Banyak cara untuk mengenali orang itu berasal dari Bantul atau bukan. Bisa dari alamat rumahnya, kebiasaannya menyebut arah perjalanan, atau dari cara ia merespons obrolan dengan hooh po dan sederet kosakata khas lain yang dianggap lucu dan nyleneh.
***
Bagi Nikmah (27) dan Nova (27), ada pula kosakata sehari-hari yang terdengar lucu bagi orang lain, tetapi terasa wajar bagi mereka yang terbiasa menggunakannya.
Bahasa Bantul punya warna tersendiri dalam percakapan sehari-hari. Kata seperti gemang, memeng, hingga mojah mungkin membuat sebagian orang tertawa dan mengernyitkan dahi. Namun, di balik kesan nyleneh tersebut, ada kebiasaan berbahasa yang membentuk kedekatan sekaligus menjadi pengingat tentang lingkungan tempat seseorang tumbuh.
Pada Sabtu (24/10/2026), saya berbincang dengan Nikmah dan Nova, dua warga Bantul yang berbagi cerita tentang kosakata lokal yang mereka kenal. Bagi keduanya, bahasa Bantul bukan sekadar perkara lucu-lucuan, melainkan bagian dari identitas dan keakraban sehari-hari.
Berikut tujuh kosakata (M)Bantul yang menarik untuk dikenali.
1. Hooh po, ungkapan yang bikin percakapan terasa akrab
Pernah mendengar seseorang merespons perkataan temannya dengan hooh po? Bagi orang yang tidak terbiasa dengan ungkapan tersebut, respons ini mungkin terdengar seperti pertanyaan yang belum selesai. Namun, dalam percakapan sehari-hari, ungkapan semacam ini bisa menjadi bagian dari gaya bicara yang terasa akrab bagi penuturnya.
Nikmah menyebut hooh po sebagai salah satu ciri percakapan yang ia asosiasikan dengan orang Bantul. Ungkapan tersebut menarik bukan semata-mata karena bunyinya, melainkan karena penggunaannya bergantung pada situasi, intonasi, dan hubungan antarpembicara.
Tentu, hooh po tidak otomatis menjadi milik eksklusif warga Bantul. Untuk membuktikan kekhasan geografisnya, pemakaian ungkapan tersebut perlu dibandingkan dengan daerah lain. Namun, bagi penutur yang tumbuh dengan ungkapan itu, bunyinya bisa langsung terasa familiar.
2. Gemang, cara menolak yang punya (m)Bantul sekali
Kalau seseorang mengajak pergi, tetapi kamu sedang tidak ingin ke mana-mana, jawaban emoh mungkin sudah cukup dikenal. Menurut Nikmah, dalam kosakata yang ia gunakan, ada pula kata gemang untuk menyatakan penolakan.
Kata ini menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah lingkungan memiliki pilihan kosakata yang terasa biasa bagi penuturnya, tetapi bisa mengundang pertanyaan dari orang lain.
Bayangkan ketika seseorang baru pertama kali mendengar kata gemang. Ia mungkin perlu bertanya dua kali sebelum memahami maksudnya. Namun, setelah terbiasa, kata itu justru bisa menjadi bagian dari percakapan yang mengalir tanpa perlu penjelasan panjang.
Bagi Nikmah, penguasaan kosakata seperti ini dapat menjadi petunjuk tentang asal-usul seseorang dan seberapa jauh ia bergaul dengan lingkungan tertentu. Meski bukan ukuran mutlak keaslian seseorang, bahasa memang dapat menunjukkan kedekatan dengan komunitas sosial.
3. Memeng, ketika rasa malas punya sebutan sendiri bagi warga Bantul
Ada hari ketika pekerjaan menumpuk, tetapi kasur terasa jauh lebih menarik. Dalam situasi seperti itu, orang mungkin langsung mengatakan sedang malas. Nikmah menyebut memeng sebagai salah satu kosakata yang digunakan untuk menyatakan rasa malas.
Bagi orang yang tidak mengenalnya, kata ini terdengar seperti nama panggilan atau bunyi spontan yang keluar ketika seseorang sedang enggan melakukan sesuatu. Padahal, menurut penjelasan Nikmah, kata tersebut memiliki fungsi dalam percakapan sehari-hari.
Menariknya, kosakata lokal tidak selalu harus terdengar rumit untuk menjadi penanda identitas. Satu kata yang dipakai berulang kali dalam keluarga, pertemanan, atau lingkungan kampung bisa menjadi bagian dari kebiasaan bersama.
Namun, penggunaan memeng sendiri sebenarnya banyak dan lazim digunakan di daerah Jogja. Sehingga sebenarnya kosakata tersebut tidak terasa aneh bagi saya, namun tetap saja itu akan lucu kalau dikatakan oleh Nikmah atau Nova, ada ciri khas tertentu dalam pengucapannya.
4. Mojah, kata untuk kaus kaki yang bikin heran
Dari semua kosakata yang dibagikan Nikmah, mojah menjadi salah satu yang paling mengundang komentarnya sendiri bahkan saya sempat tertawa membaca pesan darinya.
“Mojah lucu banget, kak,” tulisnya dalam percakapan kami.
Menurut Nikmah, kata tersebut digunakan untuk menyebut kaus kaki. Ia bahkan mengaku merasa aneh ketika mendengar kata itu, meskipun sudah mengenalnya. Di sinilah letak daya tarik bahasa lokal. Sesuatu yang sudah akrab bagi penutur bisa terdengar menggelikan ketika diperhatikan kembali. Kata yang biasa digunakan untuk menyebut benda sehari-hari mendadak terasa unik ketika dibawa keluar dari lingkungan asalnya.
Sejauh ini kosakata mojah benar-benar unik dan mengundang gelak tawa. Saya rasa tidak ada kata yang lebih lucu dari mojah itu sendiri.
5. Mantrol, ketika mantel mendapat sebutan berbeda di Bantul
Nikmah juga menyebut mantrol sebagai istilah untuk mantel atau jas hujan. Sekilas, perbedaannya hanya terletak pada bunyi kata. Namun, perubahan kecil dalam pengucapan dapat menjadi bagian dari variasi bahasa yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Dalam linguistik, perubahan bunyi dan perbedaan kosakata merupakan dua hal yang bisa dipelajari untuk mengenali variasi bahasa. Kata mantrol itu sendiri jamak diucapkan oleh orang Bantul dan orang Sleman sebagian.
6. Selop, sandal yang disebut dengan kosakata lokal
Nova, yang juga berasal dari Bantul, ikut berbagi kosakata yang ia kenal. Salah satunya adalah selop, yang menurutnya digunakan untuk menyebut sandal.
Kata ini menarik karena terdengar akrab dalam bahasa Indonesia maupun sejumlah ragam bahasa daerah. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati jika hendak menyebutnya sebagai kosakata khas Bantul.
Justru, contoh selop menunjukkan bahwa bahasa lokal tidak selalu terbentuk dari kata yang hanya dimiliki satu wilayah. Sebuah kata bisa digunakan oleh kelompok tertentu, memperoleh nuansa lokal dalam percakapan, atau dikenal lebih luas dengan makna yang sedikit berbeda.
Untuk mengetahui kekhasannya, kita perlu membandingkan pemakaian selop di lingkungan Nova dengan penutur dari daerah lain. Dengan begitu, pembahasan tidak berhenti pada kesan unik, tetapi juga memperhatikan bagaimana kata tersebut benar-benar digunakan.
7. Gogok, kosakata yang mengundang rasa penasaran
Satu lagi kata yang disebut Nova adalah gogok, yang menurutnya digunakan untuk menyebut aktivitas duduk. Dibandingkan kata yang sudah akrab dalam percakapan bahasa Indonesia, bunyi gogok bisa mengundang rasa penasaran. Orang yang baru mendengarnya mungkin akan heran dan kebingungan.
Di daerah Sleman sendiri sudah jarang kosakata tersebut digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hanya ada beberapa penutur yang menggunakan kata gogok, salah satunya adalah orang tua atau yang sudah sepuh.
Bahasa Bantul bukan sekadar kosakata yang terdengar nyleneh
Ketujuh contoh di atas memperlihatkan bagaimana pengalaman berbahasa bisa berbeda dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Namun, untuk menyebut seluruhnya sebagai ciri eksklusif Bantul, dibutuhkan pembandingan yang lebih luas.
Penelitian Rohmatunnazilah (2007) tentang pemakaian bahasa Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta membahas variasi bahasa berdasarkan aspek fonologi, morfologi, sintaksis, kosakata, dan tingkat tutur.
Sementara itu, penelitian Dwi Fury Misgiarti (2024) tentang masyarakat lokal pesisir Yogyakarta menelaah variasi fonologis dan leksikal serta kaitannya dengan lingkungan sosial dan kontak dengan orang dari luar daerah.
Kedua penelitian tersebut memberi konteks bahwa bahasa Jawa memiliki keragaman lokal. Namun, keduanya tidak membuktikan bahwa gemang, memeng, mojah, mantrol, selop, atau gogok hanya digunakan di Bantul.
Bagi Nikmah, bahasa lokal juga menjadi penanda asal-usul dan seberapa jauh seseorang bergaul. Ia mengamati bahwa anak muda masih menggunakan dialek Bantul, meskipun menurutnya tidak sebanyak generasi seumurannya.
“Masih banyak, cuma memang tidak sebanyak seumuran aku. Mereka yang masih muda malah sudah terlalu Jogja yang aku-kamu gitu deh,” ujarnya.
Penggunaan aku-kamu tentu tidak otomatis berarti seseorang kehilangan identitas Bantul. Bahasa bisa berubah mengikuti lingkungan pergaulan, sementara kosakata lokal tetap digunakan dalam keluarga atau komunitas tertentu.
Ada pula alasan emosional untuk mempertahankannya. Nikmah bercerita bahwa dialek Bantul bisa menghadirkan kerinduan bagi orang yang merantau.
“Sebuah kerinduan sih, apalagi ketika merantau. Misal seperti teman saya, dialek dan bahasa mBantul itu sangat khas dan merindukan,” tutupnya.
Pada akhirnya, bahasa Bantul tidak harus dianggap sebagai bahasa tersendiri untuk memiliki arti penting bagi penuturnya. Kata-kata yang terdengar lucu atau nyleneh bisa menjadi pengikat keakraban, mengingatkan seseorang pada teman dan keluarga, serta menghadirkan rasa dekat di tengah lingkungan yang berbeda. Sebab, terkadang, yang membuat sebuah kata terasa istimewa bukanlah karena kata itu hanya dimiliki satu daerah, melainkan karena ada pengalaman bersama yang melekat di dalamnya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Orang Ngapak Melawan Rasisnya Warga Jakarta: ‘Bukan Dielek Ndeso, Aneh, Keras, Apalagi Bahasa Alien atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.