ADVERTISEMENT

Teaching Factory: Tempat Guru dan Siswa SMK di Kudus Upgrade Diri, Kompetensi dan Peluang Kerja Bersaing Versus Sarjana

Teaching Factory (Tefa) SMK di Kudus meningkatkan kompetensi guru dan siswa untuk merespons perkembangan dunia kerja saingi sarjana MOJOK.CO

SMK-SMK di Kudus ini mulanya tidak lebih dari sekadar SMK pada umumnya. Namun, setelah memiliki Teaching Factory (Tefa), SMK-SMK ini mampu mencetak guru dan siswa dengan kompetensi selaras sebagaimana kebutuhan dunia kerja. Para alumninya bisa langsung terserap kerja. Bersaing dengan mereka-mereka yang membawa gelar “sarjana”. Bahkan, tidak sedikit yang bisa berkarier di luar negeri.

***

ADVERTISEMENT

Sejumlah siswi dengan busana khas terapis menyambut rombongan Mojok dengan ramah di balik pintu Tangria Beauty & Spa di Jalan Jenderal Sudirman, Jati, Kudus pada Sabtu (13/9/2025). Bangunan itu berada di bagian depan SMK PGRI 1 Kudus. Itulah Teaching Factory milik sekolah tersebut yang telah beroperasi sejak 2019.

Sebagai informasi, Teaching Factory (Tefa) merupakan model pembelajaran dengan menghadirkan suasana dunia kerja secara riil dalam sekolah. Fasilitas hingga SOP yang berlaku juga disesuaikan dengan standar dunia kerja.

Kurikulum pembelajarannya kemudian diintegrasikan antara mata pelajaran umum dengan program keahlian, sehingga bisa berjalan beriringan. Tujuannya, tidak lain agar para siswa terbiasa dengan suasana dan sistem kerja di dunia kerja sesungguhnya. Dengan begitu, setelah lulus SMK, mereka menjadi alumni yang tak gagap di dunia kerja. 

Di SMK PGRI 1 Kudus sendiri ada dua jurusan yang memiliki Tefa: Jurusan Perhotelan, lalu Kecantikan dan Spa. Siang itu, dibersamai Fitri Nurvitasari (Wakil Kepala Sekolah SMK PGRI 1 Kudus yang dulu sempat menjabat sebagai Ketua Program Keahlian Kecantikan dan Spa), Mojok mencoba mengulik lebih dalam perihal Tefa bernama Tangria Beauty & Spa tersebut.

Tangria, Teaching Factory di SMK PGRI 1 Kudus MOJOK.CO
Tangria, Teaching Factory di SMK PGRI 1 Kudus. (Mojok.co)

Teaching Factory, titik terang kelesuan lulusan SMK

Bangunan Tefa di SMK PGRI 1 Kudus terbilang megah. Bagian depan difungsikan untuk benar-benar melayani customer. Sementara bagian belakang difungsikan untuk praktik dan pembelajaran.

Di gedung bagian depan, ruang demi ruang perawatan kecantikan tersaji. Seperti bukan di sekolah. Peralatan dan produk-produk kecantikan pun disediakan sedemikian lengkap.

Fitri bercerita, program keahlian Kecantikan dan Spa sebenarnya baru dibuka pada 2015. Saat itu, ia mengakui kalau sarana dan prasarananya masih jauh dari memadai. Guru-guru pun mengajar ‘sekenanya’ saja.

“Sampai saya berpikir, sebagai guru apakah yang saya ajarkan ini sudah sesuai kebutuhan dunia kerja atau tidak?,” ucap Fitri.

ADVERTISEMENT

Pada 2016, penjajakan mengenai Teaching Factory merambah ke SMK PGRI 1 Kudus. Fitri dan sejumlah guru kemudian mengikuti pelatihan selama enam bulan. Empat bulan fokus ke skill, dua bulan untuk micro teaching. Teaching Factory di SMK PGRI 1 Kudus kemudian beroperasi pada 2019.

Para siswa di Jurusan Kecantikan dan Spa SMK PGRI 1 Kudus MOJOK.CO
Para siswa di Jurusan Kecantikan dan Spa SMK PGRI 1 Kudus. (Mojok.co)

“Dari angkatan pertama 2015, kami masih menemui ada lulusan kami yang justru kurang pede dan belum benar-benar menguasai skill untuk dunia kerja. Dengan Tefa, lalu sistem pembelajaran makin terarah. Lulusan kami makin siap (kerja) jika lulus nanti,” kata Fitri.

“Selain skill terkait layanan kecantikan dan spa-nya, kami juga lengkapi dengan skill komunikasi. Karena nanti hubungannya sama tamu. Mulai dari handle komplain, nego, komunikasi dengan pimpinan, lalu satu lagi kepercayaan diri,” bebernya.

Dulu Fitri kerap menemukan, banyak lulusan angkatan pertama tidak begitu percaya diri ketika terjun di dunia kerja, maka dengan dukungan Tefa, Fitri melatih para siswi untuk mengasah kepercayaan diri. Metodenya: ngomong sendiri, melatih mimik muka, hingga gestur tubuh. Itu masuk dalam pembelajaran personal grooming. Tefa menyediakan ruangan khusus untuk itu. Di dalam ruangan penuh cermin tersebut, para siswi akan bercermin melihat dirinya sendiri, melatih keterampilan-keterampilan di atas. 

Dari stigma lalu berkarier ke mancanegara, tak kalah dari sarjana

Teaching Factory itu pada awalnya menambah berat posisi jurusan Kecantikan dan Spa. Bagaimana tidak, saat itu masih banyak orang tua dan masyarakat yang menyematkan stigma negatif pada profesi sebagai seorang terapis. Bersamaan dengan itu, banyak orang tua tak mengizinkan anak bekerja di luar kota.

“Kami berupaya meyakinkan. Kami panggil industri dan orang tua untuk saling ngobrol. Kedua, panggil alumni yang sukses sama orang tuanya untuk memberi testimoni. Awalnya memang berat melepas anak, tapi anak bisa sukses dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga,” ungkap Fitri.

Seiring waktu, banyak orang tua yang justru mendukung penuh anak-anak perempuannya sekolah di Kecantikan dan Spa SMK PGRI 1 Kudus. Tak keberatan pula jika kelak sang anak bekerja di luar kota atau bahkan luar negeri.

Karena selain terserap di industri kecantikan dalam negeri, ternyata lulusan SMK di Kudus itu juga ada yang dikontrak brand kecantikan Martha Tilaar yang membuka cabang di Sri Lanka. Saat Mojok ke Kudus itu, belum lama sebelumnya Fitri baru saja pulang dari Sri Lanka untuk memantau kondisi para alumni yang dikontrak kerja di sana.

“Sekarang orang tua ada yang bilang terima kasih karena anaknya bisa kerja dengan gaji besar, ngalah-ngalahin sarjana. Bahkan ada loh orang tua yang minta bantuan, misalnya kontrak anaknya habis tapi si anak ingin diperpanjang, ya sudah kami bantu hubungkan ke industri agar diperpanjang,” tutur Fitri.

“Anak-anak juga selalu mengingat kami. Ada alumni kami sebagai educator headressing sampai Singapura dan Malaysia. Mereka dengan bangganya selalu ingat ke kami. Jadi komunikasi dengan alumni baik. Peran sekolah itu nggak cuma sampai mereka lulus, tapi sampai mereka kerja kita pun masih ikut mantau. Kalau mereka kerja nggak sesuai dengan harapan, kami bantu,” tambahnya.

Tapi memang, Fitri selalu menekankan bahwa tidak ada awal yang mudah. Ia meminta anak didiknya menikmati proses. Setelah proses awal terlewati, maka sisanya tinggal memanen ekspektasi.

Teaching Factory bikin SMK di Kudus hasilkan omzet 10 miliar setahun

Sehari setelahnya, Minggu (14/9/2025) Mojok bertamu ke SMK NU Ma’arif Kudus, Desa Prambatan Lor, Pereng. Sebuah gedung megah dan luas berdiri gagah di tengah perkampungan, dengan logo khas Nahdlatul Ulama di bagian depan.

Teaching Factory di SMK NU ini malah membawahi nyaris seluruh jurusan keahlian. Sebab, produk-produk yang dihasilkan saling berkaitan satu sama lain. Sebut saja Teknik Pengelasan, Teknik Pemesinan, Teknik Kendaraan Ringan, dan Teknik Sepeda Motor.

“Jadi Tefa di sini guru dan siswa kolaborasi menghasilkan produk. Kami tidak ada produk spesifik. Apapun permintaan pasar kami penuhi, yang berkaitan dengan logam dan permesinan. Ada juga spare part motor dan lain-lain,” ujar Benny Yulianto, PIC Teaching Factory SMK NU Ma’arif Kudus yang menemani kami.

Benny mengajak kami ke ruang produksi di bagian belakang sekolah. Suasana riuh mesin pengelasan mendesing. Mobil pickup lalu-lalang mengangkut barang hasil produksi. “Misalnya, ini ada pesanan kursi besi, kami bikinkan,” ungkap Benny menunjukkan deretan kursi besi yang baru saja selesai produksi.

Sepanjang tahun 2026 ini, produksi dari fabrikasi logam Tefa SMK NU Ma’arif Kudus membukukan omzet sebesar Rp10 miliar. 

Teaching Factory di SMK NU Ma'arif MOJOK.CO
Teaching Factory di SMK NU Ma’arif. (Mojok.co)

80% alumni terserap kerja hingga ke Jepang

Berdiri 1991, SMK NU Ma’arif awalnya hanya memiliki dua jurusan: Teknik Pemesinan dan Kelistrikan. Lalu terus berkembang. Awalnya, fasilitas yang tersedia bisa dibilang sekadarnya. Hingga akhirnya SMK NU ini menerapkan Teaching Factory sejal 2014.

“Saya bersama tim waktu itu dikirim untuk magang ke sebuah perusahaan untuk belajar PBET (Production Based Education and Training). Lalu kami diminta meng-copy untuk dibawa ke sekolah, terkait peralatan sampai soft skill guru dan siswa,” kata Benny.

“Sebelum pakai Tefa, perbedaan yang sangat mendasar adalah habit industri. Kini kami tahu kebutuhan industri dan kompetensi yang harus dikembangkan. Kalau dulu hanya simulasi, kini sekolah benar-benar menghadirkan riil situasi dunia kerja. Peralatan juga bertambah, karena berbasis kebutuhan pasar,” sambungnya.

Kata Benny, 80% alumni SMK NU Ma’arif terserap di bursa kerja nasional: Tidak hanya di Jawa, tapi juga pulau-pulau lain. Sebagian kecil bahkan dikirim magang sampai ke Jepang. 

Teaching Factory di SMK NU Ma'arif MOJOK.CO
Teaching Factory di SMK NU Ma’arif. (Mojok.co)

Studio animasi yang “bukan main!”

“Bukan main…,” gumam Dena Pasha, yang saat itu masih menjadi Kepala Departemen Media Sosial Mojok, saat kami beranjak dari SMK NU Ma’arif ke Tefa Animasi SMK Raden Umar Said (RUS) pada Senin, (15/9/2025). Maklum, ia alumni DKV ITB. Kakaknya animator. Katanya, dulu fasilitas kampusnya tak sekeren yang ditawarkan di Tefa SMK RUS.

Perangkat-perangkat komputer berderet melingkar di dalam Tefa Animasi. Sejumlah siswa tengah sibuk mengotak-atik karakter-karakter animasi di dalamnya. Dari ruangan itulah beragam produk animasi, baik intellectual property (IP) milik SMK RUS sendiri maupun kolaborasi dengan brand animasi lain, diproduksi oleh siswa-siswi sendiri.

Teaching Factory Jurusan Animasi di SMK RUS Kudus MOJOK.CO
Teaching Factory Jurusan Animasi di SMK RUS Kudus. (Mojok.co)

“Teaching Factory pertama kali berdiri pada tahun 2016. Segala kebutuhan terkait produksi animasi ada di sini,” ujar Rico Andriansyah, Ketua Program Keahlian Animasi 3D yang menemani kami Senin pagi itu.

Dari studio kreatif Tefa Animasi itu, SMK RUS menelurkan IP seperti Nila (sepak bola wanita dari Sumba dengan style 2D). Ada pula Wakakibo Kids yang saat ini sudah memasuki season 2.

“Kami juga mendapatkan proyek dari luar negeri. Misalnya dari Irlandia. Pernah dapat proyek Boboiboy dari Malaysia, Pororo dari Korea. Dari Indonesia sendiri juga beberapa kali dapat. Nggak cuma film animasi, tapi juga iklan,” sambung Rico.

Rico pun menjelaskan, dari seluruh fasilitas dan sistem upgrade skill di Tefa tersebut, 80% lulusan SMK RUS terserap di industri animasi atau industri kreatif lain. Tidak hanya di level domestik, internasional pun ada.

Rico Andriansyah, Ketua Program Keahlian Animasi 3D SMK RUS MOJOK.CO
Rico Andriansyah, Ketua Program Keahlian Animasi 3D SMK RUS. (Mojok.co)

Guru dan siswa: Skill kompeten, finansial nambah

Dengan memberi layanan sebagaimana layaknya industri sungguhan, Fitri, Benny, dan Rico mengakui bahwa keberadaan Tefa pada akhirnya memberi tambahan finansial bagi mereka dan para guru lain yang terlibat. Sebab, profit yang didapat selain digunakan untuk produksi dan operasional Tefa, juga dialokasikan untuk kesejahteraan para guru pengampu. Para guru yang terlibat di Tefa perbulan bisa mendapat tambahan finansial minimal 4x UMK Kudus yang berada di angka Rp2,8 jutaan. 

Kepada siswa yang terlibat di Tefa pun demikian. Di masing-masing SMK di Kudus tersebut, para siswa yang terlibat di Tefa umumnya akan mendapat subsidi untuk biaya SPP—sepanjang masa bergiatnya di Tefa. Lebih dari itu, Tefa membuat para guru akhirnya upsklling alias upgrade kompetensi masing-masing untuk mengikuti perkembangan teknologi dan industri.

“Ya mengajar ya belajar,” kalau kata Rico dan Benny.

“Tefa bikin guru juga tambah pinter dan skill-full,” begitu kalau kata Fitri.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Menjadi Guru SMK Swasta di Kudus: Awalnya Diremehkan tapi Ternyata Bisa Sejahtera, Gaji Tak Kalah dari PNS atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 


Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.