ADVERTISEMENT

Amplop Tahlilan Dicap Tradisi Memberatkan Berdalih Sedekah tapi Isinya Paling Dinantikan

Amplop tahlilan di desa tengah dikritik karena terkesan seperti pemorotan dan memberatkan. Namun, isinya ternyata paling dinantikan MOJOK.CO

Tradisi pemberian amplop kepada jemaah saat tahlilan menjadi salah satu bagian yang sarat kritik. Dinilai membuat sahibul hajat tertimpa duka dua kali: sudah ditinggal anggota keluarga meninggal, uang terkuras untuk menggelar tahlilan dan mengisi amplop. Namun, diakui, amplop tahlilan ternyata masih menjadi bagian yang sangat dinantikan. 

***

Setelah terkantuk-kantuk, puluhan kepala yang semula tertunduk dengan kopiah miring refleks mendongak ketika mendengar pemimpin tahlilan membaca doa penutup. Itulah momen yang paling ditunggu para jemaah saat tahlilan: rangkaian bacaan-bacaan tahlil selesai, lalu piring-piring berisi makanan dan jajanan dikeluarkan dari dapur. 

Tapi ada yang paling ditunggu, terutama dari kalangan anak-anak muda, dari acara tahlilan di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, itu. Yakni momen ketika berkatan dibagikan. 

“Kalau zaman sekarang beda dengan dulu. Kata bapakku, dulu berkatan jadi yang dinanti buat dimakan bareng sama keluarga di rumah. Tapi kalau sekarang, orang buka berkatan itu lebih berharap terselip amplop di antara sebotol teh pucuk dan urapan,” ungkap Ozan (25), seorang pemuda desa asal Rembang. 

Amplop tahlilan: pemorotan berdalih tradisi dan sedekah?

Ozan tahu, belakangan ini kritik terhadap praktik tahlilan di desa memang dilancarkan secara terang-terangan. Sebab di satu sisi dinilai memberatkan orang yang tengah berduka: harus keluar uang untuk masak hingga mengisi amplop di malam ketujuh. 

Ozan sendiri mengaku menjadi salah satu anak muda desa yang sangsi dengan kebiasaan tersebut. Baginya, pemberian amplop tersebut terkesan seperti pemorotan. Hanya saja, di desanya, amplop tahlilan adalah bagian paling dinantikan dengan dalih tradisi dan sedekah. 

“Kenapa pemberian amplop tahlilan ke jemaah atau tamu undangan menjadi bagian yang dipaksakan ada? Karena pemuka agama di sini menyebutnya sebagai sedekah untuk melapangkan kubur orang yang meninggal, sedekah atas nama orang yang meninggal,” ungkap Ozan, Minggu (6/9/2026). 

Dari situlah akhirnya menjadi tradisi yang mengakar kuat. Tidak peduli orang kaya atau tidak berpunya, gelaran tahlilan selama 7 hari pertama hingga pemberian amplop di hari ketujuh pasti akan diupayakan oleh sahibul hajat. 

Memang, ada sahibul hajat yang dengan ikhlas memberikan amplop tahlilan terhadap tamu undangan. Memang bernilai amal saleh. Namun, alasan kenapa praktik ini dikritik adalah karena kenyataannya ada kalangan masyarakat yang merasa keberatan. Terlebih secara hukum sebenarnya bukan suatu kewajiban, tapi seolah menjadi keharusan karena embel-embel tradisi tadi.

Amplop tahlilan ternyata sangat dinantikan karena lumayan 

Bertahun-tahun, dari anak-anak hingga sekarang beranjak dewasa, Ozan mendapati pola yang masih sama setiap pulang dari tahlilan: Belum juga sampai rumah, anak-anak atau para pemuda sudah menyobek amplop di jalan karena penasaran dengan isinya. 

Bahkan, katanya, sebelum berangkat pun sudah saling berbisik. Membuat janji untuk ngopi atau jajan di mana, karena mereka sudah optimis bakal mendapat uang cuma-cuma dari mengikuti tahlilan. 

“Pokoknya kalau anak-anak di desaku, tahlilan malam ketujuh itu pastin semangat. Pertama, menu makannya biasanya lebih enak. Daging kambing lah minimal. Kedua, ya karena sudah kebayang bakal dapat amplop, jadi berangkatnya dengan riang gembira,” beber Ozan. 

Ozan bukan satu-satunya anak muda desa yang tahu bahwa praktik tersebut tengah dikritik habis di media sosial. Banyak kok anak-anak muda yang terliterasi soal itu. Hanya saja, mereka mengaku tidak naif, karena kenyataannya mereka memang sangat mengharapkan amplop tersebut. 

Tamak ke orang kaya dan keluh kesah ke isi amplop orang tidak berpunya

Guyonan kiai kabupaten yang dalam ceramahnya sering bilang: “Kalau yang menggelar tahlilan orang kaya, warga pasti semangat datang”, bagi Ozan, sama sekali tidak meleset. Setidaknya dalam konteks desa Ozan di Rembang. 

“Aku sendiri sebelumnya juga begitu. Kalau sudah ada undangan tahlilan dari orang kaya di desa, sudah langsung tamak. Isi amplop minimal Rp50 ribu lah,” ujar Ozan. 

Bagi anak-anak muda desa, uang segitu sudah bisa untuk “foya-foya”. Maksudnya untuk ngopi plus rokoknya sekalian. Sementara bagi anak-anak kecil, uang segitu bisa dipakai untuk tambah-tambahan top up skin Mobile Legends.

Ketamakan tersebut tidak melulu sesuai ekspektasi. Sebab, ada kalanya meski sahibul hajat terbilang orang kaya, tapi amplopnya hanya berisi Rp10 ribu-Rp20 ribu. 

“Sekarang aku berpikir, ya wajar lah. Ngasih amplop ke puluhan orang kalau isinya Rp50 ribu-Rp50 ribu ya bangkrut. Tapi kalau aku dulu, dan sekarang pun masih kudapati di sekitarku, kalau orang kaya ngasihnya di bawah Rp50 ribu, pasti disumpah serapahi. Dibilang pelit lah, kikir lah,” ucap Ozan. 

Apalagi jika yang mengundang tahlilan adalah orang tidak berpunya, treatment-nya malah lebih parah. Pertama, mereka akan datang dengan ogah-ogahan. Kedua, masih tega memasang ekspektasi terhadap isi amplop yang diberikan. 

Dalam bayangan mereka, paling tidak isi amplopnya Rp10 ribu lah. Karena standar umumnya segitu. Akan tetapi, jika isinya ternyata hanya Rp5 ribu, mereka tidak segan-segan saling mengutarakan kekecewaan satu sama lain. 

“Itu masih berusaha ngasih (amplop), loh. Kalau yang nggak sanggup, nggak bikin amplop sama sekali, akan muncul celetukan, ‘Wah garingan, lur.’,” jelas Ozan. Dulu Ozan menjadi satu dari mereka. 

Namun kini, setiap mendengar celetukan semacam itu, entah kenapa hatinya terasa perih dan dongkol. Muncul tanda tanya dalam benaknya, “Kenapa tradisi semacam ini masih dilestarikan?”

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 7 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version