Beban tugas tak pernah benar-benar membunuh gairah kerja. Keharusan merawat basa-basi sosial lah yang diam-diam menghabisinya.
***
Telepon di studio Bill Watterson terus-menerus berdering, membawa proposal bisnis bernilai jutaan dolar. Para eksekutif sindikasi media di ujung panggilan, bergantian merayunya untuk memproduksi boneka kain, kotak bekal, hingga serial animasi dari komik Calvin and Hobbes.
Kartunis legend ini selalu menutup telepon itu dengan rasa muak.
Di atas meja gambarnya di Ohio, ia memuja setiap gesekan pena. Watterson mengerjakan semuanya sendirian, tanpa bantuan asisten, karena ia mencintai proses kreatifnya dengan nyaris obsesif.
Masalahnya, ia sangat membenci orang-orang yang mendistribusikan karyanya.
Selama sepuluh tahun berkarya, energi Watterson terkuras habis bukan untuk memikirkan ide cerita harian. Ia justru kelelahan secara mental karena harus terus bertarung melawan para pemodal yang hanya peduli pada eksploitasi komersial.
Bagi Watterson, komik stripnya adalah karya seni yang sakral. Namun, bagi para eksekutif berjas itu, Calvin and Hobbes tak lebih dari sekadar mesin pencetak uang. Alhasil, ketidakcocokan ini mencapai batasnya.
Pada hari terakhir bulan Desember 1995, tepat saat komiknya merajai lebih dari dua ribu surat kabar di seluruh dunia, Watterson mengambil keputusan yang mengejutkan publik. Ia meletakkan penanya, membuang semua kontrak bernilai fantastis itu, dan menghilang selamanya dari industri media.
“Saya bekerja terlalu lama untuk mendapatkan pekerjaan ini, dan bekerja terlalu keras setelah mendapatkannya, hanya untuk membiarkan orang lain membawa lari ciptaan saya,” ujarnya, dalam pidato berjudul “Some Thoughts on the Real World by One Who Glimpsed It and Fled” yang ia sampaikan di Kenyon College, 20 Mei 1990.

Watterson berhasil menjaga kemurnian cintanya pada pekerjaan dengan satu cara paling elegan. Ia pergi meninggalkan manusia-manusianya.
Kemuakan yang sama pada senioritas dan obrolan tak mutu
Kisah Watterson mungkin terjadi puluhan tahun lalu di Amerika Serikat, tetapi napasnya masih terasa sangat dekat hari ini. Perasaan serupa sering berembus di meja warung kopi, dan terselip dalam keluh kesah teman-teman yang saya temui belum lama ini.
Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan seorang kawan yang berprofesi sebagai guru. Matanya selalu berbinar tiap kali menceritakan momen saat murid-muridnya akhirnya memahami konsep yang ia ajarkan.
Ia jelas sangat mencintai kegiatan mengajar.
Namun, wajahnya langsung kusut ketika obrolan kami bergeser ke suasana di ruang guru. Ia muak dengan faksi-faksi guru yang sibuk membicarakan hal remeh, drama senioritas, dan gosip saat jam istirahat.
Di meja yang sama, ada teman lain yang bekerja kantoran di sebuah perusahaan swasta di Jogja. Ia sangat menikmati pekerjaannya, dan target bulanannya selalu tercapai dengan baik. Namun, ia adalah penganut teng-go, prinsip pulang tepat waktu. Begitu jam kerja usai, ia langsung mengemasi barang dan melangkah keluar kantor.
Alasannya sederhana. Ia malas bergaul dengan orang-orang kantor selepas jam kerja. Lingkungan pergaulan di kantornya dirasa tidak asyik, dan obrolan saat berkumpul sering kali kelewat batas hingga mendobrak privasi yang tak seharusnya dibuka.
Emotional labor bikin pekerja lelah secara mental
Dua cerita ini adalah gambaran tentang apa yang ditangkap sosiolog Arlie Russell Hochschild pada akhir era tujuh puluhan. Saat mengamati para pramugari penerbangan komersial untuk bukunya The Managed Heart, Hochschild menemukan fakta bahwa maskapai tidak sekadar membayar tenaga fisik para pekerja.
Mereka melatih emosi para pramugari secara ketat agar selalu tersenyum dan memancarkan kehangatan, bahkan kepada penumpang yang paling kasar sekalipun.
“Perasaan para pekerja dikontrol, dipoles, dan dijual sebagai bagian dari komoditas,” tulisnya dalam buku The Managed Heart.
Dari kabin pesawat itulah Hochschild menarik kesimpulan yang kemudian ia rumuskan sebagai emotional labor. Ia menyodorkan fakta bahwa sistem kerja modern tidak hanya menyewa tenaga fisik dan kecerdasan otak kita, tetapi juga diam-diam memeras perasaan kita.
Hari ini, praktik perasan emosi itu menjalar jauh, tak cuma dirasakan para pramugari yang Hochschild amati. Di ruang guru tempat teman saya mengajar, misalnya, kerja emosional mengambil bentuk yang lebih halus. Tuntutan ini mewujud dalam bentuk senyum palsu saat mendengarkan obrolan yang bertele-tele, atau anggukan paksa menanggapi lelucon atasan yang sebenarnya sama sekali tidak lucu.
Beban mengajar murid tak pernah menjadi alasan utama seseorang membenci pekerjaannya. Kelelahan akut yang mereka alami justru menggerogoti kewarasan mental. Orang-orang menjadi muak karena ada tuntutan sosial yang membebani pekerjaan inti tersebut.
Ketika sebuah instansi mulai memaksakan ilusi bahwa tempat kerja adalah sebuah keluarga, batas profesionalitas perlahan runtuh. Pekerja tiba-tiba dituntut untuk memberikan empati pada urusan pribadi rekan di meja sebelahnya.
Pentingnya mematikan pikiran dari segala urusan kantor saat di rumah
Masalahnya, merobek kontrak kerja dan mengasingkan diri dari pergaulan seperti Bill Watterson adalah sebuah kemewahan. Biaya hidup yang makin mahal tidak mempan dibayar menggunakan idealisme.
Mayoritas dari kita harus tetap menampakkan batang hidung di tempat kerja keesokan paginya dan berhadapan lagi dengan orang-orang yang sama. Karena mengundurkan diri bukanlah pilihan yang rasional, kita terpaksa mencari mekanisme untuk bertahan hidup.
Karena mengundurkan diri bukanlah pilihan yang rasional, satu-satunya cara bertahan hidup adalah dengan melindungi gairah pada pekerjaan itu sendiri. Naluri bertahan ini melahirkan apa yang diidentifikasi oleh psikolog Sabine Sonnentag sebagai psychological detachment.
Pada awalnya, Sonnentag menggunakan konsep ini untuk menjelaskan betapa pentingnya seseorang mematikan pikiran dari segala urusan kantor saat ia sudah tiba di rumah. Namun, bagi para pekerja yang telanjur kehabisan napas menghadapi tuntutan emosional di kantor, konsep pelepasan psikologis ini mengalami penyesuaian.
Alih-alih baru dipraktikkan saat berada di rumah, pelepasan psikologis ini justru dilakukan secara sengaja saat mereka masih berada di dalam ruangan kantor. Bentuk paling nyata dari praktik ini, kata Sonnentag, adalah keberanian pekerja untuk membangun semacam pagar api di dalam pikirannya.
Pagar api ini beroperasi dengan presisi. Pekerja secara sadar memutus aliran emosi, menolak basa-basi, dan menarik diri dari keterikatan sosial dengan rekan-rekannya. Di saat bersamaan, mereka tetap membiarkan mesin otaknya bekerja maksimal untuk menuntaskan pekerjaan inti.
Mereka mengubah kehadirannya di tempat kerja hanya sebagai sebuah transaksi profesional. Mereka datang tepat waktu, menuntaskan tugas, lalu pulang. Mereka hadir secara fisik dan intelektual, tetapi sengaja memilih untuk absen secara emosional.
Bukan perkara mudah bagi pekerja di Indonesia
Sayangnya, menerapkan batasan yang tegas seperti ini bukanlah perkara mudah, terutama jika kita melihatnya dalam bingkai budaya kerja di Indonesia. Masyarakat kita hidup dengan nilai komunal yang sangat kuat. Ada budaya sungkan yang sudah mendarah daging dalam setiap interaksi sosial kita.
Di lingkungan kantor, misalnya, menolak ajakan kumpul sepulang kerja sering kali membuahkan masalah baru. Pekerja yang memilih langsung pulang ke rumah untuk beristirahat dengan cepat dilabeli sebagai sosok yang kaku, egois, atau dianggap tidak bisa bekerja sama dalam tim.
Bagi sebagian besar masyarakat kita, mencampuradukkan urusan privat dan profesional sering kali dinormalisasi sebagai bentuk keakraban. Grup percakapan kantor yang terus berbunyi, membicarakan hal di luar pekerjaan pada hari libur, dianggap sebagai bentuk kepedulian.
Sebaliknya, menarik garis batas yang tegas antara urusan kerja dan urusan pribadi justru sering ditafsirkan sebagai sikap memusuhi.
Kondisi budaya semacam inilah yang membuat pekerja di Indonesia jauh lebih rentan mengalami kelelahan mental. Mereka sering kali terjebak dalam rasa bersalah ketika ingin menjadi seorang pekerja profesional yang sebatas bekerja lalu pulang.
Ada ketakutan dikucilkan dari pergaulan hanya karena kita menolak ikut campur dalam obrolan saat jam makan siang. Padahal, menutup pintu pikiran dari sirkus sosial di tempat kerja adalah mekanisme pertahanan diri yang paling masuk akal.
Pada titik inilah kita kembali menemukan relevansi dari sikap keras kepala seorang Bill Watterson. Keputusannya di masa lalu menjadi pengingat yang sangat berharga bahwa kebahagiaan dalam bekerja sering kali menuntut pengorbanan. Terkadang, hal yang harus dikorbankan adalah ekspektasi sosial orang-orang di sekitar kita. Watterson berani mengambil risiko dibenci oleh para pemodal dan eksekutif demi melindungi kejernihan karyanya.
Dalam skala yang lebih kecil dan kehidupan yang lebih biasa, kita mungkin juga membutuhkan sedikit keberanian ala Watterson. Kita butuh keberanian untuk sesekali dicap sebagai orang yang tidak asyik oleh rekan kerja. Kita perlu mengumpulkan keberanian untuk menolak ajakan kumpul yang hanya akan menguras privasi dan energi mental kita.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan