Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Fragmen

Maraknya Fotografer Pelari di Jogja Bukan Perkara Hobi dan Cuan Semata, Pahamilah Batas Etikanya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Februari 2025
A A
Hal-hal yang harus dipahami fotografer pelari di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Hal-hal yang harus dipahami fotografer pelari di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pagi-pagi sekali. Paling siang pukul 06.00 WIB. Coba lah menuju Jalan Malioboro atau kawasan Tugu Jogja. Niscaya mudah mendapati beberapa fotografer yang stand by untuk memotret para pelari (orang-orang yang sedang lari pagi). Jumlah para fotografer itu cukup banyak.

Selain itu, titik-titik lain di Jogja yang jadi spot bagi pelari antara lain Stadion Mandala Krida, Stadion Sultan Agung, lapangan Pemda Sleman, dan Jalan Mangkubumi.

Iklan

Saking banyaknya fotografer pelari itu, di media sosial X belakangan sampai ada candaan: “Alasan lari dengan keadaan kalcer di Jogja.” Ya karena para pelari di Jogja banyak yang sadar kalau mereka jadi subjek foto.

Namun memang, keberadaan fotografer lari—termasuk di Jogja—belakangan mulai diresahkan oleh sejumlah pelari. Pasalnya, ada saja para pelari yang merasa risih atau tidak berkenan difoto, tapi fotografer justru meresponsnya dengan arogan. Misalnya dengan mengatakan, “Kalau nggak mau difoto, ya jangan lewat sini!”, atau “Ini kan ruang publik, bebas saja buat kami untuk mengambil foto.”

Kenapa banyak fotografer memburu pelari di Jogja?

Jumat (14/2/2025) pagi WIB, saya menemui Bimo Pradityo (44), seorang senior street photography di Jogja sekaligus brand ambassador Fuji Film yang concern pada persoalan etika fotografer di jalanan.

Bimo menjelaskan, memotret pelari—yang termsuk bagian dari sport photography—sebenarnya bukan barang baru. Menjadi semakin semarak ketika masa pandemi Covid-19.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh BIMO PRADITYO (@_bimo_)

Dulu di kota-kota besar seperti Jakarta maupun Jogja, yang menjadi tren adalah bersepeda. Seiring waktu, dalam konteks Jogja, tren bersepeda mulai turun dan berganti menjadi lari yang kemudian terus menjadi tren hingga saat ini, beriringan dengan banyaknya orang yang entah sekadar FOMO atau memang menjadikan lari sebagai lifestyle.

“Pada 2022 muncul aplikasi FotoYu. Ini menarik bagi para fotografer—termasuk di Jogja—yang selama pandemi nggak dapat apa-apa,” ungkap Bimo.

Apalagi mekanisme di FotoYu tidak serumit dengan aplikasi serupa seperti Shutterstock. Di FotoYu, fotografer juga bisa menentukan harga sendiri. Sehingga, di awal-awal kemunculannnya itu, cuan yang fotografer dapatkan dari FotoYu terbilang besar. Terutama dalam konteks foto pelari.

Faktor itu lah yang lantas mendorong banyak fotografer seperti laron-laron yang mengerubungi titik cahaya: para pelari.

Iklan

Gesekan yang sudah diprediksi

Sejak aplikasi FotoYu meledak di kalangan fotografer seiring semakin banyaknya pelari di Jogja, Bimo sudah membaca akan adanya potensi gesekan.

“Hal-hal di jalanan yang generate sesuatu, apalagi uang, profit, laba, dan sejenisnya, pasti ada gesekan. Sebab, pertumbuhan pelari dengan pertumbuhan jumlah fotografer, pasti lebih banyak fotografernya karena faktor kebutuhan finansial. Apalagi di Jakarta itu ada standariasi harga (foto). Itu jadi konsensus yang jika dilanggar akan menimbulkan gesekan antarfotografer,” beber Bimo.

“Belum lagi gesekan dengan pelari yang nggak suka difoto,” sambungnya. Ini lah yang kini tengah jadi diskursus: pada batas mana fotografer boleh memotret para pelari?

Para pelari di Jogja yang belum paham

Pada dasarnya, ruang publik seperti Malioboro di Jogja adalah ruang yang bisa diakses oleh siapa pun. Semua orang punya hak dan kewajiban yang sama: menjaga kenyamanan satu sama lain.

Polemik antara pelari dengan fotografer bermula dari keresahan para pelari dengan dua motif. Pertama, ya tidak nyaman saja. Meras privasinya dilanggar.

Kedua, ada ketakutan foto mereka bakal disalahgunkan. Hal ini seperti diungkapkan oleh fotografer Bali, Keyza Widiatmika (30) dalam Threads-nya yang menjadi salah satu pemicu ramainya diskursus fotografer pelari di media sosial.

 

Lihat di Threads

 

Jangan abaikan etika untuk duit yang nggak seberapa

Oleh karena itu, dari sudut pandang fotografer, Bimo menekankan pentingnya bersikap tepa selira. Ada batas-batas etik yang harus dipatuhi (dia sampai menyusun materi untuk edukasi perihal ini). Kalau dalam Persatuan Fotografer Indonesia (PFI) misalnya, fotografer harus patuh terhadap sembilan pasal kode etik.

“Batasannya, kalau foto yang kita ambil akan dikomersilkan, maka harus izin ke subjek (pelari yang difoto) terlebih dulu. Selama nggak dikomersilkan, maka sebenarnya dalam ruang publik, itu nggak ada masalah,” jelas Bimo.

Selain itu, senior street photography asal Jogja itu menekankan agar fotografer juga menaruh rispek terhadap pelari. Jika pelari sudah menunjukkan gestur penolakan untuk difoto, maka fotografer tidak punya hak untuk memotretnya.

Bahkan ketika ada pelari yang terang-terangan menghampiri fotografer meminta foto dirinya dihapus, maka fotografer harus menghapus. Jangan malah resisten apalagi bersikap arogan.

“Kita motret memang nyari angle yang bagus dan seterusnya. Tapi jangan meninggalkan etika, karena kita berada di adat ketimuran,” tekan Bimo.

“Misalnya lagi di Malioboro kan ada kursi, lalu fotografer naik kursi pakai sepatu untuk motret, itu bagi saya nggak pas. Fotografer harus paham bagaimana bersikap di jalanan, ganggu nggak dengan pengguna ruang publik lain? Karena ini ruang milik bersama. Di dalam hak kita ada hak orang lain,” sambungnya.

Etika atau adab adalah yang pertama. Yang kedua adalah soal keselamatan diri fotografer. Jangan terlalu menantang bahaya, lebih-lebih yang mengancam nyawa dalam memotret.

“Saya lebih baik nggak dapat foto daripada melanggar etika dan membahayakan. Saya nggak mau mengorbankan itu untuk mendapatkan duit yang “gak seberapa”,” tegas Bimo.

Memotret event biar nggak risiko

Sementara itu, fotografer senior lain di Jogja, Eko Susanto (56) sejak awal memang mengambil jarak dari menjadikan pelari non event sebagai subjek. Hanya sesekali saja Kang Eko, sapaan akrabnya, ikut memotret para pelari umum di Jogja.

“Karena kalau event, semua pelari tahu bakal difoto dan bisa unduh fotonya di aplikasi FotoYu. Fotografer lain juga bebas memotret. Jadi semua pelari udah siap difoto,” ujarnya saat saya mintai keterangan, Kamis (13/2/2025).

Sedangkan pelari non-event (yang lari-lari biasa saja), sejauh pengamatan Kang Eko terbagi menjadi dua. Satu, ada yang sudah tahu lokasi mana saja yang banyak fotografernya. Mereka tahu konsekuensi bakal difoto, sehingga cenderung sengaja biar difoto.

“Bahkan ada pelari yang sudah kayak jadi langganan untuk difoto karena emang suka difoto dan pelari tersebut emang suka bagi-bagi rezeki lewat membeli foto di FotoYu,” tutur Kang Eko.

Dua, jenis pelari yang tidak suka difoto. Untuk jenis kedua ini, Kang Eko menekankan agar fotografer menjaga etika sebagaimana dijelaskan Bimo di atas.

“Fotografer harus peka membaca gestur pelari apakah bersedia difoto atau nggak. Karena kalau nggak bersedia difoto, walaupun diunggah ke FotoYu juga nggak bakal dibeli,” tutup Kang Eko.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kabur Aja Dulu: Yang Tidak Dikatakan Influencer Itu Kepadamu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 November 2025 oleh

Tags: fotografer jogjafotografer larifotografer pelariJogjapilihan redaksispot jogging jogjaspot lari jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.