Di layar kaca, para pandit sepak bola sering mengulang mantra yang itu-itu saja saat mengulas tim nasional Uzbekistan. Saya pun jadi teringat dengan ulasan salah seorang komentator lokal di Piala Asia 2023 lalu, yang bilang bahwa kunci solidnya pertahanan tim Serigala Putih karena keunggulan fisiknya.
Di satu sisi, argumen itu ada benarnya. Namun, harus diakui, itu adalah simpulan yang malas. Sepakbola tidak melulu soal keunggulan morfologi, gede-gedean otot. Bagi saya, sepak bola selalu memuat hal-ihwal yang melampaui itu semua.
Keyakinan ini menancap kuat semenjak saya merampungkan buku Inverting the Pyramid (2018) mahakarya jurnalis olahraga Jonathan Wilson. Buku ini mendekonstruksi cara saya–dan mungkin jutaan pembaca lainnya–dalam menatap lapangan hijau.
Bagaimana tidak. Wilson, dengan bernas, menganalisis bahwa total football milik Belanda pada dekade tujuh puluhan bukanlah wahyu yang turun tiba-tiba ke kepala Rinus Michels. Tidak turun dari langit. Gaya main yang teramat cair, dan sadar ruang itu, adalah cermin tata ruang hidup masyarakat Belanda yang berabad-abad menundukkan lautan lewat rekayasa polder.
Wilson mau bilang, kalau taktik sebuah tim nasional, adalah kebudayaan bangsa yang diejawantahkan dalam permainan sebelas orang.
Dengan kacamata budaya itulah saya menatap skuad Uzbekistan yang untuk pertama kalinya dalam sejarah bakal bermain di gelaran Piala Dunia. Di balik pertahanan yang rapat dan transisi serangan yang mematikan itu, ada mesin penggerak yang luput dari analisis para pandit.
Yang mungkin tak banyak orang ketahui, di lorong-lorong permukiman Tashkent, Bukhara, dan Samarkand–kota-kota tua yang dahulu menjadi jantung peradaban Jalur Sutra–berdenyut sebuah tatanan sosial-komunal yang menjadi fondasi hidup mereka selama berabad-abad lamanya: Mahalla.
Mahalla, gotong-royong ala orang Uzbekistan
Saya melacak jejak tatanan sosial ini pada catatan Rustamjon Urinboyev, sosiolog Universitas Lund, Swedia, yang menghabiskan banyak waktunya membedah struktur masyarakat Asia Tengah.
Dalam studinya, “The impregnable fortress of Islamic public administration in Central Asia” (2025), Urinboyev mencatat bahwa Mahalla bukanlah sekadar institusi rukun tetangga biasa. Ia adalah tatanan ketat, sebuah adab sosial yang memaksa warganya senantiasa menundukkan ego personal di bawah kepentingan dan keutuhan kelompok.
Di dalam batas-batas Mahalla, ambisi individu diredam. Ada rasa tanggung jawab yang amat berat kepada sesama tetangga, serta kepatuhan hierarkis mutlak kepada figur yang dituakan.

Di atas rumput hijau, kultur itu menjelma menjadi sebuah taktik yang sanggup meredam ego para pemainnya. Misalnya, kalian bisa tengok perjalanan epik mereka menuju Olimpiade Paris pada awal 2024 silam.
Pada turnamen tersebut, Uzbekistan melaju dengan rekor yang membuat dahi berkerut: gawang mereka perawan sejak pertandingan pertama penyisihan grup hingga peluit akhir laga semifinal dibunyikan.
Garis pertahanan mereka tidak dibangun dengan menumpuk bek di kotak penalti. Alih-alih sekadar merapatkan barisan di garis belakang, pertahanan justru diinisiasi sejak dari depan, oleh deretan penyerang yang menolak keras berlagak menjadi diva lapangan.
Abbosbek Fayzullaev adalah lakon utamanya. Sebagai playmaker mungil yang sempat menjadi wonderkid bagi raksasa Rusia, CSKA Moskow, pemuda ini adalah talenta paling benderang milik Asia Tengah hari ini.
Di era sepak bola modern, pemain bernomor punggung sepuluh dengan kreativitas dan visi sepertinya lumrah menggenggam hak istimewa. Mereka acap kali diizinkan berjalan kaki, menata napas, dan menyimpan tenaga kala tim diserang, agar bisa “meledak” saat transisi tiba.
Namun, tontonlah kelakuan Fayzullaev. Kala kehilangan penguasaan bola, ia menolak privilese tersebut. Ia lekas memutar badan, memacu kaki sekencang mungkin, dan berlari mundur menembus garis pertahanannya sendiri semata-mata untuk menekel pemain lawan.
Saat masih bermain di Liga Rusia (kini di Istanbul Basaksehir, Liga Turki), jurnalis dari Match TV, sering menumpahkan keheranan mereka. Mereka tak habis pikir melihat pemain sekecil itu konsisten memuncaki statistik daya jelajah dan rajin turun ke belakang.
Ketika ditanya mengapa ia sudi memikul tugas kotor yang menguras tenaga itu, Fayzullaev menjawab dengan amat dingin: ia yang menghilangkan bola, maka ia pula yang harus memungutnya kembali.
Orang-orang mungkin menganggap jawaban tersebut sekadar sebagai dedikasi taktik pemain profesional saja. Namun, saya melihatnya sebagai Hashar.
Dalam tradisi Mahalla di Uzbekistan, Hashar adalah kerja bakti komunal, sebuah panggilan nurani untuk turun tangan meringankan beban tetangga tanpa pamrih sedikit pun. Mirip seperti gotong-royong di Indonesia.
Namun, lebih dari itu, upaya Fayzullaev mengejar bola sampai ke belakang, pada dasarnya turut dihantui oleh konsep yang amat menakutkan bagi pemuda Uzbekistan. Namanya Uyat, atau rasa malu.
Pendeknya, membiarkan rekan setim menderita adalah sebuah aib sosial. Maka dari itu, Fayzullaev rela berlari mundur puluhan meter bukan lantaran takut akan murka pelatih di pinggir lapangan; ia berlari karena tak sanggup menanggung malu dianggap menjadi “beban”.
Uniknya, kedisiplinan sosial yang melumat ego ini tidak berhenti di garis tepi lapangan. Ia terus merembes menuju ruang ganti, menguasai benak kolektif para pemain. Di setiap lingkungan Mahalla, titah seorang tetua adalah hukum tak tertulis. Masyarakat awam menyebut posisi sakral ini sebagai Oqsoqol, yang bermakna “sang pria berjanggut putih”.
Di Timnas Uzbekistan, dalam beberapa tahun terakhir, sosok pria berjanggut putih ini diperankan oleh sang pelatih asal Slovenia bernama Srečko Katanec (sebelum digantikan Temur Kapadze karena alasan kesehatan, dan kini digantikan legende Italia, Fabio Cannavaro).
Katanec, bukan pelatih kemarin sore. Ia menghabiskan bertahun-tahun karier menangani tim nasional di jazirah Arab, seperti Irak dan Uni Emirat Arab. Ia khatam betul rasanya memendam amarah saat berhadapan dengan ego raksasa pemain bintang Timur Tengah yang acap kali merasa lebih besar dari lambang di dadanya.
Namun, skuad Serigala Putih menyodorkan realitas yang membuat Katanec terperangah. Ia datang membawa pakem taktik yang amat kaku, menuntut disiplin posisi yang tak menyisakan ruang sedikit pun bagi pemain untuk memamerkan trik individu.
Seusai menahan imbang raksasa sekelas Australia di Piala Asia 2023, Katanec tak bisa menyembunyikan keheranannya di hadapan para pemburu berita. Ia pernah memuji betapa mudah tim ini diarahkan.
Skuad asuhannya sama sekali tak merengut kala dipaksa bermain amat pragmatis, menderita menahan gempuran, dan bertahan total. Malam itu, Katanec mungkin kembali ke kamar hotel dengan dada membusung, merasa kedisiplinan ala Eropa yang ia tanamkan telah sukses menaklukkan ruang ganti.
Padahal, tanpa sadar, ia sekadar menikmati privilese kebudayaan Asia Tengah. Di mata para pemain, Katanec sedang didudukkan di kursi Oqsoqol. Menuruti pakem taktik yang melelahkan itu bukan pemenuhan kontrak kerja di atas secarik kertas, tetapi wujud penghormatan hierarkis yang mendarah daging.
Hebatnya, ketundukan pada tatanan komunal ini tak goyah meski diuji oleh nama besar. Eldor Shomurodov adalah monumen hidup sepak bola mereka. Sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa yang malang melintang di kasta tertinggi Liga Italia bersama AS Roma dan Cagliari, status kebintangannya tak terbantahkan.
Jika bersikap culas, Shomurodov bisa saja menuntut seluruh rekan setimnya mendikte permainan demi melayani ruang geraknya di kotak penalti. Namun, yang tersaji di lapangan jauh dari kata angkuh. Sang penyerang rela memeras keringat sekadar menjadi pemantul bola, berlari memancing bek lawan keluar dari sarang agar pemain yang lebih muda mendapatkan ruang terbuka untuk mencetak gol.
Tak ada satu pun pemain yang lebih besar dari Mahalla tempat mereka bernaung.
Ujian yang jauh lebih perih datang menjelang turnamen akbar di Qatar bergulir. Shomurodov dibekap cedera parah yang memaksanya menepi. Ban kapten akhirnya beralih melingkari lengan pemain sayap, Jaloliddin Masharipov. Di hadapan jurnalis AFC yang mencecarnya soal beban menggantikan peran sang mesin gol, Masharipov sama sekali tak berlagak bak pahlawan penyelamat.
Ia meratapi absennya Eldor layaknya sebuah keluarga yang kehilangan saudara tua. Lalu, dengan ketenangan yang dingin, ia berujar: “Jika satu orang terjatuh di atas lapangan, sepuluh orang lainnya akan berlari jauh lebih keras untuk menambal kehilangan itu.”
Bagi saya, itu bukanlah bualan pemanis bagi awak media. Kalimat itu adalah deklarasi, garansi sah bahwa atap Mahalla mereka takkan pernah runtuh hanya karena satu tiang penyangganya patah.
Buah kesabaran
Pola pikir yang meletakkan komunitas di atas ambisi individu ini, pada akhirnya, turut membentuk arah kebijakan Asosiasi Sepak Bola Uzbekistan (UFA) dalam merancang masa depan. Saat negara-negara kaya Asia membuang jutaan dolar demi gengsi instan–entah Tiongkok dengan proyek liga mewahnya di masa lalu, atau negara jazirah Arab yang masif mengekspansi bintang Eropa–UFA memilih jalan yang lebih sunyi.
Alih-alih merekrut pemain jadi, mereka membangun pusat pelatihan regional di berbagai penjuru provinsi. Mereka memanggil anak-anak lokal yang lahir di pekarangan permukiman sendiri, menyatukan bakat-bakat mentah itu, dan membiarkan bibit tersebut menua bersama.
Sistem organik ini menuntut kesabaran tingkat tinggi. Namun, jalan yang lambat ini memberikan satu hal yang takkan pernah sanggup ditebus oleh petrodolar Timur Tengah: chemistry yang murni.
Anak-anak ini tak perlu repot menerka arah lari atau tujuan umpan rekan setim, karena mereka telah saling bertukar umpan sejak usia belasan. Hasil ketekunan komunal ini terbukti jauh lebih kokoh dari segala rekayasa instan.
Sebelum skuad senior memastikan tiket melangkah ke panggung dunia, generasi muda mereka sudah lebih dulu merajai benua dengan mengangkat berbagai trofi kelompok usia. Mulai dari Piala Asia U-17 (2012 dan 2025), Piala Asia U-20 (2023), dan Piala Asia U-23 (2018).
UFA membangun prestasi persis seperti cara leluhur mereka membangun Mahalla: komunal, sabar, dan mengakar kuat dari lapisan masyarakat paling bawah.
Di putaran final Piala Dunia pertengahan 2026 nanti, Uzbekistan bakal satu grup dengan calon juara Portugal, Kolombia yang sedang matang-matangnya, dan Kongo, debutan yang siap bikin kejutan. Namun, apapun hasilnya nanti, kita bakal menyaksikan bagaimana Mahalla dipertontonkan di tanah Amerika.
Kita bakal menyaksikan bagaimana harmoni sosial, rasa tanggung jawab komunal, kerelaan untuk bergotong royong membantu kawan, dan kepatuhan mutlak pada sosok pemimpin direproduksi menjadi taktik pertahanan dan serangan balik mematikan. Melalui sepak bola, Uzbekistan membuktikan bahwa menjaga nilai-nilai kebersamaan dan merawat budaya lokal dari tingkat yang paling dasar adalah strategi terbaik untuk bisa berdiri tegak dan bersaing di panggung tertinggi kompetisi bola kaki.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan