ADVERTISEMENT

Lebih Mantap Sekolah di SMK ketimbang SMA, Meski Dipandang Sebelah Mata tapi Karier Lulusannya Lebih Terbuka

Lebih Mantap Sekolah di SMK swasta Kudus ketimbang SMA. MOJOK.CO

Banyak orang masih memandang sebelah mata siswa SMK lulusan swasta. Stigma buruk terlanjur melekat, dari citra siswa yang bandel, lulusan yang dianggap kurang kompeten, hingga sulitnya cari pekerjaan. Namun, SMK di Kudus meruntuhkannya. 

***

ADVERTISEMENT

Mengenakan wearpack welder yang menutup tubuhnya, Nur Mahmudi Ismail (16) mondar-mandir dari bilik ruang pengelasan menuju meja guru, untuk konsultasi hasil teknik pengelasan di selembar plat logam miliknya. Keringat yang menetes dari ujung rambut ke pelipis menunjukkan, bagaimana ia bekerja keras untuk menghasilkan praktik terbaik dari materi yang diberikan gurunya. 

Saat saya temui hari itu, Mahmudi masih kelas 11 di SMK NU Ma’arif Jurusan Teknik Pengelasan (kini ia sudah kelas 12). Siang itu, Sabtu (13/9/2025) setidaknya sudah empat kali sang guru meminta Mahmudi mengulang pengelasan. Ia tentu hanya bisa mengangguk, sembari mengingat catatan, evaluasi, dan instruksi dari gurunya. 

Baru pada percobaan kelima, Mahmudi berhasil menuntaskan pengelasan sebagaimana yang diarahkan oleh gurunya. Akhirnya, ia bisa bernapas lega.

Meski sempat merasa lega karena akhirnya berhasil, Mahmudi sebenarnya tidak pernah menganggap instruksi mengulang dari gurunya sebagai beban.

Mengelas. MOJOK.CO
Nur Mahmudi Ismail (16) mondar-mandir dari bilik ruang pengelasan menuju meja guru. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

 Ia paham, ilmu itu akan jadi bekalnya nanti saat memasuki dunia kerja. Ia ingin menunjukkan, bahwa siswa di sekolahnya memang sudah siap kerja.

“Sudah diketahui umum, lulusan SMK NU Ma’arif memiliki alumni yang bisa bekerja di mana-mana, di industri-industri besar,” kata Mahmudi saat berbincang dengan Mojok di sela waktu istirahatnya. 

Keunggulan bersekolah di SMK NU Ma’arif Kudus

Ketertarikan Mahmudi belajar di SMK NU Ma’arif bermula dari saran bapaknya yang merupakan pekerja pengelasan di sebuah perusahaan kontraktor umum. Mahmudi yang sejujurnya masih bingung dengan masa depannya saat itu, akhirnya memilih meniru jejak sang ayah. 

“Ayah yang saranin aku belajar di SMK NU Ma’arif karena peluang kerjanya terbuka, selain itu katanya fasilitasnya lengkap, alat-alat yang digunakan itu seperti di industri. Dengar-dengar juga kalau di sekolah lain peralatannya harus beli sendiri sementara di sini sudah disediakan oleh sekolah,” jelas Mahmudi. 

ADVERTISEMENT

Siswa asal Pemalang, Jawa Tengah, itu awalnya mengaku kesulitan saat pertama masuk ke SMK NU Ma’arif Kudus. Pasalnya, ia sebenarnya takut dengan percikan api. Belum lagi, peralatan di Teknik Pengelasan rata-rata berat. Namun, ia bisa  beradaptasi dan membiasakan diri. 

Kini, Mahmudi merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari SMK swasta tersebut. Ia berharap kelak bisa bekerja seperti ayahnya, atau bahkan berkarier di luar negeri seperti senior-seniornya yang sudah lulus.

“Salah satu mimpiku adalah kerja di Jepang, karena negaranya punya industri yang bagus. Mereka juga bisa menghasilkan alat-alat berat sampai otomotif,” ucap Mahmudi.

Siap bertarung di dunia kerja demi meringankan beban orang tua

Siswa SMK Wiskar. MOJOK.CO
Agista Husna siswa SMK Wiskar Kudus. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Jika Mahmudi ingin kerja di luar negeri, Agista Husna (17) yang asal Kudus mengaku merasa sekolah SMK bisa mempermudah jalannya meringankan beban orang tua, karena bisa langsung kerja setelah lulus. Apalagi SMK swasta tempatnya sekolah–SMK Wisudha Karya (Wiskar) Kudus–memberi jaminan tersebut: Lulus langsung terserap di dunia kerja. 

“Kalau SMA aku harus kuliah lagi, keluar uang lagi. Jadi aku pilih SMK terbaik biar punya cukup ilmu untuk bekerja, sehingga aku bisa bantu ekonomi keluarga,” ucap Agista saat bersua dengan Mojok di SMK Wiskar, Jumat (12/9/2025).

Ayah Agista dulu bekerja di sebuah pabrik. Usai habis kontrak, ayah dibantu ibunya, menjual risol ke pasar-pasar. Saat SMP, Agista membantu orang tuanya dengan membawa risol tersebut dan menitipkannya ke kantin sekolah.

“Dengan keadaan rumah yang seperti itu, aku malah makin semangat lanjut sekolah di SMK. Kalau aku bisa sekolah dengan pintar, terus nanti kerjaku bagus, aku bisa sukses dan mengangkat derajat orang tua,” tutur Agista.

Masa depan itu sudah dibuktikan oleh kedua kakaknya yang juga belajar di SMK Wiskar, Kudus. Kakak pertama Agista adalah alumni SMK Wiskar Jurusan Nautika. Kini, ia bekerja di sebuah kapal kargo yang berlayar di laut Kalimantan. Sementara kakak keduanya sedang menjalani praktik laut (prala) di Jurusan Teknika. 

“Orang tua sangat mendukungku di SMK Wiskar, karena melihat kedua kakakku punya masa depan yang cerah. Istilahnya mereka terjamin setelah lulus SMK,” kata Agista.

Lingkungan yang membantu untuk berkembang

Fasilitas sekolah yang unggul. MOJOK.CO
Fasilitas sekolah yang unggul di SMK Wiskar. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain karena rekam jejak kedua kakaknya, fasilitas sekolah yang unggul juga membuat Agista makin mantap memilih SMK Wiskar. Sekolah yang berdiri tahun 1971 itu pun terkenal punya kemitraan yang kuat dengan dunia industri.

Sekolah ini juga memiliki sarana pembelajaran yang mumpuni, termasuk peralatan simulasi canggih di bidang maritim dan manufaktur.

Oleh karena itu, Agista kukuh mengikuti jejak kakaknya. Walaupun di tengah perjalanan ia baru mengetahui kalau jurusan yang ia pilih mayoritas siswanya adalah laki-laki. Pada akhirnya, ia menjadi perempuan satu-satunya yang masuk jurusan Teknika Kapal Niaga di angkatannya. Meski begitu, Agista tidak minder.

“Untungnya, teman-temanku pada baik semua. Mereka selalu bantu aku kalau aku kebingungan waktu belajar di kelas,” jelas Agista.

Selain lingkungan sosial yang mendukung, Agista juga merasa sayang jika harus melepas kesempatannya belajar di SMK Wiskar, karena fasilitasnya yang sangat lengkap. Bahkan, walaupun Kabupaten Kudus tak memiliki wilayah lautan, siswa SMK swasta tersebut tetap bisa praktik di ruangan yang mumpuni lewat berbagai peralatan teknologi terbaru layaknya yang digunakan di dunia kerja terkait.

Agista telah lulus dari SMK Wiskar. Kini ia pun menjajaki jalan mimpinya menjadi Taruni Kadet Teknika Kapal Niaga. 

SMK Wiskar Kudus siap menjamin lulusan ahli 

Kepala Sekolah SMK Wiskar. MOJOK.CO
Kepala Sekolah SMK Wiskar, Fakhruddin. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kepala Sekolah SMK Wiskar, Fakhruddin, menjelaskan bahwa proses pembelajaran di sekolahnya dirancang sesuai dengan kondisi lingkungan kerja mereka nanti. Misalnya, mereka sudah menyiapkan ruang bahari yang sama persis dengan lingkungan pekerjaan di kapal nanti.

Mulai dari ruang navigasi, ruang mesin, ruang nakhoda, kemudi kapal, menjangka peta, hingga fasilitas canggih seperti Full Mission Bridge Simulator. Alat tersebut masuk pengklasifikasian golongan A–salah satu dari dua simulator terbaik di Indonesia. Artinya, simulator tersebut sudah bisa pakai untuk diklat dan menghasilkan lulusan bersertifikat.

“Sertifikatnya langsung dari Kementerian Perhubungan di Jakarta dan ditandatangani langsung oleh Direktur Perkapalan. Lalu, bisa dipakai untuk persyaratan menjadi pelayar, baik dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Fakhruddin.

Dengan fasilitas yang bagus, Fakhruddin berharap lulusannya nanti siap di dunia kerja. Sejauh ini, SMK Wiskar menjadi salah satu sekolah yang diperhitungkan di dunia kerja. 

“Misalnya, khusus untuk pelayaran kami boleh mengatakan 95 persen alumninya itu tersalurkan ke industri pelayaran dalam negeri maupun luar negeri,” jelas Fakhruddin.

Fakhruddin mencatat ada banyak alumni mereka yang sudah bekerja di Banjarmasin, Surabaya, Jakarta hingga luar negeri. Ada yang di Timur Tengah, Korea, China, Taiwan, Jepang, dan Singapura.

Produk SMK di Kudus yang mendunia

Siswa SMK NU Banat. MOJOK.CO
SMK NU Banat yakni Nadya Meydina (15) dan Fitri Amelia (15). (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Hari itu Mojok juga berkesempatan berkunjung ke SMK yang produk fashion-nya dikenal sudah mendunia: SMK NU Banat Kudus. Mojok disambut oleh Nadya Meydina (15) dan Fitri Amelia (15). 

Saat bertemu Mojok hari itu, keduanya masih duduk di kelas 10 Jurusan Busana di SMK NU Banat Kudus. Saat ini mereka sudah beranjak di kelas 11. Yang menarik dari keduanya: sedari kecil mereka tinggal di luar negeri, sebelum akhirnya memutuskan sekolah di Kudus. 

“Saya SMP-nya dulu di Sekolah Indonesia Jeddah, Arab Saudi. Jadi masih akrab dengan Bahasa Indonesia,” ujar Meydina yang lahir dari Ibu berdarah Madura itu. 

“Lalu memutuskan kembali ke Indonesia buat belajar fashion Islami. Terutama busana kain batik,” lanjutnya.

Sementara itu, Fitri yang sudah lama tinggal di Malaysia akhirnya bisa bernapas lega karena bisa kembali ke Indonesia. Ia sudah bertahun-tahun ikut orang tuanya yang bekerja di Negeri Jiran. Orang tuanya pun menyarankan agar ia melanjutkan sekolahnya di Indonesia agar tak lupa pada akarnya.

“Kalau mau sambung sekolah ke jenjang yang lebih bagus khususnya styling busana muslim, orang tua menyarankan aku harus ke Indonesia atau SMK NU Banat ini, ” kata Fitri.

Menurut Fitri, brand fashion (Zelmira) milik SMK NU Banat cukup terkenal di Malaysia. Di Indonesia, brand Zelmira rutin berpartisipasi dalam Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW), sebuah ajang bergengsi di industri mode di Indonesia.

***

Banyak yang memandang SMK swasta bukan pilihan ideal karena berbagai stigma. Namun, SMK-SMK di Kudus tersebut justru membuktikan sebaliknya: menjadi pilihan bagi banyak siswa karena menawarkan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja. Setelah lulus, mereka tidak lagi diselimuti kebingungan, melainkan disambut peluang kerja yang lebih terbuka.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: SMK di Kudus “Tak Biasa”, Jadi Tujuan Sekolah Pelajar dari NTB hingga Papua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.