Menjadi guru SMK swasta, apalagi di “kabupaten pinggiran” seperti Kudus, Jawa Tengah, awalnya memang tidak mudah. Pasalnya, status “guru swasta” atau “pekerja swasta” sudah terlanjur dipandang sebelah mata oleh sebagian banyak masyarakat. Terutama dari sisi finansial, lantaran gajinya kecil. Kerap dibanding-bandingkan dengan PNS/ASN pula.
Begitulah yang awalnya dialami oleh Benny Yulianto dan Fitri Nurvitasari. Keduanya justru membuktikan bahwa menjadi guru SMK swasta, asal didukung dengan program yang terukur dan pengembangan kompetensi, pada akhirnya juga bisa hidup sejahtera. Tak kalah dari guru berstatus PNS.
Tinggalkan gaji besar industri, mengabdi jadi guru SMK swasta di Kudus
Sudah 16 tahun Benny (sapaan akrab Benny Yulianto) mengajar di SMK NU Ma’arif Kudus. Ia memang asli Kudus, Jawa Tengah. Namun, sebagian besar masa mudanya dihabiskan di luar Kota Kretek.
Benny menempuh pendidikan S1 Teknik Mesin di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Setelahnya, ia melanjutkan jenjang S2 dengan jurusan yang sama di Universitas Diponegoro (UNDIP).
“Setelah lulus, sempat kerja di sebuah perusahaan di Bekasi, Jawa Barat. Kerja di bidang teknik,” ungkap Benny saat berbincang dengan Mojok, Minggu (14/9/2025) siang di SMK NU Ma’arif Kudus.
Gaji yang Benny terima dari perusahaan tersebut tentu saja besar. Akan tetapi, belum satu tahun bekerja, ia memutuskan pulang ke kampung halaman. Pada 2009, ia memutuskan mengabdi di SMK NU Ma’arif.

Gaji jatuh 5 kali lipat, ongkos ngajar sampai dibantu orang tua
Keputusan Benny bukannya tanpa risiko. Pasalnya, bisyarah atau imbalan jasa yang ia terima sebagai guru di SMK NU Ma’arif Kudus—pada masa-masa itu—lima kali lipat lebih kecil dari gajinya di perusahaan.
Tentu jauh dari cukup. Benny ingat betul, di masa-masa awalnya menjadi guru SMK swasta itu, ia bahkan masih meminta ongkos perjalanan dari orang tuanya.
“Tapi waktu itu saya pulang kan karena permintaan orang tua. Mereka mendukung saya jadi guru, maka saya niati ibadah. Saya niati menularkan ilmu yang pernah saya pelajari di industri,” tutur laki-laki 42 tahun tersebut.

Kuliah sambil jadi MUA, setelah lulus ekonomi tak langsung melejit
Sehari sebelumnya, Sabtu (13/9/2025), Mojok menemui Fitri, panggilan Fitri Nurvitasari, di SMK PGRI 1 Kudus. Tak jauh berbeda dengan Benny, awal tak mudah sebagai guru SMK swasta juga harus Fitri lalui. Lebih-lebih jalan hidupnya malah serba rintisan.
Fitri asli Pati, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 45 menit dari Kudus. Sudah 10 tahun perempuan menjelang 40-an tahun itu mengajar di SMK PGRI 1 Kudus. Sehari-hari pergi-pulang (PP). Kadang dengan motor, sesekali mengendarai mobil.
Dari aktivitas di sekolah, tak jarang ia baru bisa pulang di jam 8-10 malam. Terlihat ngoyo memang. Tapi hidup sejahtera harus ditebus dengan berlelah-lelah dahulu.
Jalan serba rintisan Fitri tempuh sejak kuliah. Ia merupakan angkatan pertama di S1 program studi Pendidikan Tata Kecantikan di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

“Dulu tertarik masuk Pendidikan Tata Kecantikan, walaupun baru buka, karena mengukur peluang kerjanya. Selain memang punya minat di bidang itu. Setelah lulus bisa fleksibel mau jadi pengajar atau wirausaha,” kata Fitri.
Selama kuliah, Fitri nyambi freelance MUA. Setelah lulus pada 2014, ia sempat berada dalam kebimbangan: Mau menjadi guru atau wirausaha? Saat itu ia memilih menjadi guru honorer di sebuah sekolah umum di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
“Setelah dipikir, kalau menjadi guru disambi wirausaha (misalnya MUA atau salon), itu pasti tidak kuat di satu sisi. Akhirnya mantap menjadi guru saja. Karena lebih suka mengajar,” ucap Fitri.
Jadi bisa dibilang, jalan ekonomi Fitri tak langsung melejit setelah lulus S1. Perjalanan panjang harus ia lalui. Sebab, tak lama mengajar di sekolah umum di Pati itu, Fitri kembali mencemplungkan diri ke jalan rintisan: Pada 2015 mendaftar sebagai guru di Jurusan Kecantikan dan Spa yang saat itu baru saja dibuka di SMK PGRI 1 Kudus.
Gaji Fitri baik sebagai guru sekolah umum di Pati maupun di SMK PGRI 1 Kudus, pada masa-masa itu, tentu masih kecil alias tipis belaka.

Guru SMK swasta ternyata bisa sejahtera
Seturut pengakuan Benny dan Fitri, awalnya mereka kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat di lingkungan masing-masing. Wajar saja, gaji kecil bisa buat apa? Dibanding-bandingkan dengan PNS jelas menjadi makanan sehari-hari.
Nasib Benny perlahan berangsur berubah sejak 2014. Saat itu SMK NU Ma’arif Kudus mulai menerapkan sistem pembelajaran Teaching Factory (Tefa). Yakni model pembelajaran di SMK dan perguruan tinggi vokasi yang menciptakan suasana produksi atau jasa layaknya di industri nyata. Selain itu juga menggunakan standar dan prosedur industri yang berlaku.
Perihal Tefa, Mojok menyajikannya secara detail dalam tulisan terpisah. Intinya, Tefa memungkinkan SMK seperti SMK NU Ma’arif untuk:
- Meningkatkan kompetensi siswa dan guru agar selaras dengan kebutuhan industri
- Memproduksi produk tertentu yang bisa langsung dipasarkan ke customer
Dalam konteks SMK NU Ma’arif Kudus, Tefa memungkinkan sekolah memproduksi suku cadang berkaitan dengan logam dan permesinan. Dari situ, guru mendapat tambahan finansial di luar gaji dari mengajar. Apalagi setelah Tefa beroperasi Benny didapuk menjadi Person in Charge (PIC) Tefa SMK NU Ma’arif Kudus.

“Secara finansial guru juga terbantu. Sebelum ada Tefa, finansial guru masih kurang. Sekarang ada tambahan dari apa yang kami produksi,” ujar Benny dengan senyum lebar.
Benny sudah kenyang ketika dibanding-bandingkan dengan guru-guru lain yang PNS oleh keluarga besarnya. Bahkan tak jarang ia menerima tawaran untuk kembali ke industri, bekerja sebagai profesional perusahaan.
Dulu hal semacam itu bisa mengganggu. Namun, dengan perubahan finansial yang Benny alami lantaran keberadaan Tefa, Benny akhirnya biasa saja. Toh kenyataannya ia bisa hidup sejahtera dari “hanya” sebagai guru SMK swasta.
Bukan PNS tapi bikin kagum tetangga dan keluarga
Di SMK PGRI 1 Kudus, Tefa mulai ada pada 2018. Fitri mengakui, di awal-awal Tefa beroperasi itu ia merasa energi dan waktunya terkuras habis sepanjang hari. Bagaimana tidak, demi membangun kompetensi sebagaimana yang diinginkan, ia harus rela pulang jam 8-10 malam.
Bahkan di sela-selanya, ketika masa pandemi Covid-19, ia mengambil kuliah S2 program studi Pendidikan Kejuruan di UNNES. Demi lebih mendalami lagi metode pembelajaran untuk sekolah kejuruan.
“Masa-masa awal Tefa di Jurusan Kecantikan dan Spa memang penuh perjuangan. Bahkan waktu hamil itu saya masih kerja keras. Sehari sebelum lahiran saya masih di sekolah,” papar Fitri.
Seiring waktu, ketika Tefa berjalan maksimal, ternyata berpengaruh signifikan. Baik dari aspek kompetensi Fitri sebagai guru maupun aspek finansialnya. Terlebih ia juga didapuk mengisi posisi Ketua Program Keahlian untuk Kecantikan dan Spa, sebelum akhirnya kini menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SMK PGRI 1 Kudus.
Tefa di Kecantikan dan Spa SMK PGRI 1 Kudus mencuri perhatian masyarakat. Banyak customer datang untuk menjajal layanan jasa berkait kecantikan dan spa yang ditawarkan.
“Awalnya saat jadi guru memang memprihatinkan (gajinya). Saya juga awalnya sering ditanya keluarga atau tetangga, ‘Kok nggak PNS?’ Tapi nyatanya finansial saya saja bisa di atas PNS dan stabil. Sekarang cara pandang orang di desa malah kebalik, ‘Kamu guru swasta saja gajinya sudah gede ketimbang yang PNS’,” beber Fitri.
Sebagai informasi, gaji guru yang terlibat dalam program Tefa (baik Fitri maupun Benny) bisa mencapai 4x UMK Kudus yang berada di angka Rp2,8 jutaan.
“Sebenarnya dulu saya nggak melihat sisi rendahnya (gaji), tapi saya mencoba adaptif dengan perkembangan. Terus menantang diri untuk berkembang dan inovatif. Syukur bisa seperti sekarang,” tutupnya. Senyum bangga merebak di wajahnya.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: SMK di Kudus “Tak Biasa”, Jadi Tujuan Sekolah Pelajar dari NTB hingga Papua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan