidak lagi setiap hari datang ke rumahnya.
Menjinakkan tangis dan membangun rasa aman khas babysitter di desa
Menjadi pengasuh anak di desa menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama anak asuhnya menginjakkan kaki di rumah. Mbah Wiwik mengingat betul saat anak-anak itu datang dalam kondisi ketakutan dan menangis keras mencari orang tua kandung.
“Kalau awal-awal ya memang si anak agak rewel, tapi selalu saya gendong atau saya dekati terus, makanya jadi tidak rewel lagi. Yang Carrel saja dulu butuh waktu hampir satu bulan biar bisa ‘nrimo’ saya, meski harus pakai acara drama-drama dulu. Tapi ya mau gimana lagi, lha wong namanya saja anak-anak, Mas,” tutur Mbah Wiwik saat saya menghubunginya lewat WhatsApp, Senin (28/09/2026).
Pendekatan fisik Mbah Wiwik sejalan dengan temuan psikolog John Bowlby dalam jurnal Attachment and Loss. Bowlby merumuskan attachment theory yang menegaskan bahwa anak usia dini membutuhkan figur lekat pengganti yang responsif dan konsisten. Kehadiran pengasuh yang sigap merespons tangisan berhasil membangun rasa aman (secure attachment), sehingga anak sanggup meredam kecemasan berpisah dari orang tua kandung.
Jurang generasi anak: dari main tanah ke candu layar
Perjalanan Mbah Wiwik selama enam belas tahun merekam pergeseran karakter anak-anak asuhnya secara telak. Mengasuh Hafid, Iqbal, dan Nisa belasan tahun lalu terasa jauh lebih mudah karena minim distraksi teknologi. Mbah Wiwik cukup membiarkan mereka mengeksplorasi ruang tamu dan teras rumah.
“Generasi pertama dulu masih mudah karena zaman mereka kecil belum terlalu banyak kena HP. Makanya mudah ngajarin ngomong sama jalan, mereka langsung menangkap dengan baik. Kalau Chaska dan Carrel memang sudah di taraf ngeyel jadi agak ekstra. Saya juga sudah sepuh, tenaga saya berkurang kalau harus mengejar-ngejar pas mereka mulai lari,” papar Mbah Wiwik.
Studi dari American Academy of Pediatrics (AAP) dalam jurnal Pediatrics membuktikan bahwa paparan layar berlebih pada anak balita menurunkan fokus perhatian dan memicu keterlambatan stimulasi bahasa. Anak yang terpaku pada ponsel kehilangan momen interaksi dua arah secara nyata.
“Kalau dulu pas Hafid itu pusingnya karena bocahnya sulit makan dan maunya main terus. Kalau Chaska ini gamau main ke luar, maunya di dalam kamar terus sambil nonton HP atau TV, nonton kartun terus,” keluh Mbah Wiwik.
Ketika anak menolak orang tua kandung dan lebih percaya babysitter
Kedekatan intensif selama lima tahun menciptakan ikatan batin yang sangat kuat antara Mbah Wiwik dan anak-anak asuhnya. Setiap kali anak jatuh sakit atau bangun tidur, sosok Mbah Wiwik yang pertama kali mereka sebut.
“Sama Mas, orang tua mereka kalau ada apa-apa sama anak nyarinya saya. Contohnya Carrel, kalau bangun tidur pagi tidak ada saya pasti nyari saya, padahal saya hari itu sedang libur dan bapak ibunya ada di rumah. Nanti caranya biar tidak rewel ya ‘dibohongi’ orang tuanya, bilang Mbah Wiwik nanti datang, sekarang main sama bapak ibu dulu,” kata Mbah Wiwik.
Ryan, ayah dari Chaska dan Carrel, membenarkan situasi tersebut tanpa menyimpan dendam batin.
“Kalau dari kami sih tidak ada rasa cemburu atau tersisih. Cuma memang kadang ada perasaan iri karena Chaska dan Carrel lebih ‘manut’ ke Mbah Wiwik daripada ke kami sebagai orang tuanya,” aku Ryan terus terang.
Riset Michael Lamb tentang non-parental caregiving dalam Child Development menunjukkan bahwa anak balita mampu menaruh kepercayaan ganda tanpa mengikis status orang tua kandung, asalkan kedua belah pihak menjalin komunikasi harian yang sehat.
Kurikulum kampung tanpa teori muluk soal parenting
Mbah Wiwik sama sekali tidak pernah membaca buku panduan parenting modern atau modul stimulasi sensorik impor. Perempuan lanjut usia ini mengandalkan naluri pengasuhan komunal khas desa: mengajak anak mengobrol sepanjang hari, menyuapi makan sembari melihat ayam di pekarangan, serta melatih anak buang air di kamar mandi secara konsisten.
Psikolog Lev Vygotsky menyebut metode alamiah ini sebagai sociocultural scaffolding. Anak menyerap kosakata, mengasah motorik, dan memahami batasan sosial lewat percakapan nyata bersama orang dewasa di sekitarnya. Pengasuh anak di desa menyediakan ruang tumbuh yang organik tanpa beban kurikulum yang kaku.
Dari Gaji Rp500 Ribu hingga Rp1,5 Juta, Ditambah Sembako
Selama menjadi babysitter di desa, penghasilan Mbah Wiwik juga mengalami perubahan. Ketika pertama kali mengasuh anak pada sekitar 2010, ia menerima gaji sekitar Rp500 ribu. Kini, bayarannya sudah mencapai Rp1,5 juta per bulan.
Namun, hubungan kerja itu tidak berhenti pada nominal gaji. Ketika Lebaran tiba, keluarga anak asuhnya sering memberikan sembako atau parsel. Saat orang tua anak sedang mendapat rezeki lebih, Mbah Wiwik juga kerap mendapat tambahan beras atau kebutuhan dapur ketika menerima gaji.
Bagi Mbah Wiwik, pemberian semacam itu menjadi bentuk perhatian dari keluarga yang anaknya ia rawat selama bertahun-tahun. Pekerjaan sebagai pengasuh anak memang memberinya pemasukan. Tetapi ketika anak-anak yang dulu ia rawat mulai tumbuh dan berhasil melanjutkan pendidikan, ada kebanggaan lain yang tidak bisa dihitung dari nominal gaji.
Hafid kini kuliah di UMY, Iqbal di UIN, dan Nisa di UGM. Tiga anak yang pernah menghabiskan bertahun-tahun masa kecil bersama Mbah Wiwik itu akhirnya tumbuh dan punya jalan masing-masing.
“Senang mas kalau lihat mereka sudah kuliah. Rasanya ikut bangga karena dulu dari kecil saya yang ngasuh,” ujar Mbah Wiwik.
Ia tidak menganggap keberhasilan anak-anak itu sebagai keberhasilannya sendiri. Namun, bertahun-tahun menemani mereka membuat kabar baik tentang mereka terasa dekat.
Memupuk bangga tanpa menuntut pamrih sebagai pengasuh anak di desa
Pekerjaan sebagai pengasuh anak di desa selalu berujung pada perpisahan yang sunyi. Begitu anak menginjak usia enam tahun dan mengenakan seragam sekolah dasar, kontrak pengasuhan tuntas seketika. Mbah Wiwik mengembalikan anak-anak itu seutuhnya kepada keluarga masing-masing dan memulai siklus baru merawat bayi lain. Meski begitu, jejak tangan Mbah Wiwik tidak pernah luntur dari ingatan anak-anak asuhnya.
“Kalau sekarang Hafid, Iqbal, dan Nisa pas ketemu masih sering menyapa ‘Mbah Wiwik!’ begitu. Mereka untungnya tidak lupa sama saya. Ya masak lupa, lha wong lima tahun hidup sama saya,” ujar Mbah Wiwik sambil tertawa lepas menutup obrolan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat dan tulisan Liputan lainnya.
