Tak perlu susah-susah mencari rumah berarsitektur Tionghoa di Indonesia. Sebab di negeri Tiongkok Kecil bernama Lasem ini, kamu bisa menjumpainya di setiap gang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beberapa rumah bahkan masih dihuni oleh peranakan Tionghoa.
Saking berharganya kawasan ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menganggarkan dana sekitar Rp88,13 miliar pada tahun 2021, guna menata sekaligus merawat bangunan yang diduga cagar budaya tersebut.
Melansir dari YouTube Pusat Dokumentasi Arsitektur, komunitas Lasem Berdaya mencatat setidaknya ada 362 objek yang diduga sebagai cagar budaya. Mulai dari struktur jalanan, bangunan, dan situs.
Beberapa bangunan bahkan dikomersialkan sebagai tempat penginapan di Lasem. Misalnya, Rumah Merah Heritage Lasem, Guest House Nyah Lasem, Rumah Oei, Omah Idjo, hingga Lasem Boutique Hotel.
#1 Rumah Merah Heritage
Tak afdal rasanya jika ke Lasem tak mengunjungi Rumah Merah Heritage. Penginapan di Desa Karangturi, Gang 4, Nomor 7, Rembang ini memiliki arsitektur khas Tionghoa-Hindia. Ia berdiri sejak tahun 1800-an tapi baru dibuka sebagai penginapan umum di Lasem tahun 2016.
Melansir dari Instagram resmi @rumahmerahheritagelasem, penginapan di Lasem tersebut menawarkan berbagai fasilitas dengan harga yang berbeda setiap kamar. Ada yang tipe deluxe berisi king bed alias muat dua orang. Ada pula yang tipe eksklusif.
Untuk tipe deluxe, harganya Rp360 ribu per malam. Fasilitasnya meliputi WiFi, AC, Televisi, kamar mandi dalam, air panas, hingga sarapan. Untuk tipe eksklusif, fasilitasnya tak jauh beda tapi harganya Rp450 ribu per malam.
Meskipun tak menginap di sini, kamu tetap bisa touring ke dalam untuk mengenal sejarah Rumah Merah Heritage Lasem. Kamu hanya perlu masuk menuju loket dan membayar biaya tour guide seharga Rp10 ribu.
#2 Guest House Nyah Lasem
Sama seperti Rumah Merah Heritage Lasem, penginapan Nyah Lasem juga memiliki arsitektur bergaya Tionghoa-Hindia. Tak heran, karena lokasi keduanya tak terlalu jauh. Hanya terpisah dari gang-gang yang berjarak satu kilometer jika dilihat dari peta Google.
Pengurus Museum Nyah Lasem, Agik NS berujar kamar-kamar di sana biasa disewa oleh peneliti baik dari lokal maupun luar negeri. Tak jarang, ia meminta tanda tangan mereka di balik pintu-pintu kamar sebagai kenang-kenangan. Meski begitu, ia tak membatasi wisatawan yang ingin menginap.
“Kami punya dua kamar di bagian tengah dan belakang yang terdiri dari dua sampai tiga ranjang,” ucapnya sembari memperlihatkan ruangan kamar di samping kiri joglo utama.

Wisatawan yang datang rombongan dikenai harga Rp100 ribu per malam untuk 3 ranjang dan Rp150 ribu untuk 3 ranjang. Kalau datang sendiri, wisatawan hanya membayar Rp50 ribu per orang.
Sementara itu, joglo utama berfungsi sebagai museum dan biasa dipakai untuk acara. Misalnya pameran maupun aktivitas komunitas sejarah Lasem di Rembang. Di sana, pengunjung juga bisa menyimak silsilah keluarga Nyah lasem.
Tak hanya itu, wisatawan juga bisa melihat replika altar Dewa Dapur hingga arsip jaringan dagang batik di Lasem pada awal abad ke-20. Salah satunya cerita dari Tan Welis dan Tan Lena, kakak beradik dari sepuluh bersaudara yang merupakan penerus dari usaha batik Dua Putri.
#3 Wisma Pamilie di Rumah Oei
Wisma Pamilie di Jalan Jatirogo, Desa Karangturi, Nomor 10 ini sebenarnya bangunan yang baru dibuka sejak 2016, karena bangunan utamanya (Omah Gedhe) sempat vakum lebih dari 70 tahun.
Dibanding Rumah Merah Heritage Lasem di Rembang, Wisma Pamilie memiliki lebih banyak ruangan, yakni 15 kamar yang terdiri dari lantai pertama dan kedua. Ada tiga tipe kamar yang ditawarkan. Pertama, kamar quadruple yang berisi 4 kasur king size. Kedua, kamar keluarga berisi 5 kasur single. Terakhir, penginapan berisi 5 kasur single bertingkat.
Penjaga di sana menyarankan agar memesan langsung lewat WhatsApp: 08112611010 untuk tahu jika sewaktu-waktu ada diskon. Harganya sendiri dipatok dari Rp360 ribu per malam dan akan naik sesuai tipe kamar yang dipilih.
Selain menginap, banyak warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke sana untuk nugas atau sekadar nongkrong di pelataran Omah Gedhe–tempat ibadah khusus keluarga serta berisi peninggalan bersejarah. Sementara di bagian pelatarannya tersedia banyak kursi besi dan meja dari kafe terkenal yang menyediakan kopi lelet, serta toko oleh-oleh.
#4 Omah Idjo
Tak jauh dari Rumah Oei, kamu bisa melihat penginapan berarsitektur Persia dengan corak warna hijau tua. Saat saya ke sana, bangunan ini hampir tak terlihat karena tertutup gerobak pedagang dan pohon rimbun di depannya.
Untungnya, perhatian saya masih tertuju pada sebuah menara Merbabu yang terlihat menghias langit. Di sana, pelanggan yang menginap dapat menikmati keindahan Rembang dari atas. Melansir dari foto-foto Instagram @omahidjo_lasem, fasilitas yang disediakan di penginapan ini tak jauh beda dengan Wisma Pamilie.
Hanya saja, nuansanya berwarna hijau khas Timur Tengah yang berakulturasi dengan budaya Jawa. Sedangkan, Wisma Pamilie lebih dominan berwarna merah dengan bangunan khas Tiongkok.
Konon, pemilik dari kedua penginapan itu sama, yakni keluarga Oei yang sekarang dikelola oleh keturunan ketujuh mereka. Maka tak heran, penataan serta fasilitasnya hampir mirip.
Hanya saja, seperti yang saya katakan tadi, Omah Idjo relatif sepi saat saya lewat di Desember 2025 lalu. Unggahan di Instagram-nya pun terakhir terjadwal di tahun 2019 dan belum ada update.
#5 Lasem Boutique Hotel
Menurut informasi di Instagram @lasemboutiquehotel, bangunan ini dulunya terpilih jadi salah satu tempat pelaksanaan street party dalam rangka Peranakan Convention 2018. Dan baru berubah menjadi hotel sekitar Januari 2019.
Fasilitasnya meliputi TV, AC, WiFi, kamar mandi, air panas dan air dingin, sarapan, kereta wisata, hingga sepeda ontel yang dapat disewa. Pemesanan dapat dilakukan lewat nomor WhatsApp: 081299661353.
Sebetulnya, lokasi dari penginapan-penginapan di atas tak terlalu berjauhan. Tapi, jika diukur dari Masjid Jami’ Baiturrahman Lasem–pusat syiar Islam yang terletak di alun-alun, lokasi Lasem Boutique Hotel berjarak kurang lebih 550 meter. Lebih jauh dibanding penginapan selainnya di Rembang.
Namun, ia jadi satu-satunya penginapan yang terdekat dari Klenteng Cu An Kiong serta kediaman Rumah Candu atau Lawang Ombo. Keduanya merupakan tempat ikonik di Lasem yang rasanya sayang jika tak dikunjungi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pertama Kali Jalan-jalan ke “Negeri Tiongkok Kecil” Lasem, Banyak Situs Sejarah Mangkrak Tak Terawat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan